"Eh, burung sialan." Umpatnya pelan, jangan-jangan penghuni kamar kos sebela mendengar. Tetapi ada yang menarik ketika tangannya tanpa aba-aba menyentuh kemaluan itu, ia teringat entah di mana ia perna membaca, bahwa seharusnya agama itu seperti kemaluan, tidak perlu dipamer, apa lagi memaksa orang lain untuk memeluknya.
Selain Lusia ada seorang perempuan lain yang sangat membuatnya menderita, ia suka menari di bola matanya, juga menambah saldo penyesalan di dadanya, belum berguna juga ia sementara sudah semakin uban perempuan itu. Ditarik lagi selimut lebih rapat, diusir bayangan itu lalu dipanggil pulang kembali Lusia. Ia lelap, sebelum dalam nama Bapa menyentuh dahi.
Di luar hujan rintik-rintik ketika ia sedang meringkuk di dada seorang perempuan, seperti bayi mungil yang merengek susu ia bergelayut dari satu puting ke puting yang lain. Dari lantai dua kamar kos cukup jelas terlihat butir-butir air itu berebutan tempat di atap. Awan hitam berkaca di ujung tatap dan angin mengantar petualangan lebih jauh, melewati rawa dan sungai, menuruni lembah dan menaiki gunung. Hingga malam mengetuk dan dering telepon menyusup masuk telinga, ia bangun dan mendapati celananya basah.
"Safio," Suara itu lebih menggetarkan dari klimaks yang mencuri mimpinya.
"Ema."
"Ko tidak pulang natal?"
"Tidak."
***
Kalau bukan telepon itu mungkin ia tidak duduk sendiri dan menertawai waktu.
Natal anak rantau seperti biasa, menulis ucapan di beranda maya sambil menyimpan rindu kuat-kuat. Tahan-tahan pasti bale kalau mimpi su tergapai.
Sudah lama, ia membayangkan ketika Siska, perempuan yang dipanggil ema itu menggandeng tangan kecilnya memasuki gereja. Di belakang Fransiskus, lelaki berkumis yang mewariskan kromosom Y kepadanya berjalan mengikuti. Fransiskus seorang guru yang keras. Tidak jarang dihajarnya Safio hingga menangis-nangis, lalu seorang lagi yang dipanggil kakak akan bilang kepadanya, "Safio, laki-laki tidak boleh menangis." Lalu ketika ia besar ia tahu dan mengutuki kalimat itu. Sungguh air mata bukan sejatinya kejantanan. Ia menangis kini.
Kandang natal mencuri jalan lain, tidak mewah hanya sederhana, lampu kelap-kelip yang dililitkan di bunga tali Belanda, bukan main gatalnya tanaman itu. Tunas muda pisang ikut mewarnai, di bawahnya lilin-lilin kecil berlomba mencair. Fransiskus menyalahkan lilin, di dalam gereja di malam Natal ia seperti Yusuf yang begitu tabah. Ia manis dan Safio selalu merasa seperti bayi kecil Yesus yang hadir dalam keluarga Kudus Nasaret.
Natal yang indah, mereka kembali ke gereja di bawah kaki bukit itu, mencium asin laut dan batu-batu pantai, juga debur ombak dan nyanyian Gloria. Sebelum lagu penutup dan tepuk tangan, orang-orang berjalan keluar, berjabat tangan di tenda-tenda, dan mengucap salam di setiap kunyahan siri pinang.
Fransiskus cukup terkenal, sekali pun ia bukan penduduk asli, penerimaan dan penghargaan telah menjadikan ia seperti hidup di tanahnya sendiri. Begitulah seorang guru dihargai di kampung waktu itu. Waktu itu. Dari rumah ke rumah, dicicip sedikit jagung titih dan tuak.
Safio hanyalah anak kecil yang mengekor di belakang. Bila orang tuanya duduk dan merayakan natal Tuhan dalam satu tempurung tuak, ia makan sedikit roti bakar dari tuan rumah atau nasi siram kua babi sambil bermain bersama anak-anak guru yang lain.
Seperti Maria memikul bayi Yesus didampingi Yusuf, mereka berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, tidak seperti tuan rumah dalam cerita Injil itu, mereka mendapatkan tempat sampai harus menolaknya. Kalau saja dulu Yesus lahir di bawah kaki bukit itu. Mungkin bukan di kandang tetapi di ebang.
***
Ia tersenyum sebentar. Natal seperti apa yang dirayakan Fransiskus di surga. Sudah lama lelaki yang dipanggil bapa itu pergi. Apakah ia minum tuak dengan teman-teman gurunya, atau membeli biskuat untuk jajan di dalam gereja.
Lalu, Fransiska? Janda itu mungkin merayakan natal dalam sunyi yang telah mengukuhkan ia menjadi perempuan kuat sepanjang hayat. Atau mungkin ia akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa untuk putra bungsunya yang nakal. Semoga ia baik-baik di rantau, memeluk mimpi dan kesuksesan bukan perempuan dan seks. Ia mungkin akan menangis juga mengingat natal mereka dulu-dulu sebelum Fransiskus menutup mata disaksikan anaknya.
Lalu anak itu ia sedang mengutuk jarak, waktu, dan kenangan.
"Ema, sa rindu mo pulang."
Kupang, 23 Desember 2020
2 Komentar
Sy kuat di agama ibarat kemaluan
BalasHapusMantaplah
Hhh siap bos, saya lupa di mana bacanya🙏
Hapus