Betapa Begini
Kau cengar-cengir sendiri dalam bisu
Kata-kata berlari maraton melewati dahi
Ketuk saja dada lalu jarum pun dipikir lidi
Embun matamu
Dan aku ilalang kemarau
Pasrah dijamah
Lalu kita basah
Pagi dan malam adalah sepasang gelisah
Berkejaran di kepala dan wafat di dada
Bunuh saja adat dan segala pengikat
Potong saja moral penggadai mahar
Ada dingin dalam bara asmara
Mengendap di antara tumpukan temu
Gugur mengelus belahan payudara
Malam gemetaran, kau sebut rindu
Mencintaimu adalah kecanduanku
Meneguk doa dari bibirmu adalah sukaku
Meniduri kepalamu adalah kegilaanku
Melepasmu bukan aku
Kupang, September 2020
Betapa Begitu
Betapa begitu lebih kering
Segalah yang pernah bersenandung
Yang bergerak naik turun dari tirai usang
Mengerang dalam tenang
Masih suka mencuri segalah kenang
Terbang di jendela yang kini mendung
Sekali disapa manja sayang
Noda gincu pun berlari pulang
Betapa begitu kau
Berguguran di musim tanpa senyum
Biar dibenci tak dilepas peluk
Berat kusebut kau masa lalu
Kupang, September 2020
Begini Bukan Begitu
Harusnya
Yang melepas tak perlu disesal
Sekali mesti rasa digosok akal
Harusnya
Begini bukan begitu
Begitu bukan cinta
Harusnya
Yang menghempas
Hanya ampas
Sudah begitu
Begini sudah
Kupang, September 2020
"Ati D. Mencintai kalian, dengan segenap jiwa puisi. Selamat mencintai dengan ke-aku-an masing-masing. "
0 Komentar