Rosa, membetulkan ikatan sarungnya, dikumpulkan segala kekuatan di antara lengannya. dengan aba-aba dalam hati, satu ikat kayu diangkat dan diletakkan tepat di atas kepalanya, beralaskan daun pisang. Sementara gerimis betah berlarian di bawah langit. lumpur di jalan masih tabah mencatat setiap kaki yang menolak takluk, sebab area kampung tengah perlu disuplai ubi dan jagung. Hujan dan angin jadi makanan musiman bagi penduduk di kaki Uyelewun. Sama seperti tahun ini, bahkan lebih ganas dalam pengakuan mereka.
Perempuan itu, ditinggal pergi suaminya ke negeri Jiran 7 tahun lalu. Lelaki yang membuatnya rela lari dari rumah ibunya tenga malam dan pergi ke rumah Pius itu tidak ada kabar juga sampai sekarang.
Ketika angin gunung mesra mengecup keningnya, Rosa terpeleset dalam kali yang menghanyutkanya ke masa lalu. Ia ingat benar bagaimana ia jatuh cinta kepada Pius, ketika lelaki itu menawarkan dirimembawa karung pakaiannya.
Kemarau 7 tahun lalu adalah kering yang basah dalam rindu, mungkin demikian jika Rosa menulisnya dalam puisi, atau ketika karung itu berpindah dari kepalaku ke bahumu, Pius dadaku seperti sungai yang berdesir. Ia ingat benar, bagaiamana senja itu, di atas bukit, di jalan kecil yang berkelok di tengah hamparan ilalang. Barisan gunung memanjang dan memutar, setiap lekukannya air laut terlihat samar-samar. Ladang-ladang kering membentang di setiap lereng, serta hutan jati yang meranggas di lembah-lembah. Anak-anak kuda berloncatan, serta suara kambing mengembik di pinggir-pinggir jalan.
Hari itu Minggu, seperti biasa sehabis mendengarkan khotbah guru agama tua yang pincang itu berbicara tentang Perempuan Samaria. Rosa dan gadis kampung berjalan menuju sungai kecil yang jauh dari pemukiman. Perempuan-perempuan kampung ini terlahir dengan tungkai kaki sekokoh kuda, menjunjung karung pakain kotor, membela gunung dan mencincang keringat yang rimbun di bawah matahari. Memasuki kebun kelapa dan pisang, disambut dahan-dahan siri yang melilit di batang rita dan pohon-pohon besar. Mata air kecil itu menjadi tujuan membersihkan pakaian dan mandi bagi orang-orang pedalaman yang kesulitan air.
Rosa, adalah gadis manis dengan pinggul besar dan pantat yang seksi. Gadis sepertinya seharusnya adalah seorang mahasiswa, tetapi demikianlah sudah seperti kutukan atas dirinya terlahir sebagai perempuan. Tetapi bukan berarti tidak ada perempuan kampung yang sekolah, sebut saja seperti Maria anak guru agama tua itu.
Sebenarnya Beni bapaknya tidak terlalu mempersoalkan dirinya sebagai perempuan yang nantinya juga akan kembali ke dapur, sama seperti kata tetangga-tetangga mereka ketika meyakinkan bahwa dengan tidak menyekolahkan Rosa, Beni sudah mengambil keputusan yang tepat. Bayangkan, bayangkan anak itu akan menjadi seorang pegawai negeri sipil, dan di ambil orang. Menjadi PNS adalah jabatan termasyur dan tersohor bagi orang kampung, selain menjadi salah satu anggota dewan di gedung Peten Ina seperti bapak Laus. Anak itu siap disuplai rupiah ke rekeningnya setiap bulan, anak itu akan menjadi manusia setelah diurus dengan susah paya lalu ia dibawa pergi seorang laki-laki menjadi miliknya, betapa ruginya segala pengorbanan. Sudah biasa ucapan-ucapan seperti ini menjadi siraman kemiskinan di kampung.
Demikian juga ibunya tidak mempersoalkan kalau anaknya itu harus sekolah, "tunggu kakakmu yang laki-laki itu habis kuliah, jadi manusia baru urus kau." Dan Rosa muda yang ranum itu hanya terdiam, ia tahu bagaimana susah payanya kedua orang tua itu mendapatkan uang, ia tahu diri, ia dengar nasihat omnya, perempuan harus mengalah, urus yang laki-laki dulu mereka yang mewarisi suku. Siapa lagi kalau bukan Rosa yang penurut dan patuh, sama seperti ia patuh kepada Pius melepaskan bajunya dan ditiduri lelaki itu.
Selepas budi baik yang ditawarkan Pius untuk memikul pakaian Rosa menuju kampung, dua anak manusia ini jatuh cinta seperti habis minum tuak. Itu mungkin liburan bagi Pius yang paling berkesan, Mahasiswa hukum Undana itu seperti kejatuhan bulan di sebuah senja dengan hamparan sabana dengan riak angin yang merdu dan melodi awan yang nikmat. Rosa memang bukan Farida anak Maumere yang selalu mentraktir dirinya di warung kopi progam studi. ia juga bukan Merlin teman aktivis perempuan dari Larantuka yang mengejar-ngejar cintanya. Rosa seperti anggrek kampung yang jarang dijangkau, ia lebih tabah dari semua teman-teman perempuannya yang glamor, menghabiskan rupiah ibu bapaknya demi sebuah lipstik di Dutalia atau satu kaos di Suba Suka.
Rosa yang polos itu selalu membuat kemaluannya berdiri setiap kali ia ajak berdua ke kebun. Payudara dan bokong yang murni itu selalu membagunkan hasrat bercintanya. Kadang ia membayangkan wajah dan tubuh itu di kamar kosnya di Oesapa, mungkin ia lebih nikmat dari Renti, dari Klara, dan lainnya. Tetapi ia tahu betapa kejamnya jika ia menodai anak itu. Hingga suatu malam ia tak bisa membendung diri, di ajaknya perempuan itu dengan segala rayuan dan pujian, hingga mukanya lebih ranum dan masak dalam malu-malu. Ia tiduri dengan nama cinta sama seperti yang pernah-pernah.
Tetapi Rosa bukan perempuan yang mau ditidur lepas, ketika laki-laki itu hendak kembali ke Kupang ia mencari siasat lain. Malam itu ia menyimpan pakaiannya, lalu lari ke rumah Pius. Maka tersebarlah berita itu ke segala penjuru, "Rosa Beyeng keu." Ya, sebutan untuk kawin lari masuk, dan mata pikiran orang kampung akan memandang seorang perempuan seolah nekat dan berani.
Ayah Pius yang selalu bangga mewartakan bagaimana anaknya itu berjuang kemanusiaan di kota Kupang memerah mukanya menghadap orang tua Rosa. Secara adat keduanya diikat, entah bagaimana harga tawar menawar belis, Rosa tak tahu. Sudah memang ia tidak perlu tahu, sebab bukan masalah jika kedua calon besan itu tidak melihatnya sebagai hubungan ekonomi dua bela pihak. Dalam adat, kata sepakat, adalah tali pengikat segala sekat.
Jauh dari harapan, cinta tak serupa ucapan. Manis ditebar meleburkan jiwa. Usia Lani lima bulan dalam kandungan, ketika ayahnya Pius memukul ibunya hingga berdarah. Perempuan itu memang tak bersekolah, tetapi ia ingat sosialisasi dikantor desa, selain mengurus darah haid dan mengecek sendiri payudaranya dari kanker, ia tahu ke mana harus membawa seorang lelaki yang bertindak sewenang-wenangnya kepada dirinya, apa lagi meninggalkan bekas luka kasat mata. Namun semua suara sanak saudara membungkamnya, tak baik melaporkan suami sendiri, itu hanya menimbulkan aib.
Siang malam ia tak habis pikir, seorang terpelajar dan paham teori dan retorika kemanusiaan memberlakukannya seperti kuda pacuan yang dituntunnya berlari, hingga kuda itu menolak berlari ia hajar dan tarik sesuka hati. Bulan-bulan itu ia pikul serupa memikul Lani kecil yang meringkuk di rahimnya. Hingga kemarau tinggal kenangan dan kenangan lebih basah dari hujan, ia pikul sendiri luka-luka perempuannya, serupa seikat kayu yang setia di kepala.
Kupang, 1 Februari 2020
0 Komentar