Kekasih Puisi
Untukmu yang mengajari arti cinta
Damailah bersama piluhmu dalam kalbu
Diami sejenak keluhmu
Istirahatlah lelah
Agar pedih menepi biar sebentar
Nikmati setiap peristiwa
pada tiap waktu yang bergulir
dan biarlah waktu
meridohi setiap niat tulus
yang datang dari kepolosanmu
menjaga Asa
merawat frasah
Agar tetap awet muda wajah sajakmu
Rebahkan tubuhmu sejenak
di sepanjang beranda senja
Resapi setiap makna cinta
yang mangalir dari jantung peradaban.
Agar kau tahu,
Asmara bukan hanya soal ciptakan rasa,
Gelorakan hasrat
Kisah romansa sepasang insan yang instan,
Akhirnya, hanya menyisahkan duka di dada,
Sebab lukanya masih membasah
dan terus menganga.
Kasihku,
Aku Tak mau mengguruimu,
Apalagi mengajarkanmu, apa arti cinta ?
Sebab aku takut, cintakku diselimuti dusta.
Kemarilah,
Cukup kuberi tahu rahasia hati yang selalu kurindui.
Di malam-malam tua nanti,
rapatkan kupingmu ke pipihku,
Akan aku bacakan
dongeng purba tentang sepasang juang
Yang terus menerjang belukar kesukaran
Bersama cinta
yang tak henti-hentinya menggelorakan perlawanan.
Petuah Terakhir Ayah
Pada sajak tanpa rima
Aku rindu rayu jagung kebose ibu
Aku rindu harum sayur kelor
Dari dapur berlabur kasih
Pada petua puisi, bijak anak desa.
Aku rindu canda polos kita,
selepas tuak dalam kenera selasai kita teguk
Ayah, gulungkan sekali lagi setangkai Tembakau untuku.
Aku ingat jelas, diberanda malam itu
di saat nasihatmu melapasku pergi mengejar mimpi.
Di atas anyaman tikar daun koli
ina menyaji wata tenani dan rumpu rampe,
yang begitu romantis
Ama menuang tuak dari kenera tua
Kedalam cangkir bambu kuning.
Lalu Kita berkisah panjang
Jejak juang Nenek moyang
yang mempertahankan hak ulayat tanah adat
dari penjajah Portugis dan Belanda.
Kepada kita diberikan warisan budaya,
sebagai anak budaya yang bergelora
Dalam ragam bahasa
Pesanmu terus menggaung:
"Cukup makan dari tanah moyang
dan minum dari air ibu ketuban pertiwi."
Makasar, 2020
Kamar kos yang krisis
#krisis nalar kritis harus dikritik
#pesan ini adalah petunjuk dari kebodohan yang harus kau sadari
0 Komentar