Header Ads Widget

Berkaca pada Buku

Putri Komodo Cermin Buram Perempuan Flores



Judul             : Putri Komodo
Pengarang   : Michael Yudha Winarno
Tebal            : 290 Halaman


Sastra sebagai pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah dipermenungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling  menarik minat secara langsung lagi kuat_pada hakekatnya adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa (Andre Hardjana, 1991). Singkatnya Sebuauh karya sastra tidak lahir dari kekosongan  belaka. Masyarakat  secara tidak langsung menjadi faktor apa yanng harus ditulis orang, bagaimana penulisnya dan untuk siapa karya sastra ditulis, dan apa tujuan atau maksudnya.

Novel adalah gambaran dari kehidupan dan perilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis (Clara  Reeve, 1785). Novel menampilkan seorang tokoh yang mengalami kemunduran dan kemajuan karena sebab-sebab tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. 

Membaca judul novel karangan Michael Yudha Winarno “Putri Komodo”  kita diarahkan pada komodo sebagai sebuah nama yang melekat dengan NTT khususnya Flores, dan nyatalah bahwa novel ini mengisahkan jalan hitam kehidupan perempuan dalam kehidupan sosial, tekanan adat dan agama. Isu yang diangakat di sini adalah Human Trafficking, yang mana Flores dan Nusa Tenggara Timur adalah surganya.

Membuka novel Michael  Yudha Winarno menghadirkan sebuah percakapan langsung  yang menyentak:
“SAYA TIDAK MAU ke Malaysia!”
“Engkau harus berangkat Fanty”
Penggalan kalimat langsung pertama “SAYA TIDAK MAU” tiga kata yang ditulis dalam huruf kapital membuka novel ini dapat dibaca sebagai sebuah penekanan atas makna perlawanan, sebuah ungkapan, pemberontakan akan sebuah belenggu dan tekanan karena unsur keterpaksaan.

 Gambaran kemiskinan yang diperlihatkan pengarang mendorong Fanty dan perempuan-perempuan Flores lain harus menjadi TKI  di luar negeri, yang menarik  bahwa Michael Yudha melibatkan data berupa bundelan kliping (hal.93-95) yang memperlihatkan maraknya kasus perdangan manusia yang mana melibatkan oknum polda,  serta tak jarang korban dikembalikan dalam bentuk peti mati yang tubuhnya penuh jahitan dan organ dalam yang telah hilang.

Fanty sebagai tokoh ikonis di sini adalah seorang TKI yang dipaksa ayahnya untuk kembali merantau karena dalil kemiskinan. Selain siksaan fisik dan batin selama bekerja di luar negeri Fanty juga diperkosa ayahnya sendiri. Persoalan ini menggambarkan bagaimana tak jarang dalam kehidupan nyata beberapa kasus pemerkosaan yang tidak lain pelakunya adalah orang terdekat dan orang dengan latar belakang keagamaan yang kuat.

Hidup sebagai perempuan yang hamil akibat pemerkosaan tentunya tidaklah muda. Butuh dorongan kekuatan dari orang-orang di sekitar.
“memang semua berubah,kak. Tapi kita sendiri yang  harus  merubahnya. Mau segera bangkit dengan peluang-peluang baru di masa depan atau tetap meratapi hari-hari kemarin.”  
“memangnya muda menjalani ini semua?! Coba kalau engakau yang jadi saya, coba kalau laki-laki yang jadi perempuan korban perkosaan dan hamil dan harus merawat bayinya juga...(hal. 195)

Meskipun pada akhirnya anak yang dilahirkan Fanty harus meninggal saat ia sudah bisa menerimanya, Fanty dilukiskan kembali sebagai perempuan yang baru , yang tegar dan tak pernah takut menghadapi tokoh-tokoh masyarakat yang berpegang pada adat begitu kuat.
 “hei, engkau Fanty! Pergi saja dari kampung kami. Kami tidak memiliki masalah soal hubungan laki-laki dan perempuan....(hal. 210)
Keberadaan adat yang kuat ini menjadi salah satu persoalan yang memojokan perempuan seperti pada urusan domestik, dapur, sumur, kasur, serta persoalan Belis yang  bergeser maknanya seperti pada kutipan :
“ya, saya tahu itu. Tapi mengapa kalian laki-laki juga sangat sedikit dipihak kami?”
“karena kita laki-laki tidak mau kehilangan kontrol dan kuasa atas kalian para perempuan, apalagi dengan membayar belis saat perkawinan, itu artinya perempuan sudah menjadi milik laki-laki. Jadi terserah mau diapakan istrinya.” (hal. 245)

Fanty yang tak gentar memprotes hadir juga dalam percakapan lain ini:
“...kenapa kita orang selalu  hidup dalam kesusahan dan penderitaan?”
“mungkin itulah salib yang kita panggul...”
“dan sambil memanggul salib kalian laki-laki masih juga menikmati untuk memperkosa dan sembarangan meniduri setiap wanita...? (hal. 247)

Totalitas dari perjuangan itu adalah penyerahan diri kepada Tuhan. Perempuan-perempuan pada umumnya ketika menghadapi situasi yang rumit dalam ketertindasannya adalah makluk yang selalu pasrah pada kehendak Ilahi.  Perempuan tidak lemah namun disisi ini ia memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan makluk yang diciptakan untuk melengkapi adam ini terus terjatuh dan hancur dalam jurang gelap kesedihan.

Michael Yudha Winarno di akhir memberi penggalan yang menjadi permenungan bersama:
Sontak semua orang menjadi sadar tentang bagaimana mereka harus  menyelesaikan masalah yang sedang terjadi saat ini. sebuah solusi sederhana yang tidak pernah disadari sebelumya. Bahkan meski begitu banyak simbol perempuan dalam rupa  Bunda Maria dipuji-puji, dan Novena Salam Maria yang hampir tiap hari didaraskan oleh setiap orang di pulau Flores. Yaitu dengan menempatkan martabat dan kehormatan perempuan sebagaimana umat dan penduduk pulaui ini melakukan devosi kepada Bunda Maria (281).

Pada akhir kisah menyebutkan Fanty lolos sebagai bupati Sikka, secara lebih luas dapat dimaknai sebagai sebuah harapan akan lahirnya sosok-sosok perempuan  berani yangn mampu tampil sebagai pemimpin, dan menempatkan keterlibatan perempuan dalalm politik, tentunya ini adalah pekerjaan rumah untuk perempuan-perempuan semua.

Novel ini membangkitkan semangat zaman yang menuju emanisipasi wanita ke arah persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, sebuah perjalan hidup yang patut mengispirasi untuk tegap berdiri dan melangkah sebab masa depan adalah milik kita, securam apapun kehidupan yang lalu, seberat apapun salip, kemenangan adalah milik mereka yang  berani menjalaninya.

Daftar Pustaka

Hardjana,  Andre.1991. Kritik Sastra:Sebuah Pengantar.  Jakarta: Gramedia.
Wellek, Rane  dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Winarno, Michael Yudha. 2017.  
Putri Komodo. Bekasi : Vokus Media.


 

Posting Komentar

0 Komentar