Header Ads Widget

Mama-Mama dari Kedang

    Foto: dok. Pribadi

Mama Leto

Duka dia pukul dengan senang
Berdarah-darah macam siri pinang
Dau wela bunu wata
Sebar senyum sembunyi susah
Diam-diam kumpul sabar
Seka keringat
Ingat ringgit gigit mati suami

"Ero' Tuang Ala Hura wala"
Teriak hati melepas sesak
Sendiri berdiri di kaki Uyelewun
Telan sindir peluk tegar
Mama Leto, luka kering ilalang Kedang



Mama Peni

Azan magrib sahabat karib
Teriak dari ujung lorong
Panggil pulang ana Lalang
"Kau lihat tidak malam su datang"

Kunya siri pinang 
timang nasihat ebe muda are baran
Hidup ganas macam ombak Bean
Jangan sampai ikut arus nanti kau hanyut
Cinta macam simpang Leuwehe
Kerja kebun piara babi baru kawin



Mama Bota

Pagi-pagi kasih bangun matahari
Tidak mau kalah dengan kokok ayam
Asap mengepul
Rupiah dikumpul
Ayun kuat-kuat anak batu
Lepas kena ibu batu
Cinta basah dalam kering jagung titih

Kalau pagi lepas
Lepas pergi juga buah hati
Dari bibir bukit ikat kuat petuah adat
Seragam jangan sampe lupa asap tungku
Ubi dengan pisang yang sudah kasih besar

Buang pandang jauh Tamal Eleng
Tikar lontar dan nyiru tahan haru
Tangan lentur luntur waris
Ganti plastik dengan kertas

Dada gersang diserang cemas
Lepas nafas
Buang kata
"Eh, anak kau punya zaman sudah berbeda ternyata. Pikul kayu atau pikul gengsi, tebar sensasi lupa eksistensi. Mama bisa apa tidak punya facebook buat pantau kau di rantau."

Kupang, 25 November 2020


*Catatan
Dau wela bunu wata: naik gunung turun pantai
Ero' Tuang Ala Hura wala: Aduh Tuhan Allah Pencipta
Ana: anak
Ebe muda are baran: pemuda pemudi

Nama-nama dalam puisi ini hanya fiktif













Posting Komentar

0 Komentar