Di Sini Sendiri
Ini kali biarkan aku mengalir bersama debar yang menyebar di dada, bukankah kamupun bosan mendengar cerita persetubuhan di ranjang negara. Maka tetaplah di sini, dalam lekuk aksara rasa yang kian tersayat hasrat, sebab akan sangat berdosa bila aku berbohong aku mencintaimu dan tidak menginginkan satu kecupan paling nakal. Tak perlu marah atau merasa aku begitu jujur mengungkapkan diriku, bukankah kita menginkan kejujuran dalam memujurkan ikatan.
Sudah terlalu lama bising negara bertandang dan kita menjalani hidup bagai bocah malang. Sekali ini saja mari bicara cinta, perihal matamu yang selalu membuatku kalah lalu memilih tak sanggup tenggelam, perihal kepalamu yang kadang bikin geleng-geleng, dan semua tentang kamu yang semakin hari semakin asing. Bahwa pesan kita tak sepanjang dulu, bahwa kini hanya sebatas jempol dan emoticon. Bahwa meskipun begitu tak bisa kupungkiri aku mencintaimu sama seperti waktu-waktu puisi menjadi selimut paling hangat sepanjang subuh.
Setiap malam kutarik tirai jendela, memeluk bantal dan memandang dahan yang bergerak sepanjang bayang gelap, rindu seperti penjara yang menjebloskan aku atas perkara yang tak semestinya menghukum aku, tetapi itulah keadilan di negeri ini, merambat juga atas hukum cinta yang kita kisahkan.
Kau mungkin berpikir terlalu alai aku menulis ini, bilang saja anjay dan aku yang siap mengggantikanmu di penjara sebab sudah biasa aku merasakannya.
Kau tak rindu bagaimama kita bergelit setiap malam membicarakan puisi yang menjadi pisau di beranda maya? Tentang setiap urusan korupsi dan undang-undang, tentang setiap tubuh perempuan yang terkurung dalam pola pikir kelam, atau sekedar mengingatkan aku untuk tahu diri bahwa sesungguhnya tak ada yang layak untuk dibanggakan, bahwa sesunggunya jika aku berkata "aku mencintaimu karena isi kepalamu, sebenarnya aku tidak mencintaimu, sebab bagaimana nanti bila kamu menjadi begitu idiot dan gila, bagaimana jika kamu menjadi seorang paling dungu yang begitu mengasihi perempuan dengan kepala yang tegap dan menolak runtuh" lalu kau melanjutkan dengan senyum nakal "jangan berpikir kau begitu bodoh mencitaiku"
Di hadapan langit yang semakin luas membentang mata kita, aku mengerti kita tak hanya kekasih, bahwa aku membencimu, dan aku harus mengatakan segalahnya, bukankah kamu kekasihku dan kamu harus tahu segalah yang terburuk dalam sikapku. Bahwa kadang kau harus jengkel sebab aku memberlakukanmu seperti saingan dan orang asing, seperti lawan dan kawan. Sudah seharusnya aku menjadi aku dalam mencintaimu agar tak ada tingkah laku yang kaku dalam palsu.
Nyanyian dahaga jiwaku membatu di antara kedua belahan dadaku. Setiap saat kemanusian merenggut separuh perhatianku atas rasaku sendiri. Tangis yang mengais di tong-tong sampah ciptaan rezim berkuasa menguasai seluruh jemariku hingga aku lupa masih ada kamu yang harus kukirimkan sekedar ucapan "selamat pagi sayang, aku mencintaimu" atau menulis pesan sebelum meringkuk di tempat tidur memeluk mimpi persetubuhan, meski sekedar puisi singkat begini:
"Aku dengar angin mengetuk jendela kamar
Lalu kau menyusup di kepalaku
Menari di bola mataku, ama
Bila gelap menepi dan sepi diresapi
Aku ingin mati dalam puisi
Rindu memang kadang brengsek
mengusik dan menghardik
Tanpa permisi"
Sungguh romantis,bukan kita?
Lalu entah dewasa atau waktu, semua kabur-kabur. Tetapi aku sadar aku mencintaimu lebih besar dan terus besar setiap detiknya. Apa mungkin karena semakin berisi cinta semakin sulit untuk diungkap sekedar kata dan mata menatap. Tetapi dekap yang kekal dalam kesendirian yang mandiri.
Di sini, sendiri. Setiap saat aku ingin menulis tentangmu, tentang kita yang semakin asing di musim yang gersang.
Kupang, 2020

4 Komentar
Luar biasa ibu.
BalasHapusTerus berkarya
Siap pak, makasih su baca oo😍
HapusAsyik
BalasHapusPokoknya asyik saja
Hapus