Kupang, kupanggil engkau dalam gigil
Memeluk segala luka dan lekuk jiwa yang patah
Kuburu laut demi merendam kemelut
Kusisir pasir hanya untuk mengusir gusar
Tiada lagi petuah juang dari tembok-tembok yang merekam jejak kota
Di kaki Aston
Anak kecil menerjang gerimis dan asin
Tertawa dan menangis mengelus arus yang damai
Kupang, perahu jauh membela laut
Sedang pulau seberang tertutup kabut
Ada jejak berlari menyongsong angin
Di buang kuat-kuat jala
Tarik pelan-pelan tahan debar
Kosong lagi
Berjalan lagi
Sedang gerimis menolak menjadi hujan
Betah menikam atap-atap penjual ikan bakar
Dari jalan Konjak teriak-teriak
Kupang, nona.
Beta dengar ranting Ketapang patah dipijak waktu
Pucuk lontar ragu-ragu merayu langit
Dari kamar Aston siapa tahu
Ada om bos sedang mimpi basah
Kupang, kupanggil kau dalam bugil
Lebih menantang dari payudara nyonya pemilik mini market
Jalan lurus belok kiri
Kan kau dapati sepasang mata Ina boi
Berendam lumpur
Tiada nyaring sasando di sini
Hanya teriak anak-anak
Panggil mas penjual Salome
Di kaki Aston
Anak kecil
Orang kecil
Menggigil
Memanggil
"Kupang...
Beta rindu sekolah
Macam to'o rindu jadi DPR
Biar Beta pung guru seni budaya kejam
Tampar Beta, cubit sonde pake rasa
Beta kuat di Kaka nona pu bilang
Itu belum seberapa, Lebih kejam bapa-bapa yang curi rakyat pu doi"
Kupang semakin dingin saja
Angin dan kabut berebutan memeluk jiwa
Anak kecil bangun menara pasir
Tertawa dan maki-maki ombak yang datang kasih hancur.
Kupang, tiada diksi lain lebih mengisi puisi
Serupa metafora-metafora yang gagal diterjemahkan
Induk kalimat, sunyi sendiri.
Di spasi itu hanya ada air hujan yang mulai melebat
Merendam jalan dan ingatan
Seorang anak Alor ragu-ragu berdiri di trotoar
Datang nona montok dari parkiran
Pikiran berputar tatap nona punya pusar
Orang Aseng kadang merangsang biar sekedar iseng dipandang
Melayang angan terbayang, bapak pikul kayu di jalan setapak
Menapak kerikil dan tanah
Tampak kaki kosong tanpa sandal
Dari arah Penfui oto dinas lari kencang-kencang
Mungkin mau kencing
Atau lepas kancing
Hanya bapak tua yang tahu
Macam misteri lain anggaran daerah saja
Kupang, sampe sini dulu
Di kaki Aston dulu
Kalau ada doi kita bisa bayar
Buat panjat dia pu paha
Eh, Orang miskin dan terlantar
Biasa suka menakar kelakar
Apa lagi Kaka nyong dari Timor
Di terminal sana
Mulut babusah
Hanya mau lupa susah
Kupang, kupanggil kau dalam sunyi
Lebih dari puisi ini
Yang lebih banyak bunyi dari pada isi
Sebab menjadi anak-anakmu
Paling kurang bisa menyanyi
Kalau bukan lagu Bolelebo
Berarti nina bobo
Kupang, kuakhiri ini
Lebih rumit dari cinta satu penghunimu
Semoga akhir kisah
Bukan Liliba
Sampai jumpa
Siang dan malam
Yang menjadikan cemas lebih candu dari bibir dan payudara nona manis
Di bawah malam lampu tedis
Juga senyum manis Ina di taman nostalgia
Bersambung...
Kupang, 11 Januari 2020
0 Komentar