Header Ads Widget

Catatan Pranikah

 



Mama dan Cinta yang Cuma-Cuma

 

Mama memberi dadanya dengan cuma-cuma

Bulir padi yang ranum di bibirnya

Laut yang teduh di bola mata

kembang bunga di helaian rambutnya

 

Ia membiarkan kita menyusu dari embun

Sejuk memeluk di bawah alis yang rimbun

Tetapi kita patahkan setiap dahan pohon

Dan menanam tiang-tiang beton

 

Mama hidangkan  tubuhnya dengan ikhlas

Ia berikan paru-paru dan segenap nafas

Dari gunung tubuhnya susu menetes

Sayangnya, kita selalu haus

 

  

Senja di Kota Lama

 

Aroma jagung bakar

Juga penjual kopi yang kesepian

Rindu pun lapuk di tembok-tembok toko

sesekali matahari dan angin

yang merayap turun

dari ujung menara

 membelai lebut rambut

sayang, janjimu terjepit bersama plastik

 di kerongkongan karang

kenangan dan gelas bekas,

tertinggal di tepi pantai

aku peluk hati yang berombak

dan puisi yang hanyut bersama pembalut

Sungguh cinta yang manis

dengan aroma laut yang amis


 

Catatan Pranikah

 

Belis aku dengan seribu pohon

dan ladang jagung yang membentang

biarkan derak daun mengantar kaki ke altar

dan cinta mengekal dalam gemericik air

 

Inilah yang aku minta darimu

sebuah rumah dengan rumput basah

dan kembang-kembang manis

di setiap musim yang mungkin pahit

  

Anak-anak kita

Akan menikmati pagi yang gurih

Dengan matahari di balik bukit hijau

Kicaun burung dan embun di dahan

 

Kita akan merayakan senja di kaki bukit

Menganyam kembali ingatan

Mengumpulkan cerita dalam bakul

Yang seusia pohon tuak depan rumah

 

Di bale bambu di bawah rimbun pohon

kita duduk menyaksikan

generasi kita berlarian dengan kaki telanjang

dan cinta yang tak purna bakti

 

Kupang, 22 April 2023

 

Ati D. Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekali pun

Posting Komentar

0 Komentar