Membayangkan Laut di Matamu
Aku seperti biasa datang ke tepi pantai ini sebagai seorang perempuan yang haus akan aroma asin laut dan angin yang menerpa rambut ikal kekuningan anak-anak pesisir. Lima tahun yang lalu engkau datang ke sini sebagai seorang lelaki Lamaholot yang begitu tergila-gila pada mata perempuan yang menyala cinta di ujung tembok. Suatu hari aku tahu tentang ini dengan perasaan baik-baik saja, tidak apa-apa semua orang berutang budi atas kedewasaan yang diajarkan mantan-mantan mereka.
"Tidak enak hidup di kota dengan tembok-tembok dan rindu yang mencabik," katamu suatu malam.
"Ya, tetapi kampung pun sama saja sekarang," aku membantah, seperti biasa.
"Tidak, sekali-kali engkau harus ke Larantuka. Engkau masih ingat suara ombak malam ketika aku meneleponmu kemarin? Teduh seperti dadamu."
"Ah, lelaki."
Kita tertawa kecil. Kupang tidak baik untuk orang yang kangen, apa lagi seorang mahasiswa dengan modal dua ribu rupiah cukup untuk menyewa satu kali dijepret fotografer di satu sudut Kota Lama.
Percakapan-percakapan itu seperti musim gugur yang lalu-lalang. Kota bermetamorfosis dari hari ke hari dengan tingkat kecemasan yang berbanding lurus waktu. Sejak kapan aku menyukai laut, aku pun tidak tahu sama seperti sejak kapan aku mencandui suaramu yang menenggelamkan hati dan kepalaku.
Hari ini aku kembali ke sini, entah apa yang membawa aku tidak tahu. Sebuah perahu nelayan dipermainkan ombak. Aku lihat ujung atap dan tembok-tembok tua menjahit cerita diam-diam. Bunyi klakson dan suara Konjak jadi harmoni sendiri di bawah bayang-bayang matahari dan kibaran merah putih di ujung menara. Saat-saat seperti ini yang ada di Kupang hanya sebuah keinginan untuk pulang dan menyanyikan lagu "Flobamora Manise" sambil membayangkan Kupang dalam kenangan.
Engkau pun sering membayangkan itu. Kita akan melintasi jembatan Petuk saat senja dan berhenti untuk menonton cahaya lampu dari sana. Entah ini impian tentang kita atau ingatanmu tentang kota ini dari cerita lalumu. Tetapi aku selalu bahagia dengan cita-cita sederhanamu memeluk aku di sebuah ketinggian dan menonton aku menulis puisi di tepi pantai.
"Nona," sebuah suara menyapa Lembut.
"Ya," aku balas dengan senyum terbaik dari ketir hati.
"Bagus di sini."
"Ya, bagus."
"Sudah lama di Kupang"
"Tidak, baru lima tahun".
Lelaki itu tidak menjawab lagi hanya mengangguk dan membuang senyum ke lautan. Kopi yang dipesan datang, aroma jagung bakar dan asap ikut bertengkar.
"Minum, kaka"
"Suka kopi? Orang Flores, ya?'
"Hehe, ya."
"Flores di mana?"
"Saya Lembata."
"Oh, yang tangkap paus itu."
Aku hanya tersenyum lebar dan meneguk kembali kopi.
"Saya pernah beberapa kali ke Lembata."
"Oh, ya. Di mana saja?"
'ke Lamalera, ke Mingar, dan Kedang."
"Ke Kedang juga?"
"Ya, sebuah sensasi tersendiri menyaksikan bentangan Nuhanere dari pucuk Baja. Bagus laut-laut di sana."
"Ya, orang-orangnya juga," dengan spontan aku menimpali.
Kami tertawa seperti sudah bersama begitu lama. Ia memesan pisang bakar. Kami menikmati laut dengan masing-masing pikiran di dalamnya.
Betul bahwa laut-laut di sana memang bagus, orang-orang hidup dari laut, dan kepercayaan terhadap laut begitu kuat. Itulah mengapa di berita-berita sering didengar, orang-orang Lembata suka bertengkar dengan pemerintah mereka atas nama laut. Laut yang hendak di sulap jadi destinasi wisata dan masyarakat yang mati-matian mempertahankannya.
"Laut akan hidup kalau pemalinya tetap hidup", kata ayah suatu hari kami pergi mengambil air laut untuk mengawetkan asam sebelum menimbangnya untuk mendapatkan beberapa lembar uang.
"Lalu ada laut yang mati?" Kepolosan masa kecil meloncat dari bibirku.
"Sudah, yang perlu kamu tahu adalah jangan bermain ke arah timur sana, atau mengambil apa-apa di laut kecuali yang diberikan untuk kita makan." Kata ayah sambil memandikan kuda. Aku berlarian di atas pasir putih dan memilih beberapa botol plastik yang dihanyutkan arus ke tepian dan terperangkap di bibir pantai, mungkin dari beberapa kapal barang yang melintas di situ.
Aku tidak paham sampai suatu hari aku mengerti mengapa laut dan pantai memiliki banyak Pemali. Sampai pada cerita para putri laut yang turun ke darat untuk mandi di sumur kecil dekat beringin dan kebun kelapa di dekat gubuk kecil di kebun. Sampai suatu hari ketika aku menjadi seorang dari antara orang-orang kota ini yang kering ilmu, sebuah buku yang aku pinjam dari seorang teman kuliah berdarah Atoin Meto membawa aku pada pemahaman berapa penting mitos-mitos itu untuk masa depan bumi sepuluh tahun ke depan.
Lelaki itu kembali mengalihkan kepalaku ketika melontarkan pertanyaan,
"Mau jadi apa kalau sudah pulang ke Lembata?"
Aku tersentak, kaget dengan pertanyaan itu. Seperti menelan air laut, aku batuk-batuk sendiri dalam hati. Bukan apa-apa, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang menghabiskan malam dengan huruf-huruf dan halaman-halaman tugas akhir pertanyaan itu bahkan hampir tidak ada lagi di benak, berbeda seperti awal menginjak kaki di dermaga Bolok.
"Jadi petani saja, ke kebun, makan minum lalu tidur."
"Asal jangan jadi tukang demo. Orang-orang Lembata suka demo. Tetapi mereka bagus di tahun kemarin bisa menunjukkan kemampuan berdemo mereka di Jakarta."
"Hehe, ya."
"Jalan di Lembata sepertinya butuh demo"
Dia tertawa, saya ikut tertawa. Matahari hilang dalam ampas kopi sisa senyum mengombak dalam dada.
Kupang setengah tujuh ketika lelaki yang mengaku dari tanah Ofak Langga itu meninggalkan bangku kayu dan tenda kecil di pinggir pantai itu. Ia menyodorkan nomor ponselnya sambil sumringah mengharapkan pertemuan ke dua.
Kupang setengah tujuh dua tahun kemudian, hari ini aku melintas di sini lagi dan membayangkan wajah lelaki dan senyum lelaki Rote itu. Tidak sama, ketika turun dari bemo lampu 2 dan mencuri pandang ke laut, hanyan tiang-tiang lampu dan cerita presiden turun kemarin. Seperti seorang putus asa aku putuskan berjalan kaki sendiri menyusuri emperan-emperan tokoh. Kota tidak baik, aku ingat percakapan kita. Aku lari ke laut dan mematung di atas batu karang, Kupang dengan lampu yang bertabur dan panas yang menyusui kepala. Satu botol cococola dingin habis dalam sekejap.
Debur ombak dan malam serupa KM. Ile Ape yang mengantar rindu pulang kampung. Sudah setahun pulang kampung. Bayangan masa kecil berlarian di kepala. Sesekali bersama ombak memecah dada. Dulu karena laut aku rela mendaki gunung dan menuruni lereng, melintas hutan jati dan Padang rumput hanya untuk menemukan laut. Kebun kami cukup jauh, satu-satunya tempat liburan paling membanggakan ketika SD sebab dekat dengan laut. Jika malam hari di tepi pantai akan tampak kerlap lampu dari tower pulau di seberang, ayah bilang, "itu Baranusa." Laut seperti musik sendiri, kami tidur malam di bawah gubuk dengan telinga yang akrab debur ombak juga berjaga-jaga jangan-jangan ada suara rusa terperangkap jerat di pinggir kebun. Beberapa kali rusa dan babi hutan masuk kebun dan memakan sebagian jagung. Ayah tahu betul membaca jejak kaki mereka lalu ia mulai memasang jerat di sudut kebun yang sering dilewati binatang-binatang itu.
Suatu malam di bulan Januari, aku ingat betul. Ayah melompat turun dari tempat tidur dan menarik tombak di bawa maka*,.kami kaget.
"Ada suara anak rusa kena jerat." Ayah hanya berkata demikian lalu berlari ke sudut kebun, kami ke luar dan berdiri di pintu gubuk. Bulan sudah naik di ujung pohon asam, suara burung malam sesekali menyambar. Bunyi daun jagung mengantar ayah pulang. Senter di kepala ia turunkan.
"Tidak ada."
Ayah hanya berkata demikian dan menyalakan api di depan rumah, kami tidak bisa tidur lagi. Suara nyamuk menggiang di telinga, api dikipas hingga asap mengepul di bawah bayang bulan. Keesokan harinya seoraang datang dan memberitahu bahwa, seorang sepupu kami telah meninggal di perantauan. Ayah hanya menunduk dan berguman pelan,
"Semalam itu pasti dia."
Tidak ada yang aneh, seketika semua percaya begitu saja. Dunia orang hidup dan mati hanya terpisah sekat yang abstrak. Alam sebagai perantara komunikasi antara ke duanya. Begitulah ketika aku mengingat kampung dan segala yang hidup di sana. Ketika aku merindukan masa kecil dan menjadi seorang bocah merdeka yang tidak tahu patah hati selain menikmati terik dengan ribuan imajinasi menjadi orang besar. Tidak paham negara dan segala perkaranya. Tidak tahu mengapa ayah harus ke kantor desa dan membayar pajak atau ibu memberikan bea di pasar.
Malam dan asin laut seperti dua anak manusia yang kasmaran. Laut lagi. Aku mengayaman setiap kenangan tentang engkau. Percakapan kita tentang negara dan asmara. Teleponmu yang ke sepuluh mengagetkan pelayaran panjangku.
"Halo"
"Di mana?'
"Laut."
"Hati-hati, cepat pulang rumah."
Aku tahu bahwa mungkin hanya seperti itu dan begitu saja. Dermagamu bukan lagi aku, jika pun kita tertawa dan aku pura-pura tidak tahu apa-apa tentang hati seorang perempuan yang kuhormati atas cintaku pada kaumku, hati yang menjadi samudera di antara kita. Malam ini tidak ada puisi, hanya doa semoga laut membawamu pulang kalau tidak pada jantungku setidaknya pada rahim ibumu yang kemarau rindu. Dan aku mungkin menebus semua utang budiku padamu atas pendewasaan ini.
Kupang, April 2022

2 Komentar
Keren ...
BalasHapusTerima kasih sudah membaca ini. Yang baca keren😍🌹
Hapus