Header Ads Widget

Membaca Waktu

 Safio



Waktu masih merangkak pelan di antara bayangan hitam cinta. Aku tahu, kamu tak akan pernah bosan berbicara perihal cinta, melukis mata dan tatap, mengagungkan bibir hingga bilur biru dikecup luka. Ribuan puisi bahkan menjadi tumbal di altar  dada, hanya untuk membaca rahasia sebuah debar yang yang menyebar dalam bait-bait asmara dan larik-larik yang bergetar di ujung cemas.

Malam menyulam benang hitam di antara sepoi angin kota Kupang yang selalu memanggil rindu pulang kampung. Sudah lama waktu membawa kabur imaji, hingga ke tepian karang-karang yang kini serasa lapuk dalam pelupuk harapan. Membekukan sum-sum tulang mimpi. Siang kembali menyapa dalam risau tatap matahari dan mata hati yang lelah mengusir penat. Bosan melahap tanpa peduli tuannya. Apa mungkin nafas bisa dititip sebentar?

Sapa manis mengetuk layar ponsel. Layaknya es yang bertamu di ruang yang lagi butuh peredam, hadiah jiwa yang dahaga. Siapa lelaki yang iseng di siang kota Karang?

"Tunggu aku di kota penamu"

"Datanglah, jangan hanya membawa kondom, tetapi sperma revolusimu yang sering bergejolak marah itu. Sandinglah bersama sel telur tabuku yang masih dianggap babu ini. Dan lihatlah kita akan menghasilkan bocah-bocah kepala batu

Kau tentunya berpikir otakku begitu kotor bukan? Otakku memang kadang suka sengaja kotor tetapi tak sekotor pejabatmu yang merekayasa anggaran. Lalu ketika ada yang berteriak, kamu dengan segala kepedulianmu yang tuli itu berbisik, "kita ini rakyat biasa tidak tahu apa-apa. Lebih baik diam, merebus kelor lalu makan dengan penuh kelakar meski sealakadarnya bersama sepiring nasi jagung, lalu menyempurnakannya dalam segelas tuak. Begitu bahagia kamu mengelus perut dan berbisik pada diri sendiri, yang penting tak curi untuk makan.

Tetapi aku tidak sedang berselera membicarakan hubunganmu dan pejabatmu. Aku sedang bersukaria atas dopamin dan Oksitosin yang meronta-ronta dalam tubuhku. Dan silakan kamu menebak bagaimana binalnya aku. Kamu memang suka berprasangka. Tetapi aku punya saran yang lebih bermanfaat, mari mencari hormon-hormon yang terdengar ilmiah untuk orang biasa seperti aku ini. Ia hanya samar sebatas pelajaran biologi yang mentok di sekolah menenga atas. Sebenarnya aku cukup tertarik dengan istilah-istilah biologi itu, lalu pada waktu yang dulu-dulu itu mulai menenun mimpi menjadi seorang ahli biologi, terlebih urusan kelamin. Tetapi orang miskin seperti aku ini semakin nihil rasanya saat harus bertaru dengan dadu yang dilemparkan saat seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Di mana bagian yang muncul itulah langkah yang harus anda ambil.  Jadi jangan heran jika masa depan orang miskin ditentukan oleh negara.

Ketika aku mengurai begini, maka muaranya adalah negara. Tetapi sudah kubilang, aku lebih senang mengikuti permainan hormonku tanpa melibatkan negara. 

Sekali waktu aku pernah berpikir, apakah semua perempuan sama seperti aku? Dan diujung tanya, jawab batin tidak. Tetapi jika mungkin ya, inilah ketakutan dari sebuah istilah yang sulit kujabarkan kurang lebihnya 'patriarkhi' ,lelaki yang bersetubuh dengan banyak perempuan dianggap tak masalah, berbanding terbalik dengan perempuan, ia terikat nilai-nilai dan aturan yang tak tahu datangnya dari mana, tetapi mari berbalik pada keadaan sebelumnya, ketakutan itu adalah bahwa kuasa ranjang beralih tangan. Ah, aku memang sering tersesat pikiran puber ini. Andai saja seorang bisa menjelaskan ini padaku.

Siang yang bertandang dan panas yang tak kunjung pamit. Lelaki itu masih sibuk meramu diksi erotis, mencoba merobohkan pertahananku.

"Maukah, kamu menjadi kekasihku?"
"Jadilah kekasih puisiku saja."
"Aku ingin menjadi kekasih dunia nyata bukan imajiner. Tunggu aku akan menjemputmu. Membawamu berlari membela ganas ombak Wato Woko, mencicipi rumpu-rampe ema, lalu kita menepi ke jejak baru Lepanbatan. .."

 Ia terjebak memori melafal kata ema. Itulah rantau dan tungku pemangku rindu. Aroma kemangi, asap kua kelor, jagung titi, ikan sembe, sepiring nasi jagung, segelas tuak, susah senang, lebih tenang di rumah sendiri.

"Panggil aku Fio. Nama manis dari lidah ema"

Nama diri sering digayuti oleh kekuatan magis. Entah nama yang ini jenis kekuatan seperti apa hingga begitu membongkar ingatanku hingga berantakkan. Heroditus dan kemudian juga Pliny, menyebut sebagai suatu kelainan alam kepada orang-orang Atarentas (atau Altantes) dari Afrika Utara yang merupakan satu-satunya makluk manusia yang tidak mempunyai nama di antara mereka. Entah di mana potongan informasi ini pertama kupungut, apa peduli ini bukan karya ilmiah penyerta daftar pustaka. Yang pasti si Fio lelaki siang itu telah merebut sebagian pertahanan kepalaku.

Hingga senja menghilang. Remang lampu kota dan suara angin di jendela yang sayu merayu dahan sirsak, aku berani melayangkan tanya yang mengusik ketenangan jiwaku.

"Almarhum ayahmu, pengawas dinas PPO kecamatan?"
"Kok, tahu?"
"Benar sudah, kau Fio yang itu."
Aku tahu ia bingung dalam hening. Tetapi aku begitu yakin, dia Fio kecil di panggung hitam yang membacakan syair sasando, yang menyuarakan suara peledang Lamafa. Hati kecilku menari. Apa kamu percaya kebetulan dan cinta sejati? Dalam kaku lagi belagu aku berharap seorang tak memergoki betapa gilanya aku terjebak rindu purba. Seperti menemukan kembali anak yang hilang, jiwaku tak berhenti bermazmur. 

"Aku ingat, kita pernah bertarung di medan yang sama, ama."
"Maksudmu?"
"Oh, Lewoleba kota kecil yang dekil pada masa sudah-sudah. Kamu membaca sepotong puisi tanah sejarah. Dan akulah gadis kecil dibalik panggung yang menatap punggungmu begitu percaya diri membacakan syair kecil yang ditulisnya."
"Ah, kaukah itu. Jangan hilang lagi. Ayah pasti tersenyum melihat bocah yang di antarnya ke medan perang, kini berperang dengan debar jantung mereka."

Lembata dan kisah kecil, rindu purba yang mengekal dalam hati. Kaki Uyelewun yang menyimpan sejuta mitos, akan datang waktunya semua aksara tercurah untukmu, hingga panggung hitam duka yang mengantar kehilangan kaki mungil seorang lelaki menemui jalannya yang asing.

Tiada yang bisa dilakukan perempuan kecil dari kaum kecil seperti aku ini, selain berdamai dengan puisi. Safio kecil dan puisi kecil ini lahir di subuh yang menyetubuhi bimbang. Mengapa ia baru kembali setelah hati kini menaru simpati pada dahi lelaki lain. Apa mungkin waktu punya cara, akupun tidak tahu, selain puisi yang lusuh dari jemari yang letih ini menebus ilusiku.

Jejak-Jejak Purba

Subuh malang bertandang
Sepotong kisah klise tertawan dingin
Diam-diam memeluk nafas
Dan lelap dalam rindu purba yang bangun

Segumpal hasrat menolak lelap
Mengantar waktu menyatu bersama nadi

Lelaki kecil di panggung hitam
Bergelora bagai tempuling melawan arus
Melolong bagai gong di kaki bukit masa kecil
Menyatu dalam tatong revolusi jiwanya

Itukah kau kekasih?
Jejak purba yang mengekal dalam jantungku
Yang berani melawan tawa ejekan
Yang merebut hati puisiku lagi dan lagi

Subuh bersetubuh harap
Dan kutuk atas jantung yang tergantung

Selesai menulis itu, aku mati dibunuh kantuk.

Bersambung...


Posting Komentar

0 Komentar