Header Ads Widget

Kartini dan Keremang-Remangan Zaman Sekarang

 



           "Kartini" mungkin merupakan nama yang cukup familiar di tengah masyarakat. Dia seolah mendapat tempat khusus dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Jika engkau berharap akan mendapatkan jawaban mengapa ia menjadi salah satu tokoh perempuan yang memiliki hari khusus untuk dirayakan di negeri ini, engkau boleh berhenti membaca tulisan ini. 


         Mari mulai dengan sebuah penggalan syair untuk membaca Kartini lebih jauh.

Habis malam terbitlah terang,
Habis badai datanglah damai,
Habis juang sampailah menang,
Habis duka tibalah suka.

       Penggalan syair di atas dikutip Kartini dari syair yang dinyanyikan oleh seorang perempuan tua kepadanya. Penggalan syair ini dipakai Abendanon untuk memberi judul pada surat-surat Kartini "Door Duisternis tot Licht". Jika dipahami lebih dalam maka persoalan malam ke terang bukan sekedar kondisi yang dicapai dengan sangat mudah serupa tidur malam dan terkaget bangun ketika pagi. Persolan malam ke terang adalah sebuah perjalanan panjang perjuangan.   

     21 April 1879, Mayong mendapat kehormatan tamu agung; bayi yang bernama Kartini. Waktu itu ayah Kartini menjabat sebagai Asisten Wedana onder-distrik Mayong, Kabupaten Jepara. Tetapi di mana Kartini lahir? di bagian tempat tinggal selir atau istri ke sekian, sebuah rumah kecil yang dibedakan dari gedung utama, perbedaan yang menjelaskan kelainan kedudukan antara penghuninya dengan penghuni gedung utama. Bukan seorang bidan berijazah yang membantu persalinan tetapi seorang dukun beranak. Sejarah belum pernah melaporkan kepada kita tentang ibu kandung kartini. mudah sekali di[pahami mengapa demikian, karena pada masa penjajahan Belanda, dengan feodalisme pribumi yang mendukungnya, orang akan merasa segan mengemukakan wanita biasa dari kalangan rakyat jelata, mungkin juga masih buta huruf yang mempunyai satu hal yang membedakan ia dengan rakyat jelata lainnya: kecantikan dan keindahan tubuh. Kartini tumbuh dan hidup dalam pingitan, melepas masa bocahnya berusia 12,5 tahun. Menyaksikan penderitaan rakyat pribumi dan kaumnya yang dilecehkan (Pramoedya Ananta Toer, 2018).


        Kartini menjadi sosok perempuan yang dikenal sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dilansir dari kumparan.com Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada 2 Mei 1964 melalui Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964. Soekarno juga menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini sesuai dengan tanggal lahir Kartini. hari yang dirayakan sampai sekarang dengan penuh kebanggan. Tentunya bahwa tidak menutup kemungkinan ada begitu banyak perempuan di zaman penjajahan yang melawan segala bentuk ketidakadilan namun nama mereka tidak tertulis dalam buku sejarah.


        Momen peringatan Hari Kartini yang kita kenal dengan  busananya, kebaya "Kartini" perlu dipertanyakan lebih jauh, sejauh mana ingatan kita tentang Kartini dan selebihnya, apakah perempuan benar-benar merdeka? Kasus pemerkosaan diperkebunan oleh orang Belanda  yang terpelajar dan beradab masih berlanjut sampai sekarang. hampir setiap hari kita disuguhkan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual, yang tidak jarang para pelakunya adalah manusia terpelajar.


           Bagaimana menghidupkan kembali Kartini? agar ia tidak hanya terpajang di dinding sejarah sebagai potret yang berlumut. Sementara ketakutan terbesar sedang mencekam kita bahwa perempuan sekarang tengah dimanipulasi menjadi komoditi. Tantangan terbesar dalam membebaskan perempuan adalah memajukan perempuan. Hal ini sejalan dengan apa yang dituliskan Pram dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja bahwa hanya kemajuan saja yang mampu membebaskan orang dari segala bentuk penderitaan yang tidak perlu dan dari penindasan yang diterimanya dengan tawakal karena ketidaktahuannya. 


        Sprit juang Kartini adalah warisan yang mestinya terus dilanjutkan, Kartini bukan seorang perempuan yang duduk diam meyaksikan penderitaan rakyatnya. Kartini belajar dan melihat setiap segi-segi keputusan  yang terkandung dalam setiap keputusan pemerintah. Kartini memanfaatkan relasinya dengan baik untuk belajar tentang pengetahuan. Kini akses perempuan untuk memperoleh pendidikan sudah cukup terbuka, kemajuan ini patut untuk diapresiasi, namun keamanan perempuan di lingkungan-lingkungan pendidikan masih menjadi sebuah tanda tanya. 


        Banyak Kartini telah lahir di masa sekarang, namun tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan perempuan dalam lingkungan masyarakat yang sangat patriarki masih belum merdeka secara tuntas. Beberapa orang cenderung mengatakan seorang perempuan lebih rendah dari laki-laki karena memang begitulah budaya kita. Chimanda Ngozi Adichie dalam bukunya A Feminist Manifesto menuliskan bahwa, budaya tidak membentuk manusia, manusialah yang membentuk budaya. Pernyataan ini lebih lanjut dapat dilihat bahwa untuk  keadaan yang setara dapat dihadirkan ditengah masyarakat yang didominasi laki-laki. Beberapa nilai tradisional kadang menjadi penyebab utama inferioritas atau rendahnya derajat kaum wanita. Praktek-praktek kebudayaan yang telah mengalami pergeseran nilai dan makna menjadi salah satu penyebab kesalahan tafsir dalam menerapkan segala sesuatu yang disebut sebagai "warisan leluhur". 


      Marx dalam pandangannya menyebutkan bahwa wanita merupakan kelas tertindas dalam masyarakat kapitalis, tidak memiliki nilai ekonomis. Pandangan ini semakin jelas ketika disandingkan dengan fenomena sekarang di mana ketika pekerjaan-pekerjaan perempuan yang menghasilkan uang tidak dipandang sebagai sebuah prestasi, para ibu-ibu atau perempuan yang berjualan online atau melakukan pekerjaan lainnya untuk membantu perekonomian keluarga masih dipandang sebelah mata. 


                Perempuan seperti halnya laki-laki adalah manusia. Setiap perempuan menempuh jalan yang berbeda. Perlu disadari pula bahwa setiap standar kehidupan pun relatif dan karenanya tidak perlu memaksa diri menjadi baik dan berhati malaikat hanya untuk mendapatkan hak-hak sebagai perempuan. Lalu apa yang bisa diharapkan dari perempuan, mengutip Chimanda Ngozi, "semoga setiap perempuan menjadi manusia yang penuh dengan pendapat dan pendapatnya didasari oleh wawasan yang luas dan manusiawi". Kiranya apa yang disampaikan Kartini, "Habis gelap terbitlah terang" tidak menjelma "Remang-remang".

        

Posting Komentar

0 Komentar