Header Ads Widget

Ema Bota dan Bola Kaki

Gambar: Dokumentasi Enno Jrx
 

Ema Bota dan Bola Kaki

Sudah sedari pagi perempuan setengah abad itu menempati tempat sayur di sebelah kiri jalan. Pasar Ikan yang tidak begitu besar hiruk pikuk dari malam menemui pagi kembali malam. Tidak berbeda jauh dengan September musim ini, sekali pun orang-orang berdesak-desakan di Gelora 99 yang sedang ramai dibicarakan itu, tidak mengurangi gelora semangat perempuan-perempuan yang setia dengan tumpukan kangkung dan ikan tembang di salah satu sudut Lewoleba. 

"Beli ikan?" Lelaki di ujung pasar menawarkan ikan kepada setiap mata yang lewat. Tidak ada sahutan hanya geleng-geleng kepala. Memang susah juga orang-orang sekarang mengeluarkan suara. Tetapi sudah biasa bagi Anton, lelaki yang sudah sepuluh tahun hidup dari bauh amis ikan di sudut TPI itu menghadapi berbagai jenis manusia yang lewat di hadapannya dan melihat-lihat tumpukan ikan yang dijual. 


Hidup di kota kecil ini memang tidak terlalu menjanjikan, tetapi bagi orang-orang di pasar TPI mati hidup jantung mereka sepenuhnya untuk tanah yang menumbuhkan jagung dan kangkung untuk hidup mereka, laut yang memberi makan keluarga mereka. Meskipun tidak jarang Saripa yang menjual jagung Titi di jalan masuk mengeluh kalau suaminya hampir setiap hari mengantri bensin dan pulang dengan sedikit ocehan di pintu rumah, " Ema, antrian panjang sekali le." 


Sore di September kali ini sedikit berbeda, Saripa tidak terlihat di jalan masuk. Hanya ada beberapa pembeli keluar masuk mencari bahan olahan makan malam. Dengan siri pinang penuh di mulut Peni berkata, "macamnya sepi le, orang dong pi nonton semua le." Secepat kilat ucapan itu disambar Anton sang penjual Ikan, "Jo ini hari kita main po." Percakapan terhenti ketika angin sore dan aroma laut berperang di salah satu sudut Lewoleba, Ema bota dan sebuah android di tangannya,. smartphone itu digenggam kuat sekali, di kiri kanan Lena dan Bengang mengapit kepalanya, ketiga perempuan penghuni pasar TPI itu menampakkan rona semangat dan antusias menonton pertandingan. 


Ema Bota memang berbeda, kekuatan suara dan kata-kata Ema Bota serupa api yang membakar siapapun. "Tipa' oyo' amo," kata-kata ini meluncur bak anak panah, penuh penekanan dan perintah. Pasar yang sepi pengunjung itu seketika berubah menjadi stadion bola kaki dengan pertarungan suara komentator dan em Bota. "Balas ka! Bawa bola terus jang sampe los" suara Ema Bota terus meraung hingga teriakan, "gol...po..." Semua mata menatap Ema Bota, raut wajah bahagia menyelimuti semua penjual, suara tawa pecah menyaksikan gelora jiwa Ema Bota. Seperti biasa Ema Bota selalu malas tahu. Ema Bota bahagia sekali, dengan wajah berseri ia memberi penegasan, "lima belas menit lagi, pinalti le sa yakin ni."


Ema Bota dan perkiraan-perkiraannya memang tidak pernah meleset. Jantungnya berdebar kencang saat kiper kesayangannya berdiri menjaga gawang. Setiap penendang pertama bagi Ema Bota adalah juru kunci kemenangan. Dengan menahan nafas detik-detik mendebarkan itu terpatahkan dengan gol pertama. "Awal yang baik," kata Ema Bota seperti melepas beban berat di pundaknya. Lena dan Bengang di sampingnya tersenyum puas. Menyaksikan wajah ketiga perempuan tua ini seperti melihat bentangan laut dan hamparan bukit di tanah Lembata, perahu nelayan dan topi petani yang terbakar matahari, tetapi di sana kuncup-kuncup bunga liar bermekaran, ilalang menari dalam angin, dan hujan pertama musim tanam turun seperti doa-doa yang bekejaran lalu pasrah sampai di tanah. 


Pertandingan berakhir dengan meninggalkan kepuasan di hati Ema Bota, ia matikan smartphonenya dan menyelipkannya di ikat sarungnya. Sementara matahari menjatuhkan tubuhnya dalam lautan dan bulan menggantung di mata para pedagang sayur dan penjual ikan. Semoga malam ini nasib pun dimenangkan.

***

Pertandingan yang dinantikan datang kembali. Ema Bota telah berjanji jika tim kesayangan menang ia akan turun langsung menempati salah satu tempat di tribun dan menyaksikan lebih dekat ke dua tim menggiring sang kulit bundar untuk sampai membobol gawang. 


Pukul 12.00 Ema Bota meninggalkan TPI. Matahari membakar kulitnya saat ia berjalan kaki menuju rumahnya yang berjarak 1000 meter. Siang itu di pintu rumah Rino, putra pertamanya menyabut dia dengan pertanyaan, "Ema sudah pulang? Kenapa tidak telepon saya jemput? Ema Bota tidak menjawab. Ia meletakkan karung sayur dan duduk di bale bambu yang ada di bawah pohon jambu. Rino hanya memperhatikan Ibunya itu dengan teliti. Setelah menunggu beberapa lama barulah pertanyaan itu dijawab Ema Bota. Pelan ia melempar tatapan kepada putra pertamanya dan berkata, "Sudah e..., Ema mo nonton bola sebentar. Jadi engko punya tugas beli kasih ema tiket dan antar, Ema."

Rino hanya tersenyum mendengar jawaban ibunya. Sedikit menggoda dibalasnya ucapan ibunya itu,

 "Ema mo nostalgia e...."

"Engko iri dengan Ema punya kisah cinta ka? Bawa datang sudah itu oa yang engko telepon dari tengah malam sampe subuh itu."

"Ema ini serius tidak le?"

"Kalau kita punya tim menang."

"Ema taruhan ini? Setuju emaku sayang."

"Setuju, setuju....,engko pikir orang punya anak murah macam harga tiket sewa tribun."


Percakapan ibu dan anak itu berakhir dengan makan siang. Nasi putih campur beras jagung, semangkuk sup kelor, beberapa potong ikan tongkol, sambal tomat, dan cinta yang sederhana. 


Kurang satu jam pukul 15.00 Ema Bota telah menduduki satu tempat di tribun. Tempat itu telah ramai dipadati penonton. Penonton bahkan membanjir hingga ke atas tebing di salah satu sisi lapangan. Ramai-ramai orang berdatangan dari segala penjuru. Sepak bola memang menyatukan. Di sana semua orang berdiri dengan doa-doa paling tulus yang ditulis dalam hati, dengan ribuan emosi yang melebur bersama panas dan kegerahan. Semua ekspresi spontan memancar ke luar. Orang bebas marah dan berteriak, menangis dan kecewa, semua di sana.


Di tengah keramaian itu, sesuatu di tembakan, mengepul ke atas. Ema Bota marah-marah pikirnya siapa sudah meledakkan bom. Orang-orang di sampingnya tertawa renya mendengar ocehan Ema Bota. "Itu gas air mata Ema," kata Rino yang setia mendampingi ibunya dari membeli tiket hingga duduk di tribun hingga akhir pertandingan yang lagi-lagi berakhir dengan kemenangan atas Adi penalti. 


Ema Bota senang sekali sepanjang jalan pulang. Di atas motor Supra warisan suaminya itu ia tidak berhenti mengucapkan syukur. Sungguh syukur orang-orang sederhana memang tidak ada alat ukur. 


Cerita kemenangan, penalti, dan gas air mata menjadi trending topik di setiap sudut kota tidak terkecuali di antara para pedang ikan dan sayur. Sehari setelah kejadian gas air mata itu, Ema Bota kembali ke pasar seperti biasa, menjual sayur untuk kebutuhan keluarga dan membayar pajak untuk negara, lalu melihat-lihat jam jangan sampai pertandingan sudah di mulai. Android yang diberikan anak lelaki pertamanya itu belakangan menjadi barang yang sangat penting. Kalau Ema Bota sudah mengeluarkan dari ikat sarungnya, dari sebelah Bengang berteriak, "Ema Bota, sudah mainkah?"


Sore dengan aroma sayur busuk dan air ikan itu tidak disangka-sangka adalah sore yang paling menguras emosi Ema Bota. "Siapa ajar Kom begitu? Menang kalah barang biasa ka," suai Ema Bota tiba-tiba memekik, raut mukanya dibalut kemarahan dan kekecewaan. "Kenapa maka, Ema?" Tanya Anton dari seberang. "Oranga kaco di GOR," jawab Ema Bota. Sayup suaranya tertelan ombak di seberang. Ia marah tetapi merasa tidak berguna. Ia ingat wajah suaminya kala berdiri di bawah mistar gawang. Pelan-pelan ia berbisik seperti berbicara pada lelaki yang telah mendahului ia ke keabadian, "Bapa, bukankah sepak bola itu pemersatu?" 


Semenjak insiden kekacauan di GOR narasi -narasi mulai terbangun. Beberapa bahkan hanya memperkeru keadaan. Beberapa bahkan menarik-narik sejarah dan menjadikan senjata memecah bela. Ema Bota tidak mau ambil pusing. Setiap kali ditanya jawabannya hanya, "kalau semua orang melihat ada uang di barang bulat itu, jangan heran kita akan terus baku pukul."


Sejak itu Ema Bota berhenti mengambil android dari ikat sarungnya dan mengecek sudah berlangsung pertandingan atau belum. Ia bahkan tidak lagi tertarik menyaksikan tim kesayangannya di babak final. Ia bahkan tidak peduli dengan cerita Bengang yang bercucuran air mata mengisahkan bagaimana seisi Gelora 99 dipenuhi tangis haru di akhir pertandingan. Ia bahkan tidak peduli dengan Anton yang menyesal karena perkiraan-perkiraannya melenceng. Semua bagi Ema Bota sudah selesai. 


Minggu selesai misa pagi Ema Bota duduk di bale bambu. Suara televisi dari dalam rumah merobek telinga dan emosi Ema Bota. Ia masukkan siri pinang ke dalam mulutnya dan sedikit kapur. Pelan dikunya hingga semuanya melebur, ia buang airnya yang memerah itu. Ia tarik nafas panjang dan melepas dengan penyesalan, "bapa kom di surga main bola kaki, rusuh sampe mati juga ka?"


Matahari Minggu pagi itu lembut mengelus kulit Ema Bota. Dari sudut kebun suara babi mematahkan pagar kayu yang mengurungnya. Sudah memasuki 23 tahun tanah itu berdiri sendiri. Ema Bota hidup dari sayur yang dijual di pasar dan berjuang membeli pengetahuan dan gelar untuk anak-anakny dari babi di kandang. Tanah itu mungkin terlalu banyak tanda tanya di halaman berita, tetapi setiap kali menyebutnya ada kebanggaan yang bertunas di sana. "Rino, kasih makan babi jangan tidur terus, nanti baru minum kopi sedikit omong kemerdekaan." 


Pucuk pohon kelapa di halaman rumah dan aroma tuak yang diiris tetangga mereka, Lipus; menyempurnakan bau tanah hujan semalam. Hidup memang akan terus berjalan, selesai pertandingan satu, muncul pertandingan lain. Selesai pemimpin satu, muncul pemimpin lain, tetapi tidak ada yang selesai-selesai. 


Kupang, 12 Oktober 2022


Ati D. Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun.








Posting Komentar

0 Komentar