Header Ads Widget

Perempuan Siapa Yang Meninggalkan Surat Ini


Oktober

Adakah keheningan paling kangen,
Selain kening dingin ema di bawah bayang-bayang lilin,
Samar Ave Maria di ujung jalan kampung
Dan Amen yang mengguyur dari bibir merah siri pinang.
Cinta dan derita digenggam sampai pecah
Nama kami ia titipkan pada bulir-bulir kontas putih itu.

Perempuan Mana yang Meninggalkan Surat ini

Ingin kutuliskan surat untukmu
Dari getir dan debar yang merayap di sekujur tubuhku
Dari satu pasang mata yang lupa cara menangis
Dari tangan yang lupa menulis rindu paling erotis

Ini dari seorang perempuan
Yang kangen akan kebebasan

Boleh aku menulis pembukanya dengan terang-terangan?
Aku mencintaimu, lelaki yang berujar jujur dan liar sepertimu selalu menyeret dada perempuan seperti aku, terdengar malang tetapi itulah kenyataannya.

Mari kita masuk ke isi, tetapi tidak perlu buruh-buruh seperti engkau melepas baju perempuan di kos kecil itu. Maaf aku tahu ini tetapi itu tidak penting, engkau selalu menang ketika kita memperdebatkan ini, lagi pula aku pun tidak ingin terlihat 'tidak berbobot' (katamu) hanya karena mengurusi kelaminmu.

Mari kita masuk ke isi, tidak perlu marah dan maki-maki seperti biasanya. Atau kalau mau silahkan, katakan aku pelacur, pengecut, lalu bangsat, lalu sayang lagi, lalu bisikkan lagi cinta. Begitu seterusnya, bukankah manusia perempuan dan laki-laki mengekalkan pertengkaran sebagai api yang memanggang asmara hingga matang?

"Apa yang engkau pikiran ketika membaca surat yang tidak pernah menemui isi ini?"
"Seorang perempuan dengan dendam yang hitam."

Kuberitahu padamu, pada mata tajam yang menenggelamkan aku, dalam, dalam sekali sampai separuh diriku hampir hanyut menemui maut. 

Ingin kutuliskan surat ini, tanpa penutup. Tanpa akhir. Tanpa sampai jumpa. 

Boleh kuminta bacakan seperti dongeng malam pada anak-anak, bacakan sebab mungkin aku tidak lagi ada dalam kisah itu, ibu peri atau Cinderella yang terlalu berlebihan diceritakan. 
(Pada bagian ini hujan di luar, panas merangkak di tubuhku, kembang terakhir yang engkau tanam, mekar di bibirku, dan boleh lancang aku katakan, aku jatuh cinta berulang-ulang mengenang bagian ini)
"Jika kebaikan selalu identik dengan muka mulus, lalu kejahatan selalu pada buruk rupa, kecantikan seperti apa yang sedang kita bicarakan?"

Mari kita kembali ke pembuka, bahwa aku mencintaimu. Boleh aku tuliskan dengan sisa kejujuran dalam diri seorang perempuan, lelaki yang membicarakan negara, sepertimu; tampak seksi. Kami memang senang dengan kecerdasan, kami menyukai teori dan retorika selain janji-janji manis yang membuat hubungan di antara kita seperti menyongsong pilkada. Kami menyukai pesan-pesan yang dikirim setiap malam dari jam-jam kesepian kalian. Kami menginginkan kecupan panas dan pelukan yang hangat. Sayangnya engkau boleh mengatakan betapa egoisnya kami, kami hanya ingin itu untuk kami sebagai 'satu-satunya'. 

Engkau mungkin akan membaca ini dan tertawa, perempuan malang mana lagi yang menitipkan marah di sini? 


Menara Pasir

Tuhan, berapa jarak maut?
Sejengkal dari lautkah?
Hingga sekali ombak
Menara pasir hidupku.
Bila demikian
Telapak ini biarlah menjadi sajak
Agar ia tetap hidup di sana 
Saat jejak ombak meremuk nafas yang hanya titipan ini.

Penfui, akhir Oktober 2021.

Ati D., Perempuan yang mencintaimu dengan puisi paling sakit. 




Posting Komentar

0 Komentar