Ayah, Perempuan itu telah Pergi
Seonggok daging dari debu
Yang melebur bersama angin
Bila usai usia
direnggut mendung kabung
Siapa yang mampu membendung?
Ketika aku memikirkan mimpi basahku semalam dan beberapa malam yang lalu, layar kaca kos tetangga menghadirkan sosok presiden, sayangnya aku hanya menebak atas suara itu. Memikirkan negara memang mengganggu kepala apalagi di saat lapar menampar perut.
Patah hatiku kemarin masih menari di benak, aku memang lelaki tolol yang begitu percaya menyatakan cinta pada seorang perempuan kepala batu. Sial "dia su ada yang punya." Tetapi aku seorang lelaki dengan idealisme yang meluap-luap hingga bisa diam-diam bersembunyi dalam kalimat lain "sungguh kukecewa" bahwa di luar sana ribuan orang, anak-anak kecil itu sedang berjuang menemukan cinta di dunia. Kedinginan dalam selimut nasib dan tidur dalam pelukan luka. Lalu aku lelaki merdeka yang sedang lugu mengakui jatuh hati dan langsung patah.
Hari -hari setelah kepergiannya aku merapikan ingatan. Kenangan kecil yang semakin mengecil dalam ingatan, perihal anak kecil dan sebuah puisi kecil.
Tidak semua harus kita dapatkan. Kehilangan ayah telah mengajarkan tabah hingga kini aku tak takut bersaksi atas cinta dan kematian
Masih jelas dalam ingatan, ayah mengenakan seragam dinasnya, dia tampan meski uban di kepala semakin kentara. Dengan berani ia menggandeng dua orang bocah, melepas di gerbang sebuah sekolah di Ibu Kota kabupaten. Lewoleba waktu itu begitu kecil dan dekil.
Aku tak kenal siapa perempuan kecil itu, lalu kemarin ia datang kembali dengan nama "Lia" dalam setia puisinya mengikat lalu menghilang bersama pagi. Dalam cemas aku meyakinkan diri sebagai jagoan yang akan keluar sebagai pemenang di akhir cerita.
Ayah, perempuan itu telah pergi. Lalu mengapa kau mesti muncul dalam mimpi itu, menyaksikan bagaimana anakmu menjadi pengantin puisi.
Haruskah aku menceritakan rahasia lain dari setiap keyakinanku?
Ayah meninggal saat usiaku 12 tahun. Aku menyaksikan dengan mataku detik-detik ketika jiwa meronta memohon pamit pada tubuh. Ia beristirahat dalam damai dengan senyum tulus, seolah melepas tugas dan tanggung jawabnya mencerdaskan anak-anak bangsa. Beban negara dan pengabdian menemui puncak.
"Guru..."
Tangis pecah mengguyur tubuh yang terbujur kaku. Dia benar-benar wafat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Waktu merangkak terasa lebih menyakitkan. Ia telah meninggalkan wasiat luhur atas tulang rusukku. Lalu haruskah aku mengakuinya sebagaimana jiwa raga ini kagum atas dirinya?
Dan hari-hari seperti ini rasanya seperti semakin menjauh kenyataan itu. Sebab kuputuskan untuk bertemu lagi dengannya dalam hening bening malam, lalu memohon maaf, perempuan itu telah pergi.
Dalam doa puisi, air mata mengisi setiap sisi jiwaku. Lalu dengan polos aku marah padanya
"Ayah kau sunggu egois"
Bersambung
...

0 Komentar