Kita Masih Manusia
Angin yang nakal
Dan kenangan menjadi badai kecil
Hujan menghapus nama kita di kaca jendela
Dan rindu membeku di sudut mata
Kita belajar berdamai dengan ingatan yang ramai
Sebab bagaimana mungkin kita bersengketa
Sementara kita pernah dekat merapat
Tanpa ada patok di satiap jengkal tubuh
Kita masih manusia
terjebak dalam rahasia
Terlempar dalam skenario yang samar
Dan takdir yang suka tarik ulur
Amnesia
Luka menimbun duka di keruh mata ibuku
Cinta yang pucat di penghabisan nafas
Ketidakwajaran berlari maraton
Kami serupa menonton sandiwara panjang
Di atas panggung dengan segerombolan anjing-anjing liar
Tanah-tanah yang tercabik
Dan cinta yang anarkis menjadi topeng
Terus terang saja
Kami tersipu malu setiap kali erangan-erangan romantis terngiang-ngiang
Kita pernah sedekat nadi berbicara tekat
Keringat dan kematian pernah engkau janjikan
untuk mempertaruhkan nafas ibuku
Semoga engkau tidak hilang ingatan
Sebab kata-kata yang terlontar dari lidahmu
Telah menjadi pisau membela dadaku
Segala tinggal di sana kegelapan yang panjang
Dan kekerasan yang menghantui tidur anak-anak kami
Jalan Jauh Lama Tak Pulang
Sudah sekian purnama
kita melepas cumbu
di hadapan tungku
Musim-musim yang gugur
Melebur asap kayu bakar
Waktu menghitam dalam kabar
Abu dan kenangan masa kecil tertinggal di pori kulit
Jalan yang jauh membentang sabana
Meruncing kangen dan pulang
Sudah lama kita bercengkrama manja
Di bawah cahaya bulan
Dan sejuk embun di dahan malam
Sudah jauh anakmu pertanyakan dunia
Tetapi segala jawab terbendung
Di kerut kening dan teduh tenang matamu
Sudah berpuluh hujan kita terobos
Dalam gigil peluh
Dalam lumpur keluh
Di bawah garis hitam mata luka-luka terjaga
Musim yang liar dan kelapangan tertidur di sana
Cinta yang lapang memanggil pulang
Kupang, Maret 2023
Ati D. Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun

0 Komentar