Header Ads Widget

Musim Retak di Kepala



Petang ini aku masih sama, menjunjung hujan dan kemarau di kepala. Tanah, retak dipijak waktu. Langit hitam dibalut kemelut. 


Angin dan matahari bertengkar di antara belukar dan ikrar yang telah diingkar.


Di kiri lorong nafas, bulan terbit di dada, cahaya membias membius puting seorang perempuan bunting. Sedang di kanan bintang malu-malu menghitung dirinya yang digantung.


Ladang jagung membentang di antara kedua lengan, dengan daun-daun hijau, sayangnya aku selalu merasa gagal menuai sendirian.


Terlalu basi bicara senja menjemput malam. Apalagi rindu menggoda tubuh.


Lalu batu-batu memasung kepala, mengikat lumut di tumit yang pamit. Burung-burung enggan pulang sarang. 


Ikal rambut memintal jari-jari rapuh di setiap helaiannya. Sekali coba dibacakannya dongeng istana, "orang miskin dan terlantar dipelihara oleh negara."


Kaki kecil menendang, seolah seram dierami undang-undang atas dirinya kelak. 


Sekali lagi terulang orasi persetubuhan. Tangan perkasa akan merenggut paksa lalu melepas ampas, dan kaum kecil bisa apa?


Musim retak di kepala. Bagai menghitung jarak antara spasi penguasa dan rakyat jelata.


Kaki kecil menendang, ayahku telah pergi dirampok penghianatan. Tinggal ibuku dengan segalah gelisah, berdiri di atas tanah yang sudah dirampok pula.


Mungkin nanti "orang miskin dan terlantar dipelihara oleh negara" ketuban pecah di atas ilalang dan aku rampok kembali hakku.


Lalu dengar bisik hatimu yang mulai jenuh membaca kisahku. Orang malang memang selalu malas untuk dibaca. Sudah terbiasa kau tidur di atas dongeng cinderela, hingga lelap sebelum pangeran datang. 


Lihatlah, aku masih mengembara di antara hujan dan kemarau, membaca sejarah yang ditarik ulur. Anakku akan lahir di bulan-bulan yang penuh bualan, ia membaca buku yang penuh kisah kerajaan-kerajaan yang hebat-hebat lalu dibabat habis nenek moyangnya. Ia akan tahu Kartini dan Dewi Sartika, lalu menyanjung-nyanjung. Ia akan geleng-geleng dengan atribut perang dan pesawat terbang. Anakku akan membaca peradaban dari dongeng yang diciptakan orang-orang yang menjajah akal sehatnya.


Di musim yang retak itu, aku akan hidup dalam kematianku dan dikenang sebagai jalang negeri dongeng. Jangan berkabung, ratapi saja keadilan.

Kupang, September 2020


Cinta yang Berdarah

Kau menenun air mataku di antara kebodohan dan ketulusan

Pelan menikam ego yang ikut dihirup rongga hidungku


Cinta seperti apa ini?

Aku bertanya sepanjang malam yang memenjarakan gelisahku

Cinta yang Berdarah 

Di antara jarak 

Pelan dan pasti 

Aku dibunuh


Kau melibatkan negara

Di antara luka yang tercipta

Menyatu dalam teori dan retorika

Dibalut estetika dan etika 


Cinta seperti apa ini?

Berdarah dan mengalir tersendat-sendat

Bagai kata-kata menemui imajinasi sesat


Akankah setia memeluk restu?

Izinkan aku membunuhmu kali ini saja

Agar kau abadi dalam nafasku

Dan aku siap diadili dalam puisi


Kupang, September 2020

Posting Komentar

0 Komentar