Di Pintu
Bapa Heti Kowa Lolon, aku berseru dalam kesesakan
Bulan yang engkau gantung di ranting malam
Matahari yang memecah kepala-kepala kami
Dan air yang sejuk di bawah pelipis Ama
Musim-musim yang engkau letakan di kaki kami
Ina Maria,
Dengarkan kata-kata
dan kepedihan yang membatu dalam hati kami
Berapa lama kami mencintai dalam kesia-siaan
Dalam kebohongan demi kebohongan
Alam merontah
Gunung-gunung berguncang
Lautan biru memburu jantung kami
Ke mana kami berlari?
Sungguh hati kami rindu kemurahan yang tercurah di bibir-bibir perempuan
Dan kemuliaan di parang-parang lelaki
Embun di rerumputan pagi
Masih bergetarkah hatimu untuk berdamai?Dengan waktu, dengan catatan-catatan hitam, dengan amarah dan dendam yang berdiri dalam diri.
Larantuka, 2022
Sebuah Perjalanan Bernama Cinta
Mengikis nalar
Mengejar cinta dalam belantara kata
Ada Jiwa Sibuk menjahit luka
Tak ada penawar, apalagi dupa untuk duka. Biarlah membekas, meradang!
Perjalanan cinta telah sampai pada perempatan dilema, di selimuti kabut prasangka, entah orang ketiga atau kebosanan, yang kutahu perempuan telah banyak meneguk anggur kekecawan yang dituangkan dari cawan dusta. Bibir lelaki Seperti tempayan emas diisi dengki dan kerakusan.
Akhirnya rindu menjadi debu. Dipahatnya sajak dari ilalang lapuk .
Serupa kisah pengkhianatan hujan pada dahan. Kemarau mendiami dahaga hatimu, bungkamlah sudah kata sayang, kalimat manja yang dulu menyapa.
Kau tenggelamkan duka di telaga matamu, kesedihan adalah jalan menuju kebahagian. Tidakkah kau lihat, tanah pun tak mampu berbuat apa-apa pada pucuk yang berjuang tumbuh dari embun.
Saat tandus dan akar patah menyapanya, tapi ia tetap tanah. Sampai kapanpun hati adalah hati yang terus mencari. Merdekalah rasa!
Sayang, engkau tahu dari mana cinta di dapat?Dari getar senar, gemercik air kali, siul burung, dan detak jantungmu.
Makasar, 2021.
Surat dari Perempuan ke Sekian
Aku terima suratmu malam-malam, kata-kata yang hitam dari bening matamu yang kadang menjadi samudera yang tidak dapat kuselami dengan logika. Lalu aku percaya cinta selalu membuat ilusi tak bertepi.
Engkau isyaratkan pada angin, dan daun yang gugur senja tadi saat hujan menampar sebelah dadaku yang kering rindu. Perempuan memang terlalu sentimental. Aku tahu engkau akan meledak menangkap kata ini, dan aku menyukai kerut merah di pipi bulanmu dan madu yang menggantung di bibirmu yang cemburu.
Hening gagap, kusebut namamu pelan-pelan, mengucapkannya seperti seorang dukun di hadapan batu ritus memecahkannya tumpukan dosa. Kata-kata yang engkau tabur berebutan tumbuh dalam ladang dadaku yang sering kali membiarkan rusa kecil dalam diriku yang liar berkeliaran di sana.
Kota yang pengap menyelinap masuk bersama nafas, kusadari mencintai adalah melihat ibu merayakan kehilangan yang pecah di liat langit matanya yang api.
Makasar, 2021
Yolan Tukan, penulis buku Gerimis di Kota Tua, lelaki Lamaholot yang menyukai puisi dan perempuan secantik kamu.
0 Komentar