Dingin membalut tubuh, tak ada lampu jalan di tempat itu, hanya samar-samar nyala bola lampu dari rumah penduduk di dekat jalan itu, cahayanya jatuh menerpa dahan-dahan jambu dan pisang. Kampung begitu sunyi, sesunyi tai ayam yang jatuh dengan patuh dari pohon mangga tanpa mengusik tidur pemiliknya.
Leto menggeser layar androidnya, tampak cemas dan kantuk bergelayut manja di kelopak matanya. Seperti orang kampung lainnya perempuan itu menunggu bus subuh untuk pergi ke ibu kota kabupaten. Tidak lama menunggu, terdengar bunyi klakson dari kejauhan, ia memeluk ibunya dan mencium perempuan dengan uban rambut yang semakin banyak bertabur di kepalanya. Bus berhenti, tak perlu ditanya semua orang di kaki bukit itu tahu. Leto duduk di dekat jendela bagian tengah, berdesak-desakan dengan seorang ibu berbadan besar, yang tertidur.
Lima jam biasa perjalanannya, melintas jalan yang sedang diperbaiki, melewati kampung demi kampung dan kebun penduduk. 21 tahun kabupaten kecil itu menyatakan diri berdiri di atas kaki sendiri. Ia sedang tumbuh bagai anak muda yang berusaha menunjukan diri dengan segala potensinya, di balik jalan berkelok dan aspal berlubang yang menjadi saksi jalan panjang kemajuan dan kesejahteraan penghuninya.
Matahari mulai menampakan diri, ketika bus itu melintas kelokan baja. Telepon perempuan itu berdering, ia tahu lelaki itu akan meneleponnya setiap kali bangun tidur. Ia tersenyum kecil dan mematikannya, lalu mengirim pesan singkat sebagai gantinya,
"selamat pagi sayang, aku dalam perjalanan panjang menyetubuhi Lembata. Kamu tahu, matahari baru muncul dari balik bukit, dan embun di jalanan sebasa rindu. Semoga harimu baik, aku mencintaimu."
Sungguh mencintai seorang penyair memang kejam, batu dan kayu semua disulap jadi kata-kata. Dan seperti biasa lelaki manis Flores Timur itu hanya tersenyum seperti habis diguyur siraman rohani.
Dari jendela bus, Ile Lewotolok, nampak cerah. Lautan di depan tenang, angin pagi menyelinap masuk, bus bergerak meninggalkan hutan jati dan kelapa pinggir pantai. Aroma ikan teri di pinggir jalan menusuk hidung, nelayan di sini menjadikannya sebagai sumber rupiah, entah sejauh mana perhatian pemerintah, mereka memilih mencintai laut dan kehidupan yang keras dengan tabah. Tokoh-tokoh kecil di pinggir jalan mulai dibuka. Ibu kota kecamatan memang sedikit berbeda dengan desa-desa lain, secara penampakkan fisik.
Tempat ini telah menjadi bagian dari litani panjang rakyat Lembata. Momen yang menjadi api pembakar sebuah jalan baru, di tahun 1954 tepatnya tanggal 7 Maret. tercetusnya Statemen 7 Maret 1954 oleh parah Toko Pejuang Otonomi Lembata hingga puncak perjuangannya pada tanggal 04 April 1999 dengan disyahkan Undang-undang Nomor 52 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Lembata dan pengeresmiannya pada tanggal 12 Oktober 1999.
45 tahun, musim ini seperti mendaki puncak Uyelewun, menuruni lereng Ile Ape, menaklukan Labalekan, menangkap Batu Tara, dan menapaki Ile Werun. 1954 Leto bisa menebak usia ayahnya waktu itu setahun, ia pasti lelaki yang merepotkan ibunya, merengek menyusui dan berlepoton noda hitam dari kulit pisang bakar. Selama 45 tahun itu ia tumbuh menjadi seorang siswa sekolah dasar, menulis dengan batu tulis, mengakrabi ranting asam dari gurunya sebab ia tak berhasil menyanyikan lagu Indonesia raya di depan kelas.
Tahun-tahun perjuangan itu ia ingat cerita ayahnya sebagai lelaki kampung yang menuruni gunung menuju sumber mata air, jatuh cinta pada ibunya dan belajar mencintai perempuan itu juga Flores Timur kabupatenya.
Bagaimana juga pulau kecil yang di sebut Lomblen, nama warisan Belanda itu menjadi begitu sedekat nadi. Sampai mereka menikah dan memiliki anak-anak, menyimpan ketakutan atas perseteruan paji dan Demong. Sampai 1999, perempuan itu menghela nafasnya, melemparkan pandangan ke luar jendela, dan menangkap hamparan bukit dan ladang jagung. Ia mengaitkan tahun itu, usianya empat tahun, bukan seorang anak paud atau TK, hanya anak singkong yang mengejar belalang di kebun sebelum akhirnya tempat itu kini menjadi gedung puskesmas setengah jadi. Ia sering baca di dinding-dinding media sosial, pertanyaan-pertanyaan anggaran, yang berakhir dengan samar-samar dan tidak ada sumbangsi pikiran yang kritis mengupas kasus. Hama hena.
45 tahun jalan panjang berkelok serupa baja, berlubang dan berdebu bagai wajah lain Lembata kini. 7 Maret 1999, ketika ia main masak-masak dengan tempurung dan tanah, tak ada robot atau boneka, kalau pun ada itu pasti milik orang kampung yang baru pulang dari negert Jiran. Pada masa yang indah itu keluarlah “ Pernyataan / Memorandum 7 Maret 1999" yang juga dikenal dengan : Memorendum 99. Teks itu Diketik rapih oleh Drs. ST. Atawolo dan ditandatangani atas nama seluruh rakyat Lembata oleh 49 orang dari unsur Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Toko Agama, Pemuda dan Wanita. Perwakilan dari 7 Kecamatan se-Lembata masing – masing Kecamatan 7 orang pada tanggal 7 Maret 1999 dengan di ketahui Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata, Drs. ST. Atawolo. Sayangnya ia baru tahu itu setelah besar menjadi mahasiswa, meski informasi yang di dapatkan hanya dari google. Ia bahagia hidup dalam kelimpahan informasi sekaligus menyesalinya, sebab hal-hal luar biasa ini tidak pernah ia dapatkan di sekolah dahulu. Ia lebih sering dihadapkan dengan teks-teks tentang Jawa, Jakarta dan Kemacetannya atau banjir.
Ada satu bagian yang begitu dekat melekat, menggiang dalam kepalanya, Sambutan sang Ketua Partai Masyumi cabang Kedang. Kalimat-kalimat yang didapat itu begitu meraung, memecah sekat, mengikat toleransi “Kita harus menghormati-menghormati, menghargai-menghargai, menghormati hidup bersaudara dalam damai untuk diwariskan kepada anak cucu kita, gernerasi penerus kita. Kita tidak mewariskan perpecahan dan kekacauan karena Injil dan Al Quran mengajar kita saling berhubungan dan hidup bersaudara antarsesama sebagia anak Tuhan." Inilah tekat kerukunan, kerukunan yang ia saksikan ketika melihat cara orang-orang di pulau itu berbondong menuju tempat pesta, atau ketika mereka mengait jari dalam dolo.
Bus memasuki terminal, di seberang kiri rumah sakit umum berdiri megah. Satu ambulance menggaung keluar, siapa yang telah pergi sepagi itu? Tetapi catatan kematian adalah goresan hitam di balik elok pantai dan hamparan gunung di pulau itu, beberapa orang telah pergi, meninggalkan map hitam di laci meja polisi dan jaksa, darah pembunuhan itu adalah coretan kelam hukum di tanah itu. Tetapi orang-orang di pulau itu menyakini, darah yang tumpah akan tumbuh menemui penebusan bersama waktu.
Di terminal perempuan itu membisu, menikmati keributan kecil petugas dan sopir, lalu mengirim pesan singkat untuk kekasihnya begini :
"Di terminal, orang-orang merayakan pertemuan dan perpisahan dalam bisu. Aku pikir tak ada yang berubah semenjak 7 tahun meninggalkan tempat ini, selain ia semakin menakutkan di halaman-halaman media. Engkau tahu, rumah sakit tempat perhentian terakhir ayahmu, semakin megah, aku hanya berharap segala yang berada di dalam tak membuat nyawa di ujung administrasi. Maafkan seharusnya aku menulis puisi cinta dari dahan Reo yang patah di ujung jalan itu. Tetapi jujur, cintaku kepada tanah ini masih sama seperti cintaku padamu. Aku pikir aku menyesal, melewati pendidikan di tanah ini tanpa disentuh jalan panjang tanah ini, dari seribu kisah sejarah, sebut saja maja pahit dan Sriwijaya, sayangnya aku lupa melewati jalan panjang nenek moyangku."
Mungkin banyak yang tidak tahu. lalu apakah layak menyalahkan sekolah? Atau kurikulum yang menyapu bersih tanpa memandang latar belakang sejarah, budaya, dan geografis sebuah tanah. ia menjatuhkan pandangannya tepat pada anak-anak muda yang turun dari trek, apa peduli juga mereka mengetahui ini. Hari luar biasa itu rupanya agak buram di antara berita korupsi proyek Awololong dan panasnya angka gaji Bupati, sedang kabupaten itu kini dicatat sebagai kabupaten tertinggal.
Tanggal yang luar biasa itu akhirnya diabadikan dalam lambang kabupaten dengan Tujuh buah lidah api berwarna merah melambangkan tujuh (7) hari lahirnya statemen 7 Maret 1954 dan lambang semangat yang berkobar dalam sanubari setiap warga masyarakat Lembata di mana pun berada untuk senantiasa berjuang memajukan lewotana Lembata. Tujuh buah lidah api juga melambangkan tekat rakyat Lembata untuk melepaskan diri dari tujuh (7) ketergantungan yaitu : kemiskinan, kemelaratan, kebodohan, kemalasan, keterisolasian, kesewenangan dan keterbelakangan
Membalik ingatannya, ia diguyur tanda tanya, apa kabar tujuh ketergantungan itu? Tak perlu dijawab ia memandang penjul sayur dan jagung titih, ia menatap rumah-rumah dan anak-anak pesisir yang berlari tanpa baju, ekor matanya membelai tukang ojek di ujung jalan, ia ingat buruh pelabuhan, dan kampung terpencil tanpa akses jalan dan listrik.
Bulan yang luar biasa itu adalah Tiga tungkuh pada puncak tuguh. Sedang tahun istimewa itu dilukiskan sebagai Lima puncak gelombang atas dan empat puncak gelombang bawah dengan warna putih yang berarti tahun 1954 ( tahun cetusnya statemen 7 Maret 1954 ).
1999 tahun penebus segala jalan salib itu ditulis dengan gagah, 7 Maret setelah 45 tahun. dengan 12 (dua belas butir padi melambangkan tanggal 12 (dua belas), dan 10 (sepuluh kuntum kapas melambangkan bulan 10 (sepuluh), puncak segala penantian, otonomi dirangkul, kekal, dan sakral.
Rumah itu cukup sepi ketika ia berjalan memasuki pekarangan. Pintu depan terbuka, tetapi tak terlihat manusia. Leto meletakkan tasnya di bale bambu di bawah pohon nangka. Ia berjalan mengamati isi kolam kecil di samping rumah itu, hanya beberapa lele yang tampak. Ia berdiri dan mendekati alat tenun di teras rumah itu. Iparnya seorang Luku, gadis manis dari tanah Atadei. Perempuan yang dipanggil Siska itu lihai merajut benang menjadi kain, ia begitu menawan ketika jari-jarinya bermain-main dengan benang. Terakhir Leto melihat ia menenun tujuh tahun lalu semasa menjadi siswa SMA
Daun-daun nangka berguguran, Leto memilih mengeluarkan buku, angin cukup sejuk, membelai pelan rambutnya yang dikucir. "Suara Samudera" ia lahap lagi, novel hasil tangan Maria Matildis Banda itu berbicara tentang Lamalera, negeri seribu paus. Tanah kelahiran Goris Keraf. Nama yang luar biasa itu seharusnya mendapat tempat, tidak berlebihan, sebut saja sebagai nama jalan di ibu kota kabupaten yang tak pernah ditemukan satu papan penunjuk nama jalan. Selain Maria, ada Fince Bata Ona, sang anak daerah yang merangkai anak-anak katanya menjadi "Lamafa" buku kecil itu adalah serupa tanggung jawab morilnya kepada tanah ibu. Leto ingat betul ketika masih SMA dan tinggal di kota kecil ini, ia sering menyaksikan perempuan-perempuan Lamalera dengan kaki telanjang berjalan menjual daging paus. Sekeras samudera hidup dibendung di cawan mata mereka. Dengan tegap melangkah menangkap nasib.
Ia ingat ketika membaca "Lembata" karya F. Rahardi, dan betapa malunya ia, sebab orang Jawa itu berhasil membongkar keadaan di tanah itu, buku itu tak lain ikut mempertanyakan peran gereja di tengah keterbelakangan dan kemiskinan di tanah itu. Kamu juga bisa mengencani, "Cintaku di Lembata" karya Sari Narulita, sebuah perjalanan wisata dan cinta yang memaparkan pesona tempat itu. Betapa Leto menyadari tanah itu sungguh berharga di tangan para sastrawan.
***
Laut di depan mata perempuan itu menenggelamkan segala kecemasannya, kini ia berdiri di atas kapal feri, membela laut meninggalkan tatapan yang terjebak di antara ilalang Bukit Cinta, tempat yang indah menyaksikan senja sambil membacakan sepotong puisi untuk kekasih yang didekap gunung dan tanjung.
Ia tulis segala gundah dan doa yang bergelombang di dada, ini dari beta untuk Lembata:
"Ina
45 tahun api melahap jiwa petarung
Bukan untuk kursi atau uang
Semata untuk berdiri sendiri sebagai pemenang
1999 doa dikandung
Musim bergulir dalam cerita Tempuling
Suara samudera dan riak gelombang
Senja kini jalang
Parang Ama sunyi di jalan pulang
7 Maret melipat perkara
Satu hati meletak sejarah
Lembata...
Lembar baru dibuka
Tertatih mendaki tangga
Terseret urusan laut
Terhempas nafas di bibir pantai
Dan anak-anak gunung api
Taan tou
Soga naran tanah Lembata
Ina
Maafkan surgamu yang mulai robek
Tapi sumpahku pada
Susumu yang kami teguk
Hingga darah menikam tanah
Puisiku setia meneguk tuak
Menyodor wua wayak
Kupang, 07 Maret 2021
0 Komentar