Header Ads Widget

Ilalang Patah


Belum juga kemarau bergulir. Matahari masih lihai menggoda ubun, membakar tawa yang berserak di ruang ingatan. 

Belum setengah gunung kita daki, belum seberapa jurang menjebak lelah, dan belum juga kita lebih jujur pada langit.

Di lorong waktu yang kini menghitam, kupungut  rindu yang kau buang selepas pergimu siang itu. Kala itu matahari mencumbui kulit, menjamah sekujur tubuhku dengan bara, aku bergetar dibuatnya pasrah pada salam pisah di ujung kisah.

Ilalang patah dipijak waktu, batu-batu kaku memangku janji. Dari balik awan yang direnggut angin, aku mengintip langkahmu satu-satu menuju lautan tanpa sedikitpun risau pada debar dadaku. 

Aku membaca jejak yang mulai menjauh bersama matahari. Mencoba menerjemahkan luka di telapak yang membekas serupa gumpalan darah. Inikah noda yang kau titipkan pada waktu.

Aku menuruni lereng-lereng curam yang menyembunyikan bekas bibirmu yang mengecup keningku saat malam-malam dingin, yang sudah-sudah, dan kini hanya bekas ludahmu yang menempel di mataku.

Ke mana pergi lagi hati mengembara. Sebab telah kutetapkan tersesat di hutan hatimu, tak peduli serigala dan segala perkara, tak peduli harimau yang mencabik-cabik  daging sepanjang hari.

Ilalang telah patah, sebentar lagi lapuk lalu hancur, dan aku masih berdiri di hamparan sabana yang perna menyaksikan bagaimana kita berikrar dan akhirnya diingkar oleh lingkaran paham yang hampa. 

Maafkan aku yang memilih mencintaimu tak peduli musim yang tak lagi berpihak padaku, tak peduli pamitmu yang begitu pahit. Bukan tak tahu diri, hanya saja aku tahu hatiku tak pintar berbohong. Telingaku tuli menghiraukan mata yang melihat kata-kata tak tahu malu ini. Sebab aku tak pernah membenci cinta, sekalipun tak pernah kuratapi dia sebagai pedang. 

Dan kini aku mencintaimu dalam matahari. Dalam angin. Dalam hujan. Dalam dingin. Dalam panas. Dalam mata. Dalam kantuk. Dalam hati yang paling dalam. 

Bagaimana mungkin aku berbohong pada ranting yang kemarin memberi tunas, bagaimana bisa aku menolak bunga yang mekar di kemarau dadaku. 
Bagaimana kukutuki cinta yang besar ini.

Aku bukan apa-apa dan tak ada apa-apanya dari rentetan nama perempuan hebat yang membanjiri sejarah, aku hanya perempuan biasa yang tak pernah menolak berhenti mencintaimu. Dalam diamku, dalam hening, dalam teduh, dalam sunyi jalanku.

Ilalang telah patah, sebentar lagi lapuk lalu hancur, dan aku masih mencintaimu seperti tanah yang bisu mencatat jejakmu.

Kini aku tahu
Mencintaimu adalah pekerjaan yang tak pernah kusesali. 

Di bawah rindang harapan, aku masih setia memelukmu. Sekali waktu bercermin pada waktu yang mulai retak, masih sama kudapati wajahmu dibalik kepala dan dadaku.

Cinta, aku tak pernah memintahnya dan kini tak pernah mengusirnya.

Angin yang marah, bawah aku terbang, jauh ke langit tempat semua puisi dipertanggungjawabkan. Tempat semua bermula dan berakhir.

Ilalang yang patah, maafkan aku dan waktu yang mencintaimu dengan keras kepala.

Posting Komentar

2 Komentar