Monika melewati jalan itu lagi, beberapa bemo memutar di taman Fontein, beberapa yang lain merayap di kaki Sonbai. Di samping jalan berdiri perpustakaan daerah, halaman luar tampak sepi, entah bagaimana nasibnya di dalam. Di segala sudut daerah begitu gencar orang-orang berbicara literasi tulis baca. Bahkan istri gubernur, dengan menyala-nyala mengatakan nasib suaminya yang tergolong mujur sebagai lelaki berintelektual dan berpengaruh itu adalah hasil dari membaca. Di kampus-kampus dosen-dosen menyuarakan literasi, mahasiswa yang menghadap harus menuntaskan satu dua halaman sebelum menyampaikan niat, walau hanya sekedar meminta satu paraf. Di desa-desa yang jauh dari ibu kota, anak-anak muda kreatif mendirikan pondok baca, memohon donasi buku di media-media sosial, dan tanpa lelah berteriak dalam status-status facebook, instagram, dan lainnya. Sekolah-sekolah bersaing menjadi terdepan bicara literasi. Sungguh gencar-gencir serupa menuntas program kelor dan stanting.
Bemo lampu dua itu belok kanan dan berhenti di halte tanpa bangku. Sebuah trotoar kecil yang merampas hak para pejalan kaki. Tembok di samping jalan itu penuh coret-coret, sebagian sudah mulai pudar oleh waktu, sebagain lagi berisi gambar kusam serupa potret kota dari masa ke masa. Pagar tembok itu memiliki pintu tua yang besinya sudah karat-karat. Sepanjang trotoar itu manusia-manusia kota menggenggam erat telepon genggam, tidak ada pemandangan yang lebih indah, selain wajah-wajah gadis manis yang naik turun bemo dengan gincu yang memudar, melempar senyum hambar atau sekedar sapa selamat kepada temanya.
Orang-orang kota berdiri dengan segala kecemasannya, memandang risih konjak yang berulang-ulang menawarkan bemo untuk ditumpang, tak jarang ada dari mereka menarik tangan siapa saja yang turun. Satu penumpang adalah harapan. Orang-orang kota betah berdiri di situ memendam kegelisaan dan menghirup bau kencing.
Seorang tak kencing hari ini, Monika menatap ke tembok itu sambil membatin. Di lantai dan cat putih yang memudar itu sudah berubah menghitam. Bahkan hujan kota yang merendam badan jalan dan tidak memanfaatkan parit yang baru dibuat semalam tak menghapus bekas kencing itu.
Kota itu sedang bermetamorfosis jadi kupu-kupu. Meski di halaman koran dan televisi masih ramai berbicara perdagangan manusia. Beberapa kasus kematian yang masih dipertanyakan, dan tanah-tanah adat yang belum mencapai kejelasan.
Sekali waktu datang seorang sopir, melihat kiri kanan dan membuka resletingnya. Air kencing itu membasahi tembok. Lelaki itu menarik kembali resleting dengan perasaan legah, ia mengucal hidungnya, aroma tuak yang bercampur amonia mengendap dalam angin. Kurang tahu burung ke berapa yang menghujani tempat itu.
Lalu datang lagi seorang lelaki tua, ia turun cepat-cepat dari bemo. Melihat kiri kanan dan menurunkan sarungnya. Tempat itu seperti toilet umum, merekam burung-burung muda dan juga tua. Sehabis melepas air itu, ia lepas pula air siri pinang di situ. Hingga bekas merah menempel di atas hitam.
Pernahkah ada seorang perempuan kencing di situ? Monika membatin. Betapa enaknya burung-burung itu, di mana saja bisa bebas lepas, sedang untuk kencing di negeri ini seorang perempuan tak bebas melakukannya. Dengan berjongkok di balik batu saja was-was apa lagi di samping jalan.
Pernah juga seorang dengan pakain Dinas melintas di tempat itu. Karena hujan ia berteduh, lalu menyelinap di samping tembok, sesat air kencing pun melebur dengan air hujan. Sial Monika membayangkan kelamin ASN itu, siang malam. Membanding-bandingkan dan mencoba mencocokkan dengan lelaki-lelaki yang menidurinya. Sebelum hujan akhirnya redah, ia menatap sekilas lelaki itu dan memutuskan sebuah kemaluan yang mirip dosennya. Seorang lelaki buncit yang memberinya nilai A di ujian kemarin, setelah main kuda-kudaan di Liliba.
Pernah Monika berpikir mengganti kelaminnya, setiap kali ia menjerit di di atas ranjang. Burung-burung itu keluar masuk seenaknya sedang ia sumur berlumpur yang pasrah didera sakit. Setiap ada yang mencebur di lubang kemaluannya, dan hatinya merontah ia ingat bagaimana keringat yang tumpah ini akan mendatangkan nilai-nilai rupiah.
Hingga sampai hari ini ketika ia menikmati suara hujan dari balik jeruji besi, dan mengingat setiap kemaluan itu, ia meramas kedua payudaranya, ia merasa seribu tangan menjalar di sekujur tubuhnya, di halte itu lelaki-lelaki kencing dan pergi. Monika menekan putingnya, ia gemetaran, dan merasa nafasnya semakin cepat, tubuhnya panas, bibirnya gemetar ia gigit dengan kuat, lelaki terakhir yang ia lihat kencing di halte itu melirik ke arahnya, matanya jatuh tepat di resleting celananya. Monika semakin gemetar ia robek celananya sebelum Koran kota menyebar namanya sebagai jalang kampus. Ia telah mencemarkan nama baik seorang profesor, sebelum ia di bawah ke jeruji besi disetubuhi seorang polisi muda.
Seorang perempuan berseragam polisi melotot ke arahnya, ketika ia tersadar, ia memeluk dirinya jangan-jangan itu seorang istri dari salah satu lelaki-lelaki itu. Ia berteriak hingga segala hilang, keyakinan juga kewarasan. Tidak ia sedang orgasme, pikiranya. Ia sedang orgasme seperti mula-mula saat ia jongkok di kloset sekolah dasar dan guru muda itu memainkan jarinya di lubang kemaluannya. Ia menangis tetapi ia dapati suara tertawanya.
Kupang, 15 Februari 2021
2 Komentar
Mantap betul
BalasHapusMakasih Molan🍻
Hapus