Header Ads Widget

Yang Hilang di Kupang


Mencambuk Ombak

Luka memar seonggok siri pinang
Laut jadi gigil memanggil Ringgit
Potongan-potongan penindasan digigit

Riak ombak mencabik ibu
Tubuh pasir berlumpur memar 
Hembus kabar di lembar koran
Negeri seberang memasung
Sedang harap selayang pandang
Dari bayang-bayang bibir di layar kaca
Satu nyawa telah melayang
Diterbang pulang 
Tanpa karang bunga
Atas jasa menambah devisa

Dikepung kabung
Menggores bekas kelewang
Pada tubuh nona manis
Yang dirayu sang calo 
Digiring ke ranjang-ranjang 
Menebus kemiskinan

Separuh ingat menolak hanyut
Kala bekas sayat membalut mayat
Nona menjahit kematian
Dari kekalahan demi kekalahan pemerintah
Tanah ibu rimbun duka
Diguyur peti mati

Orang-Orang di Kupang

Ado mama e...
Satu senja yang jalang
Beta termenung di Ketapang
Nona turun bemo deng paha terpampang
Kaka nyong otak selangkang
Buang pandang
Kas runtuh batu karang

Di jalan Eltari
Seorang Timor Leste
Menenteng tas dan sejarah masa lalu
Melambai-lambai dari kariting rambut

Entah kenapa orang di sini suka beli Aqua
Dari air yang melimpah ruah
Entah kenapa dong buang rupiah
Hanya untuk satu kali pasang status
Lu sonde keren kalau sonde sentuh ilalang bukit cinta
Lu sonde gaul kalau sonde bergumul dalam selimut

Di kota ini mama
Rumput melata macam rakyat jelata
Di kaki-kaki gedung yang usang
Anak-anak kecil memikul sampah plastik
Dan mimpi yang menumpuk di kening
Keliling simpang jual jagung
Pulang murung 
Lihat orang-orang lebih senang 
Beli pisang goreng
Dari mas-mas samping warung padang

Beta kasih tahu kawan
Kupang sonde kenal lu pung luka
Juga lu pung laki atau bini

Hanya ada satu yang beta senang
Jatuh macan hujan keberuntungan
Di kota ini katong basayang 
Sonde pake tanya isi kantong
Jaoh datang dari kampung
Sadar diri sama-sama besar dari singkong


Perahu Terakhir

Di tepian itu 
Mataku basah dalam badai
Memeluk ombak 
Dan segala pemberontakkan

Telah kuseberang beberapa pulau
Tak juga sampai meneduh angin
Telah kubuang mata kail 
Terperangkap hanya hampa 

Hingga datang kau 
Karam di dadaku
Kuyakini matamu yang melaut
Hadirkan rindu seganas maut

Kupang, 26 Februari 2021





Posting Komentar

2 Komentar