Foto: Flora, Odila, Tasya, dan Cinta; gadis kecil penenun selendang dari SDK Waiwejak, Lembata, NTT.
Nafas Kapas
Dari hilir syair puisiku mengembara di mata Dulir
Atakore, segala hormat bergelora
Atadei, mimpiku menyetubuhimu lebih panas dari gas alam
Lebih mencemaskan dari sepasang mata luku yang menatap layar ponsel
Bertarung mimpi bersama jaringan
Lembata, dari batu-batu jalan Waiwejak-Lewoleba
Tunas-tunas kapas mengais nafas
Telah tumbuh ranting peradaban
Adat dimahar dalam lentik jari
Menjelma lel
Dalam pusaran keduk
Di selatan Lembata
Puisi ini ritual akal merawat adat
Mengawet peradaban
Seribu mahar siap bertaru
Atas tunas yang menolak meranggas
Di hempas zaman
Luku, Di mata kakimu kerikil dan kesesakan jalan kampung berdamai
Rindu berlari pulang memintal syair
Di ujung jemari yang meramu kapas
Segala cinta akan abadi
Dalam sepotong selendang
Meminang Waktu
Ama, jangan dulu kau robek kwatek emaku
Sebelum purnama ranum di pucuk lontar
Lalu siri pinang mengetuk pintu rumah ayahku
Bila tiba waktu meminang
Seputih kapur merestu kita menjadi satu
Hingga berdarah-darah
Dalam mulut juga hati
Sampai pada hari itu
Ketika tempurung tuak dari ayahku tumpah di atas bibirmu
Aku siap mabuk untukmu
Ama, bukan karena aku terlalu tabu
Memoles selangkangan di kepalaku
Atau terlalu kolot untuk sebuah orasi kebebasan
Bukan juga urusan kemerdekaan yang ambigu di atas tubuhku
Bukan karena aku terlalu bodoh
Memahami pelajaran reproduksi dari guru sekolahku
Atau takut pada ajaran agama tentang perzinahan
Bukan, Ama.
Bukan.
Aku hanya ingin pulang pada pilihan
Tak perlu kau anggap aku dibelit adat
Demikianlah cintaku kepadamu
Adalah peleburan masa lampau dan kini
Di rahimku kupastikan
Sejarah baru akan dimulai
Bukan Eropa atau Amerika
Bukan juga Hindia dan Pasifik
Tetapi dari tanah ibu yang dibunuh
Suatu hari di Desember, ia ragu-ragu menulis dalam bola matanya. Cinta seperti tahun baru yang dinanti dengan cemas sementara ia belum berkemas dari luka lama yang belum mengering.
Tetapi lebih dari itu ia tahu, rindu itu aroma kemangi juga perasan jeruk dari tungku seorang perempuan tua.
Ia mengeja pelan pertemua demi pertemuan, sudah lama sekali mimpi membawa berlari.
Di depan pohon natal tanpa kerlap-kerlip lampu ia mati sunyi sendiri.
Natal kali ini lebih bisu dari cinta yang dipendam dalam-dalam.
Di depan TV itu tokoh agama bersenggama, lebih ramai dari nyanyian Gloria.
Penfui, 15 Desember 2020
Catatan:Luku :sapaan perempuanAma : sapaan laki-laki dalam bahasa LamaholotLel : kapas yang sudah dibersihkanKeduk : alat memintal kapas menjadi benang
0 Komentar