Foto: dokumen pribadi.
November
Aku berharap menulis hujan pertama dari bibirmu yang kembang sepe. Jalanan yang basah mengantarmu pulang dengan setumpuk gejolak di otak.
Tidak ada yang romantis di kota yang katanya paling kasih, hanya pelan-pelan November rain mengalun dari salon tua bemo yang memutar di bundaran Tirosa dan seorang gadis Timor Leste yang memegang payung di emperan toko.
Engkau kehujanan di mana hari ini? Kulihat tubuhmu tunas ilalang bukit cinta dengan sisa hujan dan rindu yang tersesat di sana.
Aku sendiri pergi ke Ketapang hari ini, merampok ombak dan cinta manusia di atas batu-batu karang, duduk seperti penyair yang kehilangan diksi di bawah sepotong salib, "Tuhan bagaimana engkau menulis hujan dengan begitu indah?"
Seorang Perempuan dan Sepotong Pertanyaan
Seorang perempuan menjunjung bulan
Menuruni jalan kecil di lereng gunung
Telapak tabah menenun mantra
di atas tanah
Di atas batu
Di atas dadanya sendiri
Engkau datang ke sini
Dan berbicara perlawanan
Ia membawamu dan memasukan kepalamu ke dalam tungku
Ia mengulang pertanyaanmu
"Apakah aku bahagia?"
Ia meletakkan kepalamu di atas sebuah batu
Dan menjadikannya emping jagung.
Lalu engkau paham apa itu "Melawan"
Ritual Rindu
Ama, masih boleh kupanggil engkau?
Sedang cinta su hanyut di laut
Bekas dada yang merah
Selalu marah
Masih sudikah engkau duduk di tikar lontar yang kita anyam dari subuh-subuh yang malang?
Di bawah atap ebang
Saya tunggu engkau pulang
Tetapi mengapa semakin menghilang
Kesunyian seperti apa yang telah membunuh kita?
Hingga berujar rindu saja seperti mengakui dosa di depan batu ritus.
Ama, kotakah yang semakin jauh atau kita?
Kata-kata su bukan lagi ema punya tungku
Puisi su tidak ada isi bapa punya parang
Atau sekedar menghidupkan bunyi tatong dari saya punya dada yang sunyi
Engkau bilang, engkau lelaki Lamaholot
Lalu mengapa menjadi pengecut?
Apa mungkin kita sedang bercinta
Dengan meleburkan politik
Di dalam kotak etnik?
Ama, puisi ini ritual rindu
Dari seorang perempuan yang engkau panggil ino
Kupang, 06 November 2021
Ati D., Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun
2 Komentar
Saya selalu suka tulisanmu. Berkarya selalu
BalasHapusTerima kasih, saya sangat berharap mendapatkan kritik dan saran untuk terus bernafas dengan baik. Salam🙏
Hapus