Ino, aku boleh meminjam lukamu?
Luka yang kau balut dalam lembut tutur
Seperti investasi kaum berdasi
Atas dasar memfasilitasi
Di dahan-dahan matamu
Segala telah lebam
Menumpuk doa yang lapuk
Juga gelisah tuan di kursi empuk
Ino, jika patah untuk tumbuh
Hilang untuk pulang
Lalu mengapa cinta serumit negara?
Dikungkung kuasa, dibelunggu dusta
Hilang
Bila waktunya segala telah usai
Gerimis mengais di ujung teras
Dan hujan turun dengan deras
Di bawah alis yang polos
Ketahuilah, mungkin ia tak pantas
Lekas berkemas
Jangan sedikit pun jadi pengemis
Sebab yang manis-manis
Pada waktunya juga akan amis
Daun Pepaya
Pada satu lembar daun pepaya
Engkau akan mengerti
Hanya dengan lidah yang tabah
Segala balada akan jadi canda
Kekasihku, mungkin akan lebih nikmat
menguyah petuah dari pahitnya patah hati
Sambil menertawakan negara
Dan berbesar hati
Masih ada yang lebih sakit
Orang kecil kaum kecil
Kerdil dalam ruang sidang
Sebab dibedil kuasa
Hanya dengan satu lembar daun pepaya
Yang dipetik dari samping kali
Kau akan mengerti, kekasihku
Mengapa farmasi jadi formasi birokrasi
Kupanggil Pulang
Sudah di mana kembaramu?
Sudah terlalu lama main-mainmu
Dipelataran puisi yang masih sama
Membahas waktu dan kenangan
Juga negara dan sejarah
Aku menunggu satu anak panah kata
Meloncat dari dada mudamu
Sudah terlalu lama kau biarkan kering kepalaku
Tanpa syair santan dan kapitalis shampo
Sudah di mana, Ama?
Macam sunyi sekali dada tanpa bunyi
Kau pasung aku dalam kabung
Rindu lebih hitam mendung
Kecup sekali lagi, Ama
Lebih sejuk gunung-gunung di tanah ibu
Benamkan lebih lama
Biar desir darah, lebih liar ombak sepanjang pesisir Lomblen
Tidak perlu takut
Setiap kemelut laut asmara dan asa
Cinta akan panggil pulang
Penfui, 15 Januari 2021
0 Komentar