Header Ads Widget

Dari Kupang sampai Lembata


2020, pada sebuah tempat di Indonesia, ya Indonesia negara yang merdeka 75 tahun lalu atas desakan anak muda. Memanfaatkan kekosongan kekuasaan, yang mana apabila diibaratkan seperti seorang pria menculik pujaan hatinya yang disekap, ketika para perampok itu sedang tidak mengawasi. 

75 tahun kira-kira usia opa 25 tahun waktu itu, bisa dibayangkan waktu itu ia adalah seorang pria tampan yang sedang jatuh hati pada Oma, mengintai perempuan itu di antara ilalang, atau mungkin dengan dada terbuka menggali ubi di hutan lalu turun ke sungai kecil di kaki bukit kecil merendam tubuhnya. Rambut panjang jatuh terurai, lalu dengan cepat disanggul kembali. Betapa cantiknya perempuan itu dengan segala kealamiannya. Naik kembali mengisi air di hau sebuah wadah dari bambu lalu dengan kaki telanjang melintas hamparan Sabana dan pohon-pohon tua, melewati kali mati dengan langkah hati-hati memikul Hau. Lalu kau masih bilang perempuan itu makhluk lemah? Lihatlah bagaimana nenek tak hanya menakluk hati tetapi juga gunung dan bukit. 

Aku tidak sedang membandingkan kisah manusia kampung itu dengan Kartini atau Dewi Sartika. tetapi sama seperti kau menyebut ayah dan ibumu adalah pahlawan lalu seorang lain akan membantah tidak semua ayah dan ibu adalah pahlawan, sebab mana mungkin seorang pahlawan menjual anaknya, mencabuli anaknya, menggugurkan anaknya, atau membuangnya.

Sekarang kembali perihal usia opa semua ini hanya kemungkinan sebab usia opa bisa lebih dari itu, siapa yang menulis tanggal kelahiran mereka? Sama seperti tanggal kelahiran kami yang begitu saja ditulis di belahan bambu, atau kayu, juga tiang penyangga yang ada di ebang. 

Syukur-syukur orang tua tak buta huruf, meski hanya menamatkan sekolah dasar. Bagi mereka sekolah dasar sudah sangat berarti, meskipun lagu Indonesia Raya harus membuat ayah akhirnya akrab dengan sakit dari sepotong ranting kesambi dan asam tetapi akhirnya ia bisa tahu ilmu bumi dengan sangat melekat persis nilai yang dilekatkan di pipi atau dahi untuk dibawa pulang sebab menulis di batu tulis adalah menulis di luar kepala, tulisan itu harus dihapus dan mau tidak mau mereka harus mengingatnya. Tak seperti aku dan anak-anak zamanku sudah ditulis di buku, dikasih buku dengan huruf yang indah-indah juga. 

Ibu bilang ia ke sekolah dengan sepotong wela Taran. Tetapi begitu bahagianya ia di antara anak-anak yang berbadan besar-besar itu, tak ada yang menyentuh atau melecehkan. Beda sama kalian sekarang semua tertutup rapi pula tetapi semakin banyak yang hamil di bangku sekolah. Zaman memang menghasilkan jenis manusia yang berbeda. Lalu ia akan berkata bangga setidaknya hanya SD dan aku mengetahui Puisi dan rumus-rumus segitiga dan persegi itu. Lalu kau seharusnya lebih dari itu.

Lupakan ayah dan ibuku, atau kau memang penasaran dengan kisah cinta mereka? 

Sekarang kau bisa memastikan bagaimana lelaki yang kupanggil Opa itu menjadi tua dan uban rambutnya, memberi makan anak-anak babi sambil berharap hujan segara datang. Sudah Oktober tetapi begitulah sudah lama ia berdamai dengan kekeringan. Kau juga bisa membayangkan bagaimana ia berjalan pulang saat azan magrib berkumandang sambil membayangkan istrinya, perempuan yang menurut ibuku begitu cerewet tetapi amat penyayang. Tetapi kau jangan percaya dulu, mungkin ibuku hanya merasa tak boleh berkata buruk tentang mertuanya. Mertua dan menantu serasa hantu yang saling menakut-nakuti, sebuah legenda kuno.


Sekarang kau berhenti membayangkan lelaki dan perempuan tua itu. Bayangkan seorang perempuan yang mewariskan lidah neneknya dan otot kakeknya sedang membela laut antara kota Kupang dan Lewoleba. Deri mesin Kapal Feri bertarung angin laut dan puisi-puisi berenang di ujung imajinasi.  

Di batas pandang, gunung membentang, dada berkecamuk, apa yang akan di bawah pulang untuk pahlawan di kampung itu. Dielus pelan perut buntingnya, sambil berbisik pada hawa pagi pelabuhan, "tak ada kemerdekaan selama kau dan aku belum merdeka."

Melewati jembatan kayu yang berderit, kerutan di dahinya menguap, sepenggal puisi berjalan tegap. Ini bukan lagi tentang mereka tetapi aku. 
         
 Bale

Sajak ini bukan kutuk
Hanya kata yang terantuk
Tebatuk-batuk
Dalam kantuk
Mengetuk
Jejak
Zaman yang beranjak

Dari Kupang sampai Lembata


Kupang, Oktober 2020



Catatan
Hau: wadah air dari bambu
Ebang: lumbung, selain sebagai lumbung ebang juga merupakan rumah adat orang Kedang
Wela Taran: sarung tenun

Posting Komentar

0 Komentar