Tuhan, di dadaku mengepul sesak,
Asap dan azab mengerjab bimbang.
Anak kecil bernyanyi Bapa Kami yang ada di gedung pemerintahan, datanglah.
Lihatlah sudah basah jiwa juga badan direndam dingin.
Tenda kuning kuburan hening, tempat harap bergentayang.
Hujan turun sore tadi, belerang berenang di lubang hidung. Kidung bingung meraung dan menggonggong.
Salam Maria.
Mendayung angin di jalanan cemas.
Lembata, doa meletus di dalam kotak.
Lahar memahar simpang jalan.
Amen ditimbun di ujung bibir.
Kasihanilah kami ya tuan,
Kasilah dengan belas kasih
Tumpah
Bila sudah waktunya, segala akan tumpah, pengkhianatan juga amarah. Tidak ada yang lebih kuat dari pura-pura kuat, berkutat dalam kolam larah hingga tubuh Bermandi darah.
Aku menatapmu dengan dua wajah, antara hati yang sepakat tetap merekat dan kepala yang menolak dalam sekat sakit. Tapi seperti semula semua akan tumpah. Engkau dengan lugu mengaku sampai detak jantungku kaku. Dan aku mencintai kejujuranmu.
Siapakah perempuan hingga layak engkau bertanya, "beritahu aku bagaiamana bisa memikirkan jerit hatinya."
"Siapa dia?" Engkau membantah lagi.
Dengan merangkak aku betulkan kainku, sudah setengah telanjang diriku, dan aku tidak peduli. Begitu bodoh dan tolol demikianlah engkau dan siapa pun melihatnya. Kubisikan ini sekali lagi padamu, pelan-pelan saja, tetapi semoga sampai, "siapakah engkau hingga seenaknya memaksa mekar kembang lalu merontokkannya?"
Kutarik paksa kakiku yang semakin pincang, mengalirkan kecup demi kecup.
"Tuhan," teriakku membela gunung-gunung tubuhku, memantul rusuk-rusukku. Pata-patalah saja kau yang telah menjadikan aku tulang dan daging milikmu.
Kupang, 02 Desember 2020
0 Komentar