Header Ads Widget

Puisi Terakhir yang Tenggelam di Mata Ino


Doa Kepulangan

Di pucuk musim engkau menghitung lebam
Setahun rasanya tidak cukup untuk menyumpahi sakit
Di bawah awan yang pelan-pelan berarak pulang
Engkau dapati sunyi kembali bertandang

Di bawah kakimu luka-luka terurai
Sisa-sisa daun lontar yang tidak sempat menjadi bakul
Engkau pikul lagi sebotol tuak 
Mabuk sendiri menunggu kembang api terakhir

Di gubuk renta ibu dan bapak
Engkau menunduk
Menyesali kekalahanmu
Memikul kemaluan

Sudah basah bibir
Juga liar lidah
Di hadapan keasingan
Engkau bertekat menyetubuhi kesia-siaan

Di pintu terakhir
Engkau membunuh amarahmu
Dengan lugu kau merayu
Tuhan, malu aku menyebut namamu

Lelaki Terakhir yang Menyetubuhi Aku

Malam itu ia merangkak di sampingku
Dielus-elus kain lusuhku
Dinyanyikan kidung pujian di dekat pipiku
Kekasihku, sudihkah engkau menemani sisa  nafasku? Mungkin besok aku akan mati bersama Marsinamu.

Aku rangkul dia, kukecup ulang-ulang bibirnya, seolah hendak melepasnya bertarung merebut merah putih. 
Ia mendesah pasrah, tangannya menarik pinggulku hingga kami dekat melekat, tanpa sekat, dan nyatalah Bhineka tunggal Ika, kuat mengikat lidahku juga lidahnya.

Dibuatnya aku ngos-ngos, cepat sekali tangannya menjalar seluru tubuhku, berlomba-lomba merebut kematian dan laju sirene ambulance dari televisi. Di puncak itu aku jatuh, merintih sakit, dan Tuhan menari di ujung jari.

Tapi hasrat kami siapa yang mampu menanding. Celana dalam itu ia turunkan, pelan-pelan sambil mengamat-amati, jangan-jangan ada wajah calon kepala daerah yang terpampang di sana. Tapi apa peduli, cinta dan nafsu telah menyatu dan jalan satu-satunya adalah menumpahkannya tanpa demokrasi.

Ia merampok payudaraku, mengisap-isapnya dengan nikmat, aku membawanya lebih dekat ke bibirnya, sekali-kali kugoyang-goyangkan, kami bermain lebih manis dari bapak dan ibu yang duduk manis di sidang paripurna.

Ia lari ke telingaku, dibacakan dongeng negeri, menghitung mundur waktu sambil menaikan badannya. Dan penindasan yang nikmat adalah penindihan. 

Tapi jiwaku memberontak, jangan kau kira aku perempuan. Mikrofon jantungnya kumatikan, dia bisa apa? Aku punya kuasa penuh di atas ranjang, kuasa warisan ibuku, juga opaku. Tak punya darah berkuasa jangan coba paksa diri.

Elegi itu berlanjut, seiring pintu-pintu kota yang enggan dibuka. Tak ada keramaian, segalanya mati kecuali media yang merekam erengan dan bunyi keringat yang jatuh kelaparan.

Sebelum ia keluar dari tubuhku, belum sempat kujatuh lelap di ketiaknya. Para menteri sudah diganti.

Kami menyapu tubuh telanjang kami, menyaksikan fatamorgana di ujung ranjang. Musim gugur di bola mata, dan kami tuntas sudah segalanya. 

Dengan nakal ia mencubit putingku yang masih keras, aku malu-malu mengaku suka, pelan dibisik di atas bibirku "kita baru menyelesaikan urusan negara dengan tata cara yang baik dan benar"

Letih

Sebab yang ada kini hanya letih
Juga terima kasih yang kaku

Orang-orang menyulam doa
Sambil menjahit luka

Mereka menatap waktu
Membaca pertemuan dan perpisahan

Menulis penguatan
Dan belajar berlapang dada

Di depan pintu yang hampir tutup itu
Air mata dan tawa jadi korban Bakaran

Kupang, 31 Desember 2020





Posting Komentar

0 Komentar