Di Kaki Maria
Ada spasi yang melebar setiap kali lutut mencumbui lantai
Dua jarak yang renggang setiap kali membubu tanda salib
Di bening mata Ema dosa-dosa yang hening menggaung
Hujan dan lumpur yang melumur tubuhku tidak sanggup aku lipat
Marahkah Engkau padaku?
Malu-malu aku lucuti segala yang membalut tubuhku
Sekarang terserah padaMu
Ema, kami hanya tubuh tunas di tanah tandus
Yang belajar mengakrabi Golgota dari kerapuhan masa muda kami
Kububu lagi tanda salib, memaku sesal di ruang paling sunyi tubuhku
Pasal Kecil dalam Hidupmu
Engkau tuliskan sesuatu yang paling tabu
Diksi-diksi yang berhimpitan di dada kita
Sekumpulan rindu yang terjaga sepanjang malam
Mimpi-mimpi liar yang terperangkap di gedung-gedung pemerintahan
Pertanyaan-pertanyaan kecil berputar
Bayang-bayang kali mati, pohon asam, dan kaki masa kecil berlari
Katamu, "setiap kita masuk dalam lingkaran purba itu"
Ada ayat kecil yang menjaring kita di sana
Cinta, kenangan, dan pembangunan
Usai
Sudah usai puisi paling jalang
Untuk rasa yang paling suci
Sudah sekian
Kita teguk kecewa
Sudah begitu saja
Meski kita selalu gagal
menyelesaikan pertanyaan,
"Mengapa aku mencintaimu?"
Penfui, Desember 2022
Ati D. Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun.

0 Komentar