Header Ads Widget

Putih

    foto doc. penulis
                                                              

 Malam semakin larut bersama lampu kelap-kelip yang tertiup angin sepoi-sepoi di depan bale-bale itu ditambah lagi dengan  langit yang cerah dengan bulan di atasnya yang berpura-pura malu berkecupan dengan segumpal awan putih yang tak sengaja melintasi atap rumah tua itu. Paduan suara para jengkrik dan katak-katak yang  merindukan hujan, bersenandung semakin keras di ruas-ruas jalan. Enjel tetap saja bersih keras tak memudarkan semangatnya pergi ke Tenda Biru karena pelanggan sudah menunggu . Mewangi rambut hitam yang kini ia pirangkan serta sepatu emas yang di hadiahkan oleh Pak Sumardi, sudah menjadi teman setia menuju Tenda Biru dikala malam semakin kelam . “Kamu mau kemana nak?” Tanya Janda tua itu. “Ke rumah Sinta. Kemarin dia ulang tahun, aku diundang kerumahnya.  Aku pulang kayaknya agak pagian.”  jawab wanita itu. Wangi parfum menyengat ke seluruh ruang tamu ketika langkahnya meninggalkan rumah. Maisah baru ingat, malam minggu adalah malam panjang baginya. Lagi-lagi Maisah termenung sejenak, mengingat anak semata wayangnya yang Ia jaga selama ini.   

Sesampai di sana, pintu terbuka lebar. Ia mencakar pinggang dan memamerkan halusnya belahan dada dan pernak-pernik yang ia kenakan lalu, para penjaga dengan gesit berlarian menghampirinya, “non, su..suu..sudah di tunggu dari tadi," sambil tersenyum dan mengelus-eluskan tangan . Seperti biasanya ada maksud dari semangat yang mereka tunjukkan, selembar uang biru selalu saja menjadi rebutan para penjaga dan pemenang akan menjadi pengarah di mana tamu yang sudah mempersiapkan diri untuk berperang . Ternyata yang menunggu adalah anak buah pak Sumardi “cepat sekali kamu datang bukannya ini sudah jam satu, bos sudah lama menunggu di kamar,“ katanya kepada Enjel sambil menggeleng-gelengkan kepala. Demikian Enjel hanya berhenti sebentar dan berjalan menuju lantai dua karena Sumardi mungkin geram dan tak sabaran . 

Ketukan halus terdengar oleh batang telinga konglomerat itu. Suasana kamar tak seperti biasanya, yang sedikit mengepul oleh asap rokok dan serakan botol bir di atas meja berbentuk lingkaran itu, dan kini hanya menjadi bayangan semata saat kamar itu tertata rapi dengan beberapa bantal guling dan selimut berwarna putih. Persis seperti kamar pengantin baru dengan bunga-bunga di sekeliling cermin tua itu. “Kamu sudah datang?“ tanyanya sambil tersenyum. Enjel hanya tersenyum dan melemparkan tas ke meja berbentuk bulat itu dan berkata “sudahlah, apa lagi yang kau tunggu. Bukannya kau sudah geram?“ keduanya tertawa lepas. 

Dalam keadaan waras, pria itu langsung menerjang dan menarik leher merahnya dan dilanjutkan dengan tangan yang menjalar ke dalam rok si gadis itu,  sedikit demi sedikit menghembuskan nafas ke daun telinga yang dihiasi anting emas dan berlian di tengahnya, laksana lidah petir yang menjilati dedaunan cemara di luar sana. Sepatu emas yang ia kenakan terlempar bersamanya ke atas ranjang asmara yang membara.  Sumardi semakin membabi buta ketika menerkam kedua belahan dada yang terbungkus oleh kutang berwarna hitam kecoklatan yang baru kemarin sore wanita itu beli di tokoh Pak Sudirman. Kedua betisnya yang sehalus sutra semakin tak berdaya,  kedua lengan seputih kafan semakin terpisah jauh dan hanya kain sepray yang bisa ia cengkram sambil membuka lebar mulut yang di hiasi gigi putih berpagar besi itu, tapi gadis itu tak sedikit pun mengeluarkan suara karena itu hanya menambah keganasan Sumardi dalam setiap pertempuran. Semuanya berlalu dengan kehangatan. Suasana kamar tiba-tiba redam seperti  badai puting beliung yang pulang perlahan tanpa meninggalkan jejak di hamparan medan pertempuran. Kebiasaan baru Sumardi adalah membiarkan wanita itu mengambil sendiri  isi dompet yang ia tanggalkan di saku celana tepat di belakang pintu kamar lalu membiarkannya pergi begitu saja. Tenda Biru semakin ramai dikunjungi para Bos. Langkah Anjel mengayun ke sana-sini menapaki tangga tua itu. “Sudah selesai ya, pertempurannya?” Tanya anak buah Sumardi. “Bossmu sedang melemah, tolong bantu dia ke mobil. Aku tak mau Dia pulang ke rumah dengan keadaan koyak dan kusut seperti itu, biarkan anak istrinya tersenyum melihat dia datang ke rumahnya dengan bahagia” Jelas Enjel.

Di tengah perjalanan pulang,gadis usang itu terlihat berjalan sangat lemas dan lambat dengan puntung rokok yang menyala di tengah selipan jari manis dan jari tengahnya. Beberapa kancing baju kehilangan temannya . Tak peduli dingin yang mencengkram dan  menusuk-nusuk kulit putih langsatnya dan kabut malam yang hampir subuh semakin tebal di tambah lagi nyanyian katak yang amburadul. 

Sesampai di rumah, pintu kamar terkunci dan Enjel tak pusing-pusing menggedornya. “Bu, cepat buka pintunyaaaaa!“ berulang-ulang dan bernada sedikit kasar. Maisah  kaget mendengarnya bercampur aduk antara senang  dan gelisah sambil tergesa-gesa melipat sajadah dan berlari menuju pintu, “Sabar nak, ibu baru selesai sholat”. Pintu lalu terbuka dan kerudung janda tua itu terlihat bersinar binar, layaknya Ibu Musa yang memancarkan sinar wajahnya di depan pintu surga. Pintu rumah terbuka semakin lebar begitu pun senyum Maisah, yang meskipun dia tahu bahwa anak semata wayangnya baru pulang bersenang-senang di luar sana. Dia hanya bisa memastikan bahwa, gadisnya masih benar-benar gadis layaknya gadis-gadis para anak tetangga mereka. 

Maisah  adalah seorang  janda yang ditinggalkan suaminya ketika ia mengandung gadis usang itu dua puluh satu tahun yang lalu. Maisah memulai hidupnya seorang diri dan  menanggung beban perut yang semakin membesar. Belum lagi lilitan hutang yang belum terbayarkan dari sisa hutang suaminya yang bekerja sebagai salah satu penjudi berat di masa itu . Salah satu teman dari suaminya yang bernama Sukito yang berasal dari kampung sebelah dan juga berlabel seorang penjudi kelas kakap, hampir setiap minggu ia mendatangi rumah mereka. Sesekali melirik Enjel dengan tatapan panas yang menggelegar. Halusinasi bejat menguasai pikiran busuknya, tapi itu hanya bayangan Sukito yang binal.  Maisah hanya bisa mencicil hutang itu dengan menjual beberapa perabot rumah, bahkan cincin kawin pun Ia gadaikan agar terlepas dari semuanya. Tetapi hal bodoh itu hanya bisa menebus beberapa sekian persen dari keseluruhan hutang yang di tinggalkan suaminya. 

Enjel  langsung  menuju kamar tanpa melepaskan sepatu emasnya dan tak sepatah katapun terlontar untuk Ia menyapa seorang Maisah. Maisah hanya berkata dalam hati, “Ya Allah, tolong jaga anakku putih“ sambil mengembuskan nafas dan menenteng sajadah yang Ia peroleh dari pembagian alat sholat di mesjid kampung sebelah. Enjel yang terlihat lemas membantingkan diri ke kasur, setelah tenaga terkuras dengan melewati pergulatan hebat dengan si pria berdarah betawi itu . 

Hari-hari berlalu seiring dengan kebiasaan yang di lakukan gadis itu, Ia tak lagi melihat batang hidung Sumardi dan sedikit bertanya tentang dirinya “Di mana lelaki tua itu, aku seperti merindukan isi dompetnya,“  sambil tertawa dan mengeluarkan bulatan-bulatan asap rokok yang keluar dari bibir tipisnya. Entah siapa yang akan menggantikannya . 

Malam minggu kembali datang dengan segerombolan titik-titik air yang jatuh dari langit gelap yang berhasil membasahi ubun-ubun gadis itu dan perlahan menghentikan nyanyian para jengkrik, dan mengharuskan Enjel berlari menuju rumah hiburan. Rambut berantakan, lipstick tebalnya berlepotan ketika tisu yang Ia usapkan menggangu bibir manisnya yang berwarna merah maron itu. Para penjaga TB banyak yang pulang kampung karena malam minggu ke tiga adalah malam jumpa bagi istri dan anak-anak mereka. Di sudut-sudut tembok yang dingin pekat, beberapa lelaki hidung belang yang berhasrat kuda padang mendekatinya sambil melayangkan tangan ke isi bokong wanita itu dan berkata, “hai nonnn, kehujanan yahh? sini aku hangatin“ Sambil tertawa dan mengepulkan asap rokok ke rambut pirangnya yang masih lembap. “ Ihhhhhh,,,apaann sihh“ katanya kepada cukung-cukung konyol itu.

Para lelaki itu tetap saja tak berhenti mengganggunya apalagi didukung dengan keramaian yang semakin susut dan surut, begitupun isi dompet mereka yang sudah terkuras oleh oplosan-oplosan yang mereka reguk sebelum gadis itu datang. Salah satu dari mereka menarik rambut pirangnya dan meringkus kedua tangan gadis itu sambil merayu Enjel untuk mengikuti mereka tetapi Enjel tetap saja memberikan perlawanan dengan meludahi mata dan mengayunkan tas miliknya ke wajah pria itu. “Bangsattttt, kejar wanita jalang itu!“ katanya. Enjel berlari sekencang mungkin tanpa meninggalkan sepatu kesayangannya tetapi, cukung-cukung itu terus mengejar gadis berambut pirang itu dengan menenteng beberapa botol birr dan juga vodka . 

Dalam ketegangan itu, Enjel tiba-tiba menemukan sebuah lorong buntu yang begitu gelap dan tak ada jalan lain selain memasuki lorong yang sedikitpun tanpa cahaya itu. Enjel merasa semakin gugup yang berada di dalam kegelapan. Tikus-tikus got yang masih basah dan berbulu tebal, tak sengaja menabrak jempol kakinya dan kecoak-kecoak berkumis panjang dan sedikit tajam berhasil memeluk dan memanjati  betis halusnya. “Aaaahhhhhhh,“ teriak Enjel, yang kemudian terpantul-pantul oleh dinding-dinding lorong gelap itu . 

Enjel semakin merasa terkurung. Dalam keadaan tak sadar Ia meneteskan air mata lalu berkata dalam hati, “ibuuu, tolong aku.“ 

Tiba-tiba teriakan mereka membuat kaget semua penghuni lorong, kecoak-kecoak berlarian mencari lubang-lubang persembunyian dan tikus-tikus secepat kilat mengamankan diri seperti kehilangan kendali sambil menabrak-nabrak kaleng bekas yang berserakan di lorong gelap itu.  “Heiiii wanita jalanggg, kami sudah datang untuk menyelamatkanmu. Keluarlah dari situ anggap saja ini pemanasan hahahahaha..“  kata seseorang diantara mereka. Lalu gadis itu keluar dengan langkah penuh ketakutan dan tubuh gemetaran. dalam hati berkata, “Mungkin ini akhir dari hidupku“. Teriakan keras dari mulut lorong itu tiba-tiba terdengar “heeiiii kalian, jangan sentuh wanita itu!”. Ternyata sejak tadi seseorang telah mengikuti mereka dari belakang. Dimas, sahabat Enjel. Salah satu dari mereka dengan sigap berkata, “Oh, ternyata pahlawan kesiangan sudah datang, jadi kami tidak susah-susah mencari kau lagi. Sukito telah membawa lari jutaan uang hasil curian kami dan pagi ini kau harus membayarnya."

“Hahh..itu urusan kalian dengan ayahku, jadi sekarang lepaskan putih dari sini.” tandas Dimas. Tiba-tiba terdengar sirene dari kejauhan. 

“Pergilah kalian, sebelum polisi itu datang,” perintah Dimas.

 “Bangsat…kalian akan tahu akibatnya, urusan kita belum selesai di sini dan peringatkan ayahmu itu agar jangan kami temui.” ancamnya. 

Dimas dan Enjel yang tak biasa disapa Putih itu langsung dihantar kerumah menggunakan mobil dari kepolisian. Maisah sudah lama menunggu anaknya, Putih. 

“Kalian darimana saja, Ibu khawatir setengah mati,” kata wanita tua itu. “Teman-teman bapak hampir saja melukai Putih Bu, untung saja aku mengikuti mereka dari belakang,” Jelasnya. 

“Pantas saja, dari tadi Ibu perasaannya tidak enak. Terimakasih ya, Allah, Engkau masih mendengarkan doaku,” seru Maisah disambung oleh Putih 

“Buuu, maafkan Putih yang selama ini telah membuat Ibu susah, maukah Ibu memaafkan Putih?”

“Sebelum kamu meminta maaf, Ibu sudah memaafkan kamu nak, kamu anak Ibu satu-satunya, kamu titipan Ayahmu nak.” Wanita Tua itu dan air matapun mengalir di pipinya. Kini semuanya berubah menjadi kebahagiaan, kenakalan Enjel yang dulu berubah menjadi keyakinan, bahwa hidup bukan hanya tentang kesenangan di luar sana tetapi juga untuk merapikan diri dan batin, agar kelak menjadi seorang ibu yang dicontohi anak-anak di masa yang akan datang. 

SEKIAN


Bayu Lexa, mahasiswa FKIp Undana, aktivis PMKRI Kupang. Penikmat sastra dan musik.

Posting Komentar

0 Komentar