Surat Cinta di Akhir Desember
Aku baca suratmu, kesepian yang mengakar.
"Maafkan goe, cinta macam Desember yang memar diguyur hujan dan kabar yang bilur di halaman surat. Nona, jujur kita tampung rindu, tapi fondasi te kuat, meluap kasih lenyap moe pu nama dalam gelap."
Kueja pelan dalam debar dan samar cahaya bulan.
Rindu jebol dirangkul kata-katamu
Engkau begitu manis dengan bau laut
Dan asap kayu bakar emamu
Aku cium huruf-huruf di sana
Mendapati kening lelaki Lamaholotmu
Jariku merangkak di sana
Di dadamu tembok-tembok penahan air hancur
Engkau gigit pelan ujung bibirku yang gemetar
"Ada yang pantang bagi jantungku, korupsi"
Aku menutup mata dan menghirup sisa hujan
Kutarik engkau masuk menyatu nadiku
Tanpa kata, hanya dialog bisu
"Juga memasung jantung seorang perempuan"
Perempuan yang Menggendong Maut
Kabut melebat di langit, kota bau mayat. Anjing-anjing melolong, mencabik dan menggigit tumpukan poster. Sebuah mata mengiris jantung ribuan tubuh di kota. Malam berarak meninabobokan seorang bayi yang kedinginan di bawah payudara ibunya.
Sutradara mengarahkan sang aktor di depan mulut kuburan, nisan ditancapkan, sepotong linggis berdiri menjadi saksi atas tanah dan langit. Ia mengubur dirinya sendiri di hadapan cinta dan maut yang menjemput paksa kekasih.
Panggung bagai litani para kudus, nama-nama digelorakan, anjing-anjing kota berkalung hukum yang kehausan. Di bangku penonton, hujan turun lebih deras, sebuah payung hitam patah, badai menerbangkan anjing-anjing itu, darah mengalir membasahi panggung. Seorang anak kecil menangis dalam kegelapan, menjadi petir, menabur getir, segala lenyap.
Seorang perempuan menggendong anaknya
Matanya dua buah mulut maut,
sisa senyum merayap di atas tubuh
Kabut melebat
Maut menghimpit
Pemberontakan terakhir pun hanyut
Tinggal suara menggelayut
Di besi-besi jeruji
Di kantor-kantor pemerintahan
"Beri aku Keadilan"
Sebuah Batu
Tahun-tahun semakin asing. Tanggal-tanggal mengubah, siang dan malam mengerut dipahat kening. Melati dan puring hanya bayang-bayang masa kecil di kaki gunung. Batu besar di tengah halaman kehilangan cerita, musna dalam balutan lumpur semen.
Matahari yang pesakitan merayap dan menerobos pagi, tiada siulan burung hanya bunyi musik dan getar tembok-tembok, sementara bocah kecil yang telanjang di atas batu mengecil dan hilang. Ia ingat celananya yang basah oleh kencing semalam, angin memelas menyusui kulit kusamnya yang mencuri hangat di atas batu.
Ia cium bau kencing, ia ingat betapa tidak adil anak-anak perempuan harus betul-betul menghilang ketika kecing di batu itu, sementara anak-anak lelaki itu berdirinya seenaknya saja.
Ketika rumah baru mereka berdiri, batu itu diganti dengan batu yang lain, lalu ia tidak bisa kencing, hanya anjing-anjingnya selalu datang, dan berebutan makan di atas batu itu.
Tahun-tahun gugur dan bertunas, setiap kepala desa dan lorong kampung yang terus disemen, semakin panjang, semakin menghilang, bocah kecil yang telanjang itu.
Penfui, 30 Desember 2021.
Ati D., perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun.
0 Komentar