Bu' Laleng, Kedang, Lembata.
Foto: Facebook Adrianus Bareng
Berburu
Tungkai lelaki menapaki kaki langit
Mengintai bekas cakar babi hutan
Menerka di mana anak rusa tepat dijerat
Gunung-gunung menunduk di ekor mata
Berselancar gelora dalam darah, membara
Api memercik membakar belukar
Akar-akar pohon menjalar di urat nadi
Melata bunga hutan di ruas dada
Nafas memburu, menjerat keberanian
Lereng dan tebing dipasung di tepi kening
Bersama keringat yang menolak mengering
Detak jantung harmoni tatong melenting di hamparan ilalang
Satu siulan menjelma suara siluman
Seketika anjing-anjing pemburu menaru hormat
Seekor induk rusa dikurung derap kaki
Deruh semangat
Dan pekik perjuangan
Dentum angin mengibas telinga
Tombak dilempar
Seketika mantra sakral terkapar
Darah memercik membasai altar batu
Rona jingga menghantar langka pulang
Teriakan sahut menyahut mengggiring, menggema di pucuk-pucuk ranting
Di bawah akar beringin merekah kembang petarung
Dadaku
Tanjung menjulur
Tanah mengulur kasih dari bulir padi
Hutan bakau menghalau ratap
Jalan berbatu, berganti lumpur
Menuju pondok alang-alang
Di bawah rindang asam
Dan Sepoi angin dedaunan kesambi
Di batu-batu kokoh hidup ritus tabu
Di muara, darah jadi tumbal penyangkalan
Kesalarasan dan keselamatan tanpa mempertanyakan alasan
Ia memberi kita hanya perlu melestari
Ia menghidang, jangan kita buat hilang
Awas jangan-jangan bapak besar datang
Tergiur batu bara dan emas, mampus sudah segala ditambang tanpa ditimang
Tetapi telah dibuktikan secara turun temurun di bawah putingnya
Segala yang menetes adalah sakral
Segala membatu, meninggal jejak
Angin membelai ikal rambut
Anak kecil bersiul di bawah bidara
Mentap lekukan gunung dan bentangan ladang
Sedang sang pengembala menyeret kawanan kambing
Mengikatnya dengan cinta di bawah batang ilalang
Pelana mencatat kelana sang pujangga
Dengan kaboi legendaris
Mewaris kisah masa rantau
Lirih suara memecah hening kali
Menyambut riak air yang patah di ujung tanjung Leur
Diterkamnya matahari di depan dahi
Dalam derap langkah kuda memecah tanah
Perempuan-perempuan menjunjung air di kepala dan bola matanya
Membetulkan ikat sarung dan harapannya
Menyeret hidup di kaki-kaki bukit
Sejauh tatap lautan kehidupan bergejolak dalam teduh awan kabut musiman
Batang-batang ubi ditancap di pematang
Pucuk-pucuk labu mengikat jengkal lambung
Di dadaku anak gunung tumbuh tanpa malu
Dibacakan syair yang mengalir dari ujung puting
Seramai lantunan gong
Dan doa-doa menari hedung
Cintaku Tumbuh di Kedang
Entah mengapa tanah yang kering itu telah menjadi lahan basah hatiku.
Ino, sekali terjebak alis matamu, kudapati
Mata segeram ombak Bean. Tetapi semakin lama bersarang, kuhempaskan diri ke dalam permainan arus bibirmu, teduh, mempesona, ujung-ujung sarungmu menyelimut kabut dalam dadaku.
Di batu-batu pantai, kukubur cintaku. Begitu kuagungkan dalam sejarah pengembaraanku, menghormatinya serupa kubur putih sang kapitan.
Ia telah tumbuh, subur talas, melintas pedalaman. Pada lehermu yang menjulang batang kemiri, setiap doaku berpulang memulung masa depan.
Lekuk baja siap kuhadang, sekali pahit mengenang, serupa menerjang kembali sepak terjang sejarah di Balauring.
Kalau sudah tumbuh begini jangan seenak badai, datang lalu patah. Lalu kau biarkan aku mengelus dada dalam takdir.
Biarkan nanti kuketuk pintu ayahmu
Atau tak sudi, maka kubawa berlari saja.
Betapa siang malam kubayangkan
Kau berdiri di depan pintu dengan tenun garuda
Tersenyum malu-malu, antara haru dan diburu pedih
Aku masuk menjemputmu melangkah ke depan altar
Orang-orang mencintai kita berbondong-bondong menjunjung dulang
Ah, betapa bahagianya dua insan menjadi satu.
Hanya kalau sudah tumbuh begini
Biarlah ia mekar
Berbuah dalam rahimmu
Kupang, 06 Februari 2020
0 Komentar