Header Ads Widget

"Tower Sulung" itu Telah Roboh


Gambar: kondisi Tower di desa Roho, Kecamatan Buyasuri usai diterpa angin kencang pada malam 1 Januari 2023. Sumber: akun Facebook Papa Jenggot.

"Menyaksikan Tower itu di tahun 2006 adalah melihat negara benar-benar hadir. "

 

Januari yang baru lahir menyisipkan kecemasan dalam aroma tuak, hujan, lumpur, dan angin. Ada ketakutan yang bercengkrama manja di mata penduduk yang mendiami Wilayah Timur Lembata. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setidaknya telah mengingatkan warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama akhir Desember 2022 sampai awal Januari 2023. Hujan deras dan angin kencang diperkirakan akan terjadi di bumi Flobamora.

Di lansir dari republika.co.id (https://www.republika.co.id/berita/rnpfbb485/bmkg-ingatkan-warga-ntt-waspadai-cuaca-ekstrem-sepekan-ke-depan) Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengatakan, terdapat gelombang equatorial Rossby aktif di wilayah NTT dan daerah tekanan rendah di daratan Australia menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan serta peningkatan kecepatan angin. 

Malam pertama di Januari 2023 meninggal patah hati sendiri bagi penduduk di kaki gunung Uyelewun; Tower setinggi 72 meter itu kini betul-betul ambruk. Dari tahun ke tahun sejak 2006 sampai 2023 "Tower Sulung" itu menjadi salah satu yang ditakuti menjadi korban angin kencang yang melanda wilayah Kedang setiap tahunnya.



Berdiri kokoh di Desa Roho, sebuah kampung kecil di Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata sejak 2006, Tower ini mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Bagaimana tidak, keberadaannya menandai lahirnya era baru sistem komunikasi melalui telepon seluler di wilayah ini. Meskipun kala itu hanya kalangan tertentu yang memiliki telepon genggam. 

"Tower Sulung" ini setidaknya menyumbang kebahagiaan sederhana di hati masyarakat. Bisa melihatnya secara langsung saja sudah menjadi prestasi bagi anak-anak masa itu, sebuah kebanggaan tersendiri dapat menyaksikan rangkaian besi yang menjulang tinggi dengan cat merah putih itu. Ada kisah serupa pencapaian besar yang tidak usai dikisahkan kala itu. Menyaksikan Tower itu di tahun 2006 adalah melihat negara benar-benar hadir. 

Januari yang basah "Tower Sulung" itu menyisahkan patah hati yang dalam saat merayakan happy seventen. Seperti remaja yang putus cinta ia remuk dan hancur. Kini jika berada di atas ketinggian yang berhadapan dengan gunung Uyelewun dari sisi Kecamatan Buyasuri hanya tinggal atap-atap rumah, menara masjid dan gereja, sebab besi-besi merah putih itu telah patah serupa harapan petani tahun ini.

Musim hujan selalu meninggalkan lumpur tersendiri bagi orang Kedang atau yang dikenal dengan ata dien Edang. Sebutan ini mewakili kelompok manusia yang mendiami wilayah Timur Negeri seribu paus itu. Orang Kedang memiliki kekhasan bahasa sendiri yang berbeda dengan etnik Lamaholot atau pun lainnya yang mendiami pulau Lembata. Musim hujan dalam bahasa Kedang adalah uya wara', terjemahan harafiahnya 'hujan angin'. pasangan kata ini merepresentasikan hujan yang disertai dengan angin kencang. Jika bahasa dan budaya adalah kesatuan yang utuh maka dapat dikatakan, bahwa makna kontekstual ini lahir karena kondisi geografis wilayah Kedang yang memiliki potensi angin kencang pada musim penghujanan di setiap tahunnya. 

Terlepas dari peta BMKG dan segala gejala cuaca dan geografis lainnya, kondisi ini telah menetap menjadi keyakinan. Dalam tradisi lisan etnik Kedang, angin kencang yang datang dari gunung ini merupakan bentuk kemarahan alam karena manusia telah melanggar pamali. Setiap kampung yang berdiri di kaki gunung Uyelewun,  diyakini memiliki nata' puting 'tempat terlarang' masing-masing yang dianggap sakral dan tidak bisa dirusak atau disentuh oleh tangan manusia sebab akan mendatangkan musibah angin kencang yang merusak hasil pertanian dan perkebunan, rumah-rumah penduduk, juga korban jiwa.

 Sebut saja contoh di Desa Loyobohor masyarakat meyakini bahwa menarik "Wei" sejenis tanaman melata yang tumbuh di dekat mata air terlarang di gunung akan mendatangkan hujan sedang disertai dengan angin kencang. Hujan angin ini akan berhenti jika seorang yang dipercaya sebagai pawang angin di kampung melakukan ritual yang dikenal dengan "nobung wara'". 

Dalam budaya tutur ini setiap kampung memiliki angin kencang dengan karakteristiknya masing-masing. Sehingga tidak jarang ditemukan pertanyaan dalam masyarakat seperti, "angin no'o leu ape se'e' ?"("angin ini milik kampung apa?"), setiap kali angin kencang melanda wilayah ini. Konsep kosmologi yang diajarkan oleh budaya seperti ini, menggambarkan bagaimana alam dan manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. Keyakinan yang tumbuh dalam masyarakat mengajarkan hubungan yang harmoni antara makrokosmis dan mikrokosmis. 

Januari 2023 yang basah dan Tower Sulung yang telah ambruk itu setidaknya meninggalkan refleksi panjang sudah seharmoni apa kita dengan alam?


Ati D.



Posting Komentar

0 Komentar