Header Ads Widget

Di Kaki Uyelewun, Matahari Dipasung Ino

 



Pecah tangis mengelus pucuk-pucuk lontar

Tanah telah menarik garis membagi gunung di dada

Setetes tuak telah jatuh membasuh lidah

tumbuh pula purnama di antara tanah kering 

dan dari gunung 

juga pantai

Mengikat adat bagai mata rantai


"Areq rian"


Segala lidah kaku meramu nada tatong

Semenjak pecah tangis mengais nafas

Sudah jadi rahim segalah kembang dan elang

Sudah besar pula semesta menerjemah sapa


Dibungkus segala harapan yang melebur dalam daging dengan sepotong sarung

Dirawat di antara ilalang 

Dalam dongeng tikus dan puyu

Di dalam ladang jagung


Musim bergulir menyisir ikal rambut

Bila sudah waktunya dipinang siri pinang

Dengan irama gong gendang

Dibentangkan jalan baru menuju lembah-lembah mata air dan air mata


Sudah biasa pula tubuh berdamai

Matahari dan hujan dijunjung di kepala 

Aroma santan kelapa menyapa 

di balik nestapa yang mengendap dalam kepala


Di tangan kunci lambung dan lumbung dipersembahkan


Subuh dikubur dalam himne asap tungku

Bersahut-sahutan anak batu memeluk ibunya

Jagung titih dan rintihan kehidupan menyatu dalam tiga tungku batu



Di kaki Uyelewun tangan meramu nafas

Bergegas menuruni anak tangga batu

Berpegang di antara dahan dan akar

Kekeringan memang suka berkelakar 


Anak-anak kecil mengumpulkan kayu bakar

Menjunjung pulang bersama harapan akan listrik dan jalan tanpa aspal

Gelisah kemarau dan angin berperang di bahu

Sekali waktu dibiarkan hangus bersama satu tempurung tuak di atas bale bambu

Menguyah renya pantun uri sele

a

i

u

Dua tiga kaki di pijak kuat-kuat


Nyanyian kandang babi

Dan orasi kawanan kambing

Doa-doa petang berkejaran mencari jalan pulang

Negara bisu menonton dari ujung pohon asam dan jambu mente


Keringat menjadi saksi litani 

Di atas kuda dipacuh segalah perjuangan kesetaraan

Membela bukit dan menggulirkan lereng

Meninju kali mati

Dan memasung matahari tepat di bola mata


Bila waktu memaku raga pada salib pisah

Rantau dan risau

Dilepas dan dihempas

Rusuk menjelma penusuk

Pantang menggeleng menantang lereng malang


Segalah menyatu

Dalam gemuruh hasrat

Awan tertawan di antara kening

Tanah dan langit menyerah 


Awas dipasung pula kau di matanya

Nanti berlari kau memeluk mahar 

Tumpahkan saja gelas tuaknya

Lalu kita tawar menawar


Kupang, September 2020


*Catatan

Area rian: perempuan (perempuan besar (bukan dalam artian sulung)) 

Uri Sele: kesenian rakyat, serupa dolo-dolo 




Posting Komentar

0 Komentar