Header Ads Widget

Are Longa dan Musim Hujan di Matanya



Jhon tidak pernah menyangka bahwa, saat dewasa urusan cintanya akan serumit ini. Bagi Jhon hal yang paling rumit adalah mematuhi perintah ayahnya untuk pergi mencari kemiri setiap libur akhir semester. Masalahnya Jhon tidak menyukai medan yang curam dan lereng gunung yang harus ia taklukkan untuk sampai ke perkebunan kemiri, orang-orang kampung menyebutnya dengan kampung lama.


Menurut cerita turun temurun nenek moyang Jhon dulu tinggal di Kampung Lama, sebuah tempat di atas gunung. Mereka membangun rumah dan menanam berbagai jenis tanaman, kemiri, pisang, kelapa, dan berbagai jenis bambu. Mereka mematuhi segala larangan untuk tidak memotong bambu di dekat mata air, atau menarik tanaman melata di sana, juga melewati tempat-tempat yang ditabukan sebab hujan dan angin akan datang sebagai badai, naga akan keluar dan batu-batu besar akan dimuntahkan. 


Setiap kali musim hujan datang orang-orang kampung yang tidak kenal istilah siklon tropis atau apapun fenomena cuaca lainnya percaya bahwa hujan dan angin adalah murkah yang dikirim dari gunung; mungkin saja seorang telah melanggar pemali, menarik tanaman melata di dekat mata air suci. Pehang Boli satu-satunya orang tua yang menjadi pawangnya. Lelaki itu telah berumur lanjut, setiap hari mengelilingi kampung dengan sepotong tongkat kayu dan mencari bayam liar yang tumbuh di pinggir jalan atau tempat-tempat sampah.


"Pehang Boli obi roko," teriak anak-anak setiap kali melihat lelaki tua itu. Ia dianggap gila oleh anak-anak. Hal seperti ini mungkin tidak akan terjadi apabila dari kecil orang tua mereka tidak memperkenalkan Pehang Boli sebagai orang dengan gangguan jiwa yang akan menggendong anak kecil apabila mendengar mereka menangis. Anak-anak itu besar dengan pikiran bahwa, Pehang Boli adalah orang gila di kampung yang suka menculik anak-anak yang menangis dengan kekuatan gaib. Mereka pun akan lari atau bersembunyi jika melihat Pehang Boli. 


Pehang Boli tinggal bersama anak perempuannya yang ditinggal pergi suaminya ke Malaysia. Saban hari perempuan itu dibawa lari lalu dihamili, lalu ditinggalkan lagi. Ena namanya, perempuan itu memiliki tiga orang anak laki-laki, ia mengolah tanah milik ayahnya dan memilih kemiri ayahnya di gunung untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Hidup sudah susah payah begitu, susah lagi dibicarakan orang kampung. 


Suatu hari di musim hujan Jhon duduk dekat ibunya yang sedang meniti jagung, tangannya mengambil emping jagung dan memasukkan ke dalam mulutnya. Hujan di luar tidak tahu redah semenjak pagi. Emping jagung yang sengaja dibuat tidak pipi itu akan dicampur dengan emping kacang merah lalu dimasak, ibu bilang di musim hujan baik untuk makan makanan seperti itu. 


Bara api memanaskan tembikar, dua tiga biji jangung diangkat dengan tangan kosong dari dalam tembikar. Anak batu dan ibu batu beradu, suara itu bertarung dengan bunyi hujan di luar. Tiada bunyi guntur di langit, hanya suara air di kerongkongan batu, Lipa, ibu Jhon menggerutu pelan.

"Kapan hujan berhenti?"

"Bukannya ibu senang kalau hujan begini saya tidak dapat bermain di luar sampai lupa sudah malam"

"Bukan begitu, ibu takut jika banjir itu datang lagi."

"Banjir?"

"Ya, waktu itu usiamu dua tahun ibu menggendongmu ke luar dan lari di jam seperti ini. Untung setelah lewat dari kali material dari gunung itu baru turun."

Ibu menarik nafas panjang, dan melanjutkan.

"Tetapi tidak apa-apa Jhon, coba engkau rasa air hujan yang jatuh dari atap itu jika tidak terasa asin kita akan baik-baik saja?"

"Memang jika banjir harus begitu? Bukankah yang kita nonton di televisi airnya meluap dari kali dan mengisi rumah-rumah sampai penuh."

"Itu banjir orang-orang kota. Dulu air hujan menjadi asin dan air menetes dari kuda-kuda atap, dari kayu-kayu palang rumah, dari dinding, semua mengeluarkan air."

"Tetapi itukan dulu, ibu. Guruku memberitahu untuk jangan takut atau cemas. Percayakan saja bencana pada BMKG, sebelum ada peringatan berarti aman."

"Ya, seharusnya begitu sayangnya siapa yang tahu rencana Tuhan."

Tidak ada suara, diam-diam Jhon pergi dan menadah air hujan yang jatuh dari atap ilalang dapurnya dan merasakannya. Ia menarik nafas dan dan berbisik pelan seolah-olah agar ibunya tidak mendengar, "aman.".


 Jhon kecil paling benci jika harus pergi ke Kampung lama, meskipun sedikit terhibur dengan bentangan alam di hadapannya ketika ia mencapai sebuah batu besar di kampung lama. Dari situ Jhon dapat melihat lautan yang luas dan gunung-gunung membentang, atap-atap rumah dan puncak kubah masjid dan menara gereja. Mimpi kecilnya untuk mengarungi lautan di depan dan mencapai negara-negara di dunia yang dijelaskan guru sekolah dasarnya bertumbuh dari situ. 


Beni Leu adalah lelaki tua yang menghabiskan hidupnya di atas gunung. Kebunnya bersebelahan dengan kebun kemiri ayah Jhon. Beni tidak pernah terlihat batang hidungnya oleh Jhon, hanya suaranya yang terdengar ketika mengumandangkan syair seperti orang bermain Tandak. Jhon kecil selalu menahan dada setiap kali melewati rumah Beni Leu, segerombolan anjing akan lari ke pintu pagar damar dan menggonggong sejadi-jadinya. Kadang Jhon mengumpulkan segala kekuatan dan mencoba melihat ke dalam rumah, hanya kakatua putih dan burung beo berayun di dekat pintu rumah. 

"Mengapa Beni tidak pernah turun gunung?" Tanya Jhon suatu ketika melintas di situ.

"Beni menjaga gunung agar tidak ada seorang pun yang datang merusak." Hanya seperti itu yang selalu dijawab ayah Jhon setiap kali ditanya.


                                      ***

Jhon tumbuh menjadi seorang ana' abe yang cerdas. Desember, musim hujan 2013 ia duduk di dekat tungku ibunya seperti biasa. Angin dan hujan bertarung di luar. Badai telah datang. Gemuruh angin dari gunung lalu lalang, ranting pohon jambu di depan rumah menggaruk-garuk atap. 

"Jhon," suara ibunya menyusup di antara dingin. 

"Ya, mama," 

"Setelah tamat engkau ke Sandominggo saja."

"Ah, mama."

"Tidak apa-apa pendidikan di seminari bagus untukmu," kata Lipa meyakinkan anaknya. Jhon yang sedang  dalam masa akil balik itu bangkit dan meninggalkan ibunya.

 

Jhon pernah membaca Alkitab dan ia ingat bahwa Maria selalu menyimpan perkaranya dalam hati, atau setidaknya tidak meng-upload ke semua akun media sosialnya.  karenanya ia bertekad untuk tidak mengatakan rencana ke seminari kepada Longa, teman sekolahnya yang membuat ia keringat dingin ketika mengungkapkan perasaan cintanya. Mata Longa serupa hitam jembulan di samping sekolah menengah pertama, selalu menggiurkan; demikian Jhon mengibaratkan perempuan itu. 


Hujan angin itu berlangsung seminggu, setelah Pehang Boli si lelaki tua yang bongkok itu pergi ke kampung lama. Kata orang-orang kampung, lelaki itu harus naik ke atas pohon lontar yang sangat tinggi, mengambil daunnya dan menganyam kipas di atas pohon lontar. Pehang Boli lalu memakan jahe dan menyemburkannya ke segala penjuru mata angin, ia juga mengipas dari atas pohon lontar dan membaca mantra penangkal badai. Lelaki tua itu akan tetap pergi meskipun anak perempuannya melarang sebab usianya yang sudah semakin lanjut dan fisiknya yang melemah. Tetapi lelaki tua itu akan pergi diam-diam menyusup dalam hujan dan angin. 


Hujan angin itu setidaknya membantu Jhon mempersiapkan diri menghadapi Longa untuk memutuskan hubungan mereka. Di bawah pohon asam ada bale bambu, anak-anak sekolah sibuk melakukan pembersihan. Angin kencang disertai hujan kemarin meninggalkan dedaunan dan patahan ranting. Jhon menatap dari jauh Longa dengan tas merah di pundaknya. Perempuan itu tampak berbinar di bawah langit sehabis hujan. Jhon tertegun, ia ingat wajah Longa suatu siang pulang sekolah. Gadis dengan noda merah di rok pramukanya, merona malu. Longa datang bulan, dengan modal pengetahuan reproduksi dari guru biologinya di semester lalu. Anak-anak gadis di sekolah menengah suka berkumpul dan membicarakan noda merah di rok mereka, tetapi bicaranya diam-diam, jika ada lelaki yang tidak sengaja melintas mampus dia diusir. Kadang Longa pulang dan bertanya-tanya jika setiap perempuan memiliki noda merah di rok mereka, ibunya juga, guru fisikanya juga, ibu Mina penjual kue juga, mengapa mereka harus ketakutan setiap kali menemukan noda merah di rok sekolah.


Bunyi Lonceng menahan niat Jhon. Begitu terus Jhon dan rahasia Sandominggonya terlipat rapi. Sampai malam ketika ia naik bus dan meninggalkan kampung halaman dan cerita-ceritanya. Meninggalkan kebun kemiri ayahnya, Leu Beni dan anjing-anjing peliharaannya, Pehang Boli dan mantra-mantra, ibu dan tungkunya, juga Longa dan noda merah di roknya. Ia akan sangat merindukan musim hujan di mata perempuan itu. 

                                       ***

"Kalian tidak bisa menikah sebab hukumnya adalah 'tope' wade tawi tale'," kepala suku menasihati sepasang manusia di hadapannya. Abdulah nama kepala suku itu. Ia sangat disegani di seluruh gunung, menyebut namanya siapa yang tidak kenal, orang-orang tahu Abdullah sang penjual gong. Banyak orang yang menjual gong di kaki bukit itu. Tetapi entah mengapa gong yang dijual Abdullah yang selalu menjadi pilihan terakhir. Perkara gong bukan perkara biasa, kualitasnya ada pada bunyinya dan hanya bisa ditakar oleh telinga para kepala-kepala suku.  Abdulah sudah lanjut usianya, hidup dengan kedua istrinya dan cucu mereka. Konon Abdullah memiliki tiga istri, yang satu lari sebab tidak tahan dengan perlakuan istri pertama kepadanya.  Abdulah tidak pernah berhenti merokok, ia tetap merokok meskipun sedang batuk. 

"Adakah jalan lain untuk kami bersama?" Sang lelaki membuka suara.

"Tidak ada hanya itu pilihannya. Longa tidak dapat bertemu orangtuanya."

Sunyi, segala perasaan menjadi hujan angin di kepala mereka. Seorang anak kecil merangkak dan memanggil perempuan itu, "mama." Perempuan itu meraih anak itu ke dalam pelukannya, matanya berkaca-kaca. Ia gendong bayinya dan keluar dari "rumah besar". Hujan turun dengan deras,tidak lama matahari sudah kembali, pelangi menancap di kaki gunung. 


Keesokan harinya Longa bangun dari tidur. Matahari sudah mencuri masuk lewat fentilasi. Tidak baik seorang perempuan yang bersuami bangun ketika matahari sudah terbit, demikian nasihat lama yang akrab ditelinganya. Tetapi Longa sadar bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan dia. Semalam suntuk ia terjaga karena anaknya demam tinggi, ia baru bisa tidur ketika bunyi bedug subuh berkumandang. Lelaki yang semalam memeluknya menyambut hangat di pintu dapur, dadanya bergetar. Longa bukan lagi ABG tetapi cinta selalu menjatuhkan embun di belah dadanya. 


Tidak semua perempuan seberuntung Longa mendapatkan lelaki yang mencintai dengan sepenuh hati. Tidak pernah memarahi waktu bangunannya yang kadang kesiangan sebab harus bangun dan menyusui tengah malam. Lelaki itu selalu ada dalam masa-masa sulit mereka menghadapi kehamilan di luar nikah. Lelaki yang membuatnya berani keluar rumah dan belajar mengakrabi negeri Jiran yang asing, meskipun akhirnya ia menyadari bahwa pilihannya yang kurang matang itu telah melemparkan ia pada permasalahan-permasalahan baru. 


"Pehang Boli meninggal," kata Lipa di muka pintu. Lonceng gereja ditabukan 12 kali. Orang-orang berlarian menuju rumah kecil di bawah jalan. Maka mulai desas desus tentang hujan kemarin dan pelangi di kaki bukit sebagai tanda kematian Pehang Boli. Orang-orang kampung percaya bahwa alam selalu berbicara pada mereka setiap saat.


Menjelang waktu penguburan orang-orang datang mengunjungi rumah duka, dari berbagai garis keturunan, dari ikatan-ikatan darah yang menjadikan mereka satu nafas. Leu Beni juga hadir. Untuk kali pertama dalam hidup Jhon melihat wajah lelaki itu. Wajah yang sangat artistik, di kerut muka itu terlihat serupa pohon-pohon besar di gunung, akar-akar tanaman melingkari pergelangan tangannya. Jhon lihat ayahnya menyalami Leu Beni lalu menunjuk padanya. Lelaki itu mendekati Jhon dan memukul pundaknya dengan senyum sumringah. 

"Jhon kau sudah besar, ayah bilang sudah punya anak dan istri. Saya pikir kau sudah sekolah Romo seperti cerita ayahmu."

"Dipanggil Tuhan untuk jadi ayah saja", Jhon tertawa, Leu Beni pun tertawa geleng-geleng.  

"Di mana istrimu?"

"Di sana" Jhon menunjuk pada perempuan di ujung ",medang"

"Dari kampung sebelah," Jhon melanjutkan dengan raut wajah turun. Ada beban dalam jiwanya menyebutkan itu.

"Tidak apa-apa, biarlah itu menjadi urusan kami orang tua dan nenek moyangmu." Leu Beni memukul pundak Jhon dan meninggalkan ia. Ada kuncup mekar separu di dada Jhon mendengar pernyataan itu. 


Pehang Boli telah tiada. gerimis sore mengantar kepergiannya. Belakangan Jhon tahu bahwa garis darah Pehang Boli ditakdirkan untuk menjadi pawang hujan dan angin kencang akibat melanggar pemali di gunung. Lalu siapa lagi selanjutnya? Tidak tahu, semua anak-anak laki-lakinya ke Malaysia tidak pulang-pulang. Hanya Ena, anak perempuannya yang bersama dia. Leluhur Pehang Boli dan Leu Beni bersaudara, Leluhur Pehang Bolilah yang turun gunung dan diberi kuasa untuk merendahkan hujan dan angin kencang. Sedangkan leluhur Leu Beni harus tetap menetap di kampung lama menjaganya. Sementara ayahku? Leluhur ayahku adalah saudari perempuan leluhur mereka yang hamil dan memilih hidup sendiri demi menjaga martabatnya.


Seminggu setelah kematian Pehang Boli, untuk pertama kalinya Jhon mengajak istrinya ke kampung lama. Mereka jalan pagi-pagi sekali. Embun masih awet di atas ilalang. Mereka melewati kali dan  melintas kebun kelapa. Sesekali memasuki hutan bambu. Jhon menatap perempuan yang berjalan di depannya. Ia membayangkan tubuh itu serupa bocah kecil yang lincah berloncatan dikawal ayahnya dari belakang. Sekarang ia sudah menjadi seorang ayah, memegang parang dan berjalan di belakang istrinya persis seperti yang dilakukan ayahnya.  Longa gadis di bawah pohon asam yang ketakutan dengan noda merah pada roknya sudah menjadi seorang perempuan yang seolah tidak ada cacatnya, memeluknya saat malam dan berjalan bersamanya pula menjunjung matahari. 


Sesekali Longa mengusap keringat yang gugur dari keningnya. Andai saja dua tahun lalu ia tidak memaksa ibunya untuk pulang libur ia tidak berada di tempat ini sekarang, tetapi apa boleh dikata takdir memang suka tarik ulur.  Longa berada pada semester akhir dua tahun lalu ketika kembali dipertemukan dengan Jhon di halaman gereja sesuai perayaan paskah. Jhon tidak mengerti mengapa ia pun dengan begitu mudah mencium perempuan itu dan membawanya ke kamar. Jhon tahu itu salah, ayahnya tidak pernah mengajarkan ia begitu, ia tahu ia memiliki seorang ibu yang juga perempuan, ia memiliki saudari yang sedang bertumbuh mencari jati diri. Tetapi begitulah kerinduan dan nafas yang kemarau, telah menghadiahkan seorang bayi laki-laki kepadanya. 


Tibalah mereka di batu besar tempat orang-orang berhenti sebentar dan mengistirahatkan tubuh yang lelah dalam perjalanan.

"Indah," kata Longa sembari merentangkan tangan dan menarik nafasnya. Cahaya matahari dan keringat yang menyatu di wajahnya membuat pagi menjadi begitu seksi di mata Jhon. 

"Dulu dari tempat ini aku bermimpi menginjak seluruh dunia, itulah mengapa aku diam-diam meninggalkanmu dan memenuhi permintaan mama untuk mempersiapkan diri dipanggil menjadi misionaris." Jhon menatap jauh ke hamparan alam di depannya.

"Hasilnya sampai ke Malaysia," Longa menimpal dengan tawa. Mereka tertawa, menertawakan masa-masa tersulit yang telah mereka taklukkan. Ya, Jhon percaya semua belum terlambat ia membawa lari Longa meskipun perempuan itu akhirnya diambil pulang keluarganya. Ia lari ke Malaysia, seperti seorang pecundang cinta. 

"Saya tidak tahu sampai kapan saya berhenti tergila-gila padamu." Jhon mengungkapkan isi hatinya. Longa merona di bawah bayang-bayang pohon jeruk. 


Seekor anjing Leu Beni menggonggong dari balik pagar, tidak lama kemudian lelaki dengan gelang akar itu muncul di pintu pagar. Ia memanggil sepasang manusia itu. Untuk pertama kalinya Jhon masuk rumah Leu Beni, ia pegang kuat tangan istrinya. Leu Beni mempunyai satu wetu' tuak kelapa yang di ganttungan. Lelaki itu mengambil tempurung dan menuangkannya untuk Jhon dan istinya.

"Tidak pahit, ini manis."

Jhon meneguknya lalu seolah memberi kode kepada Longa bahwa betul minuman itu tidak pahit tetapi sangat manis.

"Saya sudah dengar banyak dari ayahmu Jhon tentang istrimu ini," Leu Beni terlihat begitu serius. Lalu ia melanjutkan.

"Itu sudah lama sekali. Dulu ini adalah perkampungan nenek moyang kita. Namun persoalan tanah membuat mereka harus berperang. Leluhur kita menyerang leluhur Longa, akibatnya leluhur mereka datang dan membakar perkampungan leluhur kita. Itulah mengapa tempat ini dinamakan "Kampung Terbakar". Untuk menemui jalan damai leluhur kita bermain Tandak, sayangnya Tandak itu hanya menjadi Medan saling melantunkan kutukan. Sampai di sini saya pikir kalian berdua mengerti."

"Jhon, tuangkan dan minum lagi. Ini untuk kalian berdua, anakku."


Tiga hari setelah pertemuan bersama Leu Beni di kampung lama, Raimundus malaikat kecil Jhon dan Longa demam tinggi.

"Kira-kira apa yang mesti kami lakukan?" Tanya Jhon kepada molan yang diminta untuk menyembuhkan anak mereka. Leleki tua yang tidak berhenti mengunyah siri pinang itu, menarik Jhon dan membicarakan sesuatu hal yang begitu serius. Jhon kembali dan memberitahu Longa bahwa dua hari lagi lelaki tua itu kembali. Malamnya anak itu semakin panas tinggi, ada bintik merah dan kulitnya melepuh serupa dibakar. Longa mentap anak itu penuh kasihan, sebelum jam tiga subuh dan tangis pecah. Hujan turun begitu deras.

"Seharusnya engkau tidak menjadi korban atas dosa ayah dan ibumu." Jhon berteriak begitu keras mengutuk dirinya, suara itu tertelan kembali ke dalam kebisuan jiwanya, alhasil Jhon memukul tembok dihadapannya.  Anak itu tersenyum dalam tidur panjangnya.

                                        ***

Catatan:

Ana' abe: laki-laki

Pehang Boli obi roko: Pehang Boli belakang bungkuk

Tope' wade' tawi tale  'Putus tali potong tali belanda': ungkapan yang bermakna putusnya hubungan darah dan kekeluargaan; seorang tidak lagi dianggap memiliki hubungan darah lagi dengan sekelompok orang atau orang tertentu.

Wetu': wadah dari bambu untuk mengisi air atau nira dari pohon kelapa, siwalang.

Molan: dukun

_____________

Ati D. Perempuan yang mencintaimu dalam huruf-huruf paling sakit sekalipun.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Keren sekali reu, mengambil tema dan larar belakang budaya kita... Terus mengeksplorasi kekayaan budaya supaya generasi ke depan tidak lupa dan buta... Semangat terus reu 🙏🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya reu. Tanggung jawab moril te sebagai murun Edang ne. Amen, semoga ling manga ma tulis kara tope'.
      Salam🌹🙏

      Hapus
  2. Ana' Abe, are' dan wetu',,,,,, tiga kata itu dalam cerpen tdk ada tanda apostrof....

    Cerpen enak

    BalasHapus