Sepasang Sandal Jepit
Kupang, kupulang lagi
Mengais doa di got-got
Memungut ujud-ujud yang jatuh bersama hujan November
Juga kecemasan yang dikemas kembang sepe
Dari emperan-emperan tokoh
Dari tenda-tenda kecil pasar
Dari ruang-ruang sipil
Berdiam sebentar mengupil
Di lorong paling sunyi di kota ini
Di mana orang-orang berguru pada bulan
Penyair-penyair mengenakan jubah kata
Penari-penari melenggak-lenggok
Melompat-lompat di atas kisah klasik
Pelukis menumpahkan tinta di atas wajahnya
Di kota tempat anak-anak Cendana cengar-cengir merayakan kemelaratan
Membaca birokrasi dari balik nasi kotak
Dan seniman menutup pintu zaman
Dengan bangga mengibarkan bendera budaya
Dalam ratapan
Dalam teriakan
Dalam alunan sasando
Dalam segala yang dirasa dalam
Tetapi aku tidak menemukan kaki pemilikku.
Penfui, 08 November 2020
Perempuan di Batas Kaca
Ada desah menderuh hasrat
Retak pula kaca-kaca di bola mata
Lidah-lidah kaku mematuk
Mengetuk palu atas akhlak
Selangkangan telah menjadi sesajian
Kepada berhala-berhala nafsu
Separuh dirampok angin
Ke timur dan barat menjadi badai
Surga dan neraka berperang dalam erangan
Ada tubuh yang tersudut
Membalut segala kemelut
Bukankah persetubuhan adalah amen dua kelamin?
Penfui, 08 November 2020
Berguru di Dadamu
Di dadamu aku belajar menyusui
Isu kewarganegaraan dan kewarasan
Ilmu Sejarah dan luka larah
Sebab sepasang buah dadamu yang menolak besar
Telah menjelma sabda sepasang buku dan pensil
Tempat setiap kesesakan ditulis sambil dieja satu-satu
Penfui, 08 November 2020
Jembatan Lain
Ada jembatan lain
Membentang antara kesunyian tubuhku
Diam merekam jalan pulang
Dan jejak yang berdarah di ujung malam
Kekasih, ini lebih dari doa langit kepada bumi
Juga hujan dan bauh tanah
Penfui, 08 November 2020
0 Komentar