Header Ads Widget

Renjana Perempuan

 



Dirajam

segala yang keluar dari lidah perempuan adalah batu-batu yang dilempari mengenai dadanya. Sejurus bahasa mempersoalkan lekuk pinggulnya, mempertanyakan kemurnian selangkangnya, dan lentik alis matanya.

Sepotong kain telah menjadi perkara sepanjang masa, diperdebatkan di meja-meja kaca dan bangku-bangku kaku. Dipertaruhkan di mimbar-mimbar suci. 

Sehelai benang yang terlepas menghembus nafas kesesatan. Di dada yang ranum itu revolusi seakan hendak pecah di mata lelaki malang.

Gerombolan hujan jatuh menggenang dicupang hasrat, musim-musim ketika suara bertalu di beranda-beranda media, otoritas tanpa kepercayaan adalah sia-sia.

Lengking menggema bilik iklan, menggeser dan melengser identitas. Di puncak persetubuhan, terengah-engah doa meminta pertanggungjawaban, mengapa tubuh dirajam standar, lalu tanpa sadar kita adalah pembunuh itu sendiri.

Seorang Perempuan Lain

Beritahu padaku bagaimana merobek wajahmu, jika demikian kemerdekaan adalah memiliki cinta yang didambakan. Seorang lelaki telah menarik simpul tali, melepas dusta, mengail dalil kebebasan, lalu kita terjebak dalam lumpur asmara yang hambar. Sama-sama terkapar. 

Jalan cinta adalah pintu perbudakan yang sengaja terbuka, bila kepala jeli membaca. Sebab itu, rindu tidak lain adalah jalur melanggengkan penindasan.

Kutatap wajahmu, kau robek kepalaku. Ada tubuhku yang bersemayam dalam bola matamu. Berdarah-darah dihujam kecewa.

Sebuah bentangan padang ilalang merayu dalam sayu, mengapa mesti membenci?
Di bawah payudara setiap perempuan, ada perempuan lain. 

Tungku

Di antara asap itu mengapa kita mesti berdebat, sedang kehebatan bukan ukuran satu sendok garam yang salah kutakar.

Di antara tiga batu yang pasrah mengapa kita harus saling menjatuhkan, sedang kesetiaanku bukan perkara satu gelas kopi.

Di antara satu cinta yang kita tanak, seharusnya di hadapan tungku kita adalah tumpukan kayu yang menyatu dalam api.


Kupang, 10 Desember 2020



Posting Komentar

4 Komentar

  1. Sebab itu, rindu tidak lain adalah jalur melanggengkan penindasan.

    Saya suka ini. Dan itu yang sering terjadi di antara manusia. Terima kasih sudah menulis. 🙏✊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca. Semoga ada rindu-rindu bodoh yang banyak ditulis🤝🌱

      Hapus
  2. Salut adik... Keberanian mengungkapkan realita dengan imajiasi yang tinggi.. perempuan bukan Tuhan. Salam hormat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab ketakutan adalah benalu bagi inangnya.
      Salam hormat tata. Salam ke situ🌱🌹

      Hapus