Weta'
Upe' alu' balo botin
Lapa' lekar, nein heker
Ino tawe lika li'.a matan
Kelen mardeka rupa waya pa'.ar
Loyo bohor, a'.ang dape tamal eleng ubu
Amo pene peda', peri,' daten tiwa
Amo pene peda', peri,' daten tiwa
Mate bitan tara ata di'.en
Loyo hedung ote wau dulang
Wei maya', au' turi
Angin keteng watar ain
Ule kete' utan lolon
Au ne'.i bote kapung, iring babu
Bale, Weta'
Ere e'a miteng, ling metungTepi Ilin Au Oli
Bora amo ne'e bako kilo' Wido mutung
Bale, heung ebel rupa napa, buka polur-polur
Mero tubar namo wetu', me manga-manga
Mau ling, kiha' au' moleng-moleng,
Namo ebe are' hamang alang aya'
Ke mana pun engkau pergi, ingatlah pulang*Terjemahan
Rumah
Alu dan lesung yang mengobati perutmu
Ibu batu yang bergetar menguatkan nafas
Perempuan yang tertawa mengangkangi tungku
Mengingat merdeka yang menyerupai daun tua pepaya
Laki-laki menggenggam parang, memotong buang keburukan
Hiduplah menjadi manusia yang manusia
Pulang, biar musim membunuhMatahari hedung di atas kening
Air dan tanah mengering
Angin mematahkan batang-batang jagung
Ulat menghabisi daun-daun kacang
Tanah akan tetap melindungimu dalam pelukannya
Pulanglah pada rumah Jika malam dan kehampaan
Lihatlah dari jauh Ilin Au Oli
Lihatlah api dari rokok koli ayah di ujung atap
Pulang, jahitlah lidah serupa tikar
Piaralah kepala serupa wetu, bawa baik-baik
Berpijaklah dengan lembut pada tanah serupa kaki laki dan perempuan di medan hamang
Wetu: wadah untuk mengisi tuak yang terbuat dari bambu.
Hamang: tarian serupa dolo-dolo dari Kedang
Sebuah AlasanAngin gunung mengibarkan rambut ikalmu
Dahan masih dicumbui embun
Hatimu batu-batu jalan
Dengan lumpur yang ditinggalkan hujan
Matamu kebun jagung yang disikat kawanan babi hutan
Matahari bertengger di sana, di ilalang alismu
Jalan yang licin serta tanjakan menjulang di kepalamu
Engkau menjunjung sokal dan tumpukan kayu
Juga alasan ema tidak menyekolahkanmu
Ombak malam dan rindu mengamuk dalam dadamuLautan di Seberang
Hujan di kaca jendela yang merembes ke jantungku
Dingin menyusup dalam nafas kita
Mulutmu berapi-api
Sementara aku meringkuk dalam bara suaramu
Aroma ilalang dan dahan kampung merayap di bibirmuNyamuk mencuri pipimu
"Kau dengar ombak?"
Sunyi, hanya detak jantungku
Cinta berdebur di sana
Aku tertidur dalam orasi panjangmuDi setiap perdebatan kita yang mirip jalan rusak
Diskusi rasa yang jauh dari sejuk air kali di jalan ke kampungmu
Kota berdesakan di gelap kamar
Yang terakhir kudengar hanya bisikmu
Biarlah begini, bila pembangunan hanya merampas hijau pucuk hidungmu
Mematahkan edelweis dari celah dadamu
0 Komentar