"Matahari Terbit" itu Telah Berpulang
(Untuk kekasih kami Yosafat Loyobohor yang berpulang)
Loyo bohor, kolo' obi heler, laleng heker ke bele be' Nimun Rian Arin Baran ne' hara' laleng.
Kamis, 27 April 2023, sudah larut malam, duka masih merayap di atap Loyobohor, tanah masih basah tambah lagi basa air mata. Oh, segala menjerit pada maut yang saling berpaut. Dosa apa Tuhan, engkau titipkan kematian yang bersahutan.
Malam itu gigil merangkak di lorong-lorong kampung, gemetar bibir merayu maut yang bertaut di muka pintu. Sayup malam memecah tangis, terlalu cepat, sungguh terlalu cepat, terlalu mustahil untuk dipercaya, dan jika boleh jujur sungguh luka ini tidak dapat diterima hati kami.
Segala patah dalam, menikam jiwa, kelam merajam. semuanya patah, cinta dari seorang perempuan yang memberi dirinya untuk melengkapi hidupmu, rindu yang tumbuh dalam darah putra-putrimu untuk menulis banyak cerita bersama ayah mereka, rindu orang-orang Loyobohor untuk mendekap fajar harapan dalam kemudimu. Ah, maut memang penuh kejutan.
Matahari yang kami saksikan baru terbit kini telah berpulang. Diremuknya jantung seisi leu au'. Ia tertidur dengan doa-doa di kepalanya, dengan tumpukkan kerinduan yang mungkin sedang diperjuangkan untuk tanah tempat tubuh dan rohnya mengabdi. Dia telah tenggelam untuk terbitnya yang abadi. Ia telah pulang, tinggal rona senyumnya di tribun kecil itu, garis-garis perjuangannya yang dicat abadi di lapangan voli kecil di pinggir jalan kampung. Juga suaranya yang menjadi titah paling cinta.
Dia tidak benar-benar pergi, kami tahu dia tinggal di antara tawa bocah-bocah kampung saat bermain air yang tumpah di ujung kampung. Ia duduk dan tersenyum di antara orang-orang kampung yang melepas kehausan akan setetes air dari sumur di ujung jalan itu. Ia air mata juga mata air yang melepas kemarau rindu yang panjang di jantung kampung.
Di matanya, kami baru saja melihat cahaya itu merekah di balik bukit, menyanyikan mars sepanjang tahun hidup kami "Loyobohor Bersinar". Cahaya yang menyusup dalam embun pagi dan kerinduan kami untuk bersama membangun leu' au' menjadi lebih maju.
Ia tidak benar-benar tenggelam, ia tinggalkan cinta yang biru. Cinta yang ditumbuhkan dengan segenap abdi untuk nasib leu au', cinta yang ditabur dengan seluruh jiwa dari Bukit Karang sampai Leu Nadal, dari Tamal maren sampe Ta' laleng. Cinta yang terus terbit dalam ingatan kami.
Seperti namanya, Ia tetap Loyobohor bahkan dalam tenggelamnya yang damai. Ia tetap bersinar memeluk embun-embun kerinduan kami, tersenyum dalam ingatan kami. Dia akan tetap tinggal dalam ingatan-ingatan kami sebagai Loyo bohor.
Beristirahatlah dalam cinta kekasih kami "Yosafat Loyobohor", Kebaikanmu tidak akan pernah tenggelam, karya-karyamu akan terus bersinar dalam ingatan kami. Memimpinlah dalam tidurmu yang paling cinta.
+

0 Komentar