Dia Seorang Perempuan
Tamaran bulan wajahmu, ragu dan kaku mencumbui pucuk lontar di ujung simpang. Dua matamu telah menjelma iblis paling manis yang menggoda dengan rupa-rupa dongeng puisi. Bahumu yang kokoh telah lapuk pada pelupuk hamparan ilalang hijau kemarau. Lalu bagai pengembala yang menemukan koin keberuntungan kau menggiring kuda kecilmu yang tangkas, melepas ampas-ampas hasrat yang lama membeku di antara lubang kelamin.
Telah kuhitung jejakmu yang tersesat di bawah bayangan hitam semak belukar yang tak peduli hujan yang jatuh mengalir di antara kali-kali rusukku lalu mematahkan salah satunya. Di muara kata semua kecewa akhirnya berserah dan tenggelam.
Langkahmu mengendap di setiap sajak-sajak malam yang menghantar tidurku, sayangnya aku hanya berpura-pura tuli mendengar semua eranganmu di seberang kamar yang sulit kuseberangi. Aku pantang buta dalam lelapku yang malang, sebab kulihat tubuh-tubuh mulus kau poles dengan akal bulus. Kelaminmu berdiri berkaca pada dada montok. Kepala membawamu berlari maraton dalam hasrat ingin segera berselancar di antara kedua puncak gunung yang kini menjulang siap memacu lahar panasmu yang kau kesali lama tak dimuntahkan. Kau menuangkan segelas tuak paling kental di antara lembah-lembahnya.
Dari jauh aku berperang dengan puisi. Menghitung diameter lidahmu yang menjulur dan bibirmu yang bergetar dibuai hasrat dari balik beranda kaca. Bagai penonton bisu tubuh puisi, kucoba menggumpalkan segalah yakin, memeluk erat angin dan kesunyian yang semakin menggigilkan, melipat rapat-rapat sesal atas prahara rasa.
Jauh di simpang malam yang bimbang memeluk tanda tanya pada bantal dan kasur, meringkuk dalam kesesakan yang tersesat di kepalaku, dalam keluguan titik-titik jatuh sebagai rintik yang tergelatak pasrah pada ujung selimut, mengairi malam dalam tanya, "siapa dia?"
Demikian setiap malam aku dayung hingga diseret ke mimpi paling liar, dihujani ribuan tangan yang memaksa meremas payudaraku, tangan-tangan asing dan tangan seorang anak kecil. Hingga sadar mengetuk ketakutan yang merambat sekujur tubuhku yang gemetar sehabis disetubuhi mimpi, pelan kubisikan ini pada angin, mengantarnya pada telingamu yang menolak mati disepanjang malam, entah memastikan revolusi atau solusi meloloskan sperma.
Hingga pada titik aku tergelatak kaku membaca rahasia semesta mendengar doa-doa yang kau anjurkan pada kedua telingaku.
Kini aku tahu siapa dia?
"Dia seorang perempuan yang mirip denganku dan anak kecil itu, doa aksara yang kupeluk sepanjang hari, bahkan melepasnya aku tak sanggup, demi langit, demi bumi, demi semua binatang yang diabadikan dalam diri manusia."
Lalu haruskah aku diam menyaksikan waktu yang merangkak dalam anoni yang sulit kutemukan sinonimnya. Terkutuklah aku. Sebab kini tak bermakna puisiku yang menjadi saksi di setiap spasi yang merekam tubuh bugil yang menggigil, antara nikmat dan ketakutan, melayani sajak malam panjangmu yang kini telah menjelma jalang.
Aku ini siapa?
Tuan yang buta membiarkan anjing manja dan nakalnya mencabik-cabik seonggok daging yang mirip denganku. Lalu tertawa ria membual bagai orang mual-mual di beranda maya sambil membetulkan kembali rosleting celana.
Aku ini siapa?
Yang harus berpura-pura bodoh menyambutmu di depan jendela subuh untuk pulang menghitung janji dan menyetubuhi diksi.
Aku kini hanyalah daging yang tak lagi utuh menyaksikan awan berperang melawan angin dan ingin.
Kau tahu kebodohanmu?
Ini bukan perihal kesetiaan yang ternoda
Ini bukan soal diriku yang ditikam pisau puisimu
Ini bukan soal kepada siapa jalan pulang
Ini bukan soal moral
Apalagi dosa
Sebab sudah lama aku tak mengenal semua itu
Ini perihal perempuan yang kau umpan ke ranjang menjadi jalang aksaramu dalam dalil kerelaan dan kepasrahan diri, berdiri dalam prinsip mau sama mau lalu kau buang sebagai "barang mainan". Bereforia di setiap tawa dan senyummu bagai memenangkan undian bersama segerombolan anjing-anjing yang lain.
Kau bukan ksatria panah kata penombak revolusi dan kelewang kemerdekaan.
Kau hanya pengecut di depan hawa nafsu.
Kau marah pada aksaraku?
Kemarilah dan bersetubuhlah!
Kau bertanya siapa aku hingga pantas menghakimimu?
Kemarilah dan bersetubuhlah!
Akan kuberitahu engkau wahai tuan yang memilih tidur di atas ilallang yang subur hingga gatal-gatal badannya, dibiarkan helaian benang tanggal dari tubuhnya, berguling di atas gulungan ombak birahi, garuk-garuk, dan tak berdaya memancarkan segelas tuak menyaksikan rumput liar yang bergoyang.
Haruskah Aku mempersalahkan tubuh rupawan seorang perempuan yang tertawan ataukah dagingmu yang rawan terbakar birahi.
Ketahuilah wahai kau yang mematahkan kepercayaanku, aku mengecup engkau dengan bangga bukan karena kau laki tetapi hatimu, hatimu yang membuatku berani bertaru atas paket kematian yang kau pesan.
Apa kau masih bertanya siapa aku hingga pantas menghakimimu?
Kemarilah dan bersetubuhlah!
Akan kuberitahu padamu
Aku jalang di tanah yang malang, yang menjelma dalam mantra terlarang.
Kemarilah setubuhi aku!
Lumat bibirku dengan ganas sampai kau panas dan lantas tahu bahwa ribuan teriakan berdesakan namun dibungkam ketakutan, berlahan melebur di ujung bibir bersama merah gincu.
Ramaslah payudaraku dan lihat bagaimana luka itu tumbuh dan menodai air susu anak cucu sepanjang masa.
Tombak liang kemaluanku dan sadarlah aku dan kau hadir oleh itu. Dari kepunyaan seorang yang mirip denganku, yang sedang merenung di bawah langit sebuah negara, memikirkan anggaran dan melantumkan ujud, semoga anaknya tumbuh beradab merawat adat.
Kupang, 2020

5 Komentar
Salut
BalasHapusHallo kaka, makasih su baca.
HapusMantap... ini macam psikoanalitik ko apa hahaa
BalasHapusMantap... ini macam psikoanalitik ko apa hahaa
BalasHapusHhhh tata😃
HapusMembongkar sisetem kadang harus pake cara ganas dan panas le 😂😂😂 ini baru Freud pu mau-mau