Header Ads Widget

Burung-Burung Malang


Yang Hilang

Di pucuk awan gunung
Segala telah terbang
Suara dahan juga kicau burung
Anak puyu juga tarian ilalang

Desing batu melaju tersendat-sendat
Mematahkan pucuk lamtoro
Segerombolan gagak menjerit 
Anak kakatua berkemas dari ranting reo

Kaki-kaki kecil terkilir
Katapel malang di ujung jari
Anak-anak batu bergulir
Jatuh berhambur di layar gawai

Ibu...
Ini budi
Juga babu
Teknologi

Adakah angin menyulam embun
Ataukah bibir menadah sisi hujan 
Yang jatuh terkulai dari dedaunan hutan
Yang tersisa, hanya tawanan peradaban


Katapel Terakhir

Engkau katapel dengan cinta serupa batu
Ke dalam tanganmu kuserahkan hatiku


Yang Tersisa dari Amuk

Ada rindu menelan hujan
Lebih risau dari badai
Kita menonton masa kecil dari balik gerimis
Mengingat tangis dan tumis rumpu-rampe
yang pecah di sudut dapur

Ada yang lebih dingin dari angin
Ingatan yang meloncat dari kepala
Secangkir kopi mengepul
Bagai dupa dan kemeyan direndam hujan
Satu piring pisang disodor
Menatapnya serupa jatuh cinta bibirmu

Asap berlumpur dalam dada
Barah berteduh di mata
Cinta adalah senyum ibu
Ketika mengangkat ubi
Sepenuh hati
Dan begitu hati-hati

Kita melongo ke luar jendela
Hujan melebat
Hati berjabat
Erat
Kuat
Melekat
Tanpa sekat
Doa-doa basah di kepala


Kupang, 30 Januari 2021












Posting Komentar

0 Komentar