Header Ads Widget

Weta'


Weta'

Pan o kole, kelen bale
Upe' alu' balo botin
Lapa'  lekar, nein heker
Ino tawe lika li'.a matan
Kelen mardeka rupa waya pa'.ar 


Loyo bohor, a'.ang dape tamal eleng ubu
Amo pene peda', peri,' daten tiwa
Mate bitan tara ata di'.en


Bale, waka' musing nawang
Loyo hedung ote wau dulang
Wei maya', au' turi
Angin keteng watar ain
Ule kete' utan lolon
Au ne'.i bote kapung, iring babu


Bale, Weta'
Ere e'a miteng, ling metung
Tepi Ilin Au Oli
Bora amo ne'e bako kilo' Wido mutung
Bale, heung ebel rupa napa, buka polur-polur
Mero tubar namo wetu', me manga-manga
Mau ling, kiha' au' moleng-moleng, 
Namo ebe are' hamang alang aya'


*Terjemahan

Rumah

Ke mana pun engkau pergi, ingatlah pulang
Alu dan lesung yang mengobati perutmu
Ibu batu yang bergetar menguatkan nafas
Perempuan yang tertawa mengangkangi tungku
Mengingat merdeka yang menyerupai daun tua pepaya


Matahari terbit, embun merayap di pucuk Tamal Eleng
Laki-laki menggenggam parang, memotong buang keburukan
Hiduplah menjadi manusia yang manusia


Pulang, biar musim membunuh
Matahari hedung di atas kening
Air dan tanah mengering
Angin mematahkan batang-batang jagung
Ulat menghabisi daun-daun kacang
Tanah akan tetap melindungimu dalam pelukannya


Pulanglah pada rumah 
Jika malam dan kehampaan
Lihatlah dari jauh Ilin Au Oli
Lihatlah api dari rokok koli ayah di ujung atap
Pulang, jahitlah lidah serupa tikar
Piaralah kepala serupa wetu, bawa baik-baik
Berpijaklah dengan lembut pada tanah serupa kaki laki dan perempuan di medan hamang

Catatan:
Wetu: wadah untuk mengisi tuak yang terbuat dari bambu.
Hamang: tarian serupa dolo-dolo dari Kedang


 Sebuah Alasan

Angin gunung mengibarkan rambut ikalmu
Dahan masih dicumbui embun
Hatimu batu-batu jalan
Dengan lumpur yang ditinggalkan hujan 
Matamu kebun jagung yang disikat kawanan babi hutan
Matahari bertengger di sana, di ilalang alismu
Jalan yang licin serta tanjakan menjulang di kepalamu 
Engkau menjunjung sokal dan tumpukan kayu
Juga alasan ema tidak menyekolahkanmu


Lautan di Seberang

Ombak malam dan rindu mengamuk dalam dadamu
Hujan di kaca jendela yang merembes ke jantungku
Dingin menyusup dalam nafas kita
Mulutmu berapi-api 
Sementara aku meringkuk dalam bara suaramu


Aroma ilalang dan dahan kampung merayap di bibirmu
Nyamuk mencuri pipimu
"Kau dengar ombak?" 
Sunyi, hanya detak jantungku
Cinta berdebur di sana


Aku tertidur dalam orasi panjangmu
Di setiap perdebatan kita yang mirip jalan rusak
Diskusi rasa yang jauh dari sejuk air kali di jalan ke kampungmu
Kota berdesakan di gelap kamar
Yang terakhir kudengar hanya bisikmu
Biarlah begini, bila pembangunan hanya merampas hijau pucuk hidungmu 
Mematahkan edelweis dari celah dadamu
Dan mengisap habis madu di payudaramu


Kupang, Januari 2022.



Ati D. Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun.





Posting Komentar

0 Komentar