Petani Berdasi
Bila tiba hujan mencumbu tanah
Langkah-langkah kecil berebut lumpur
Lari kecil di ladang jagung sambil kelakar
Ingat Pancasila yang salah dihafal di sekolah
Di kaki bukit
keringat
lebih dari nilai ringgit
Apa lagi rupiah yang digigit
Bapa-bapa pejabat
Yang hebat-hebat
Dahan kering lembab
sembab dalam pijak
Dua tiga kali cangkul diayun
Bahu kecil
rasa macam pikul amanat rakyat
di gedung Peten Ina
Anak kecil
Petani kecil
Kampung terpencil
Ayun kuat cangkul
Tanah dan mimpi dirangkul
Sekali dibuang tatap ke langit mendung
Digulung-gulung mimpi menjadi gelombang
Jauh menampar gedung-gedung ibu kota kabupaten
Hingga jembatan menuju senayan
Sebelum angan dibawa angin
Hujan menjerat kaki
Mimpi ditikam ujung tofa
Bila angin gunung bawa cinta
Simponi getar daun jagung
Mendengung kidung tunas kacang
Di buang muka ke hamparan ilalang
Cita-cita menggenang di celah gunung
Sebuah tanda seru mengisi spasi
"Anakku kau harus jadi petani bedasi"
Doa Seorang Petani
Tuhan, jatuhkan dari langit kekasihku
Serupa hujan
di antara ladang jagung
yang meradang gersang.
Biarkanlah ia lebih tabah dari air yang menjadikan tanah berlumpur
Lebih tegar menebar sabar di atas batu-batu karang.
Amen.
Tanah
Suatu hari di Januari
Engkau duduk di luar
Menunggu hujan dan kekasih
Engkau menatap tanah basah di depanmu
Sambil mengingat Hamka
Engkau buang mata kelangit
Dan melihat wajahmu yang lain.
Kupang,19 Januari 2020

2 Komentar
Keren Ina
BalasHapusTerima kasih su baca tata🙏
Hapus