Header Ads Widget

21 Musim di Langit Lembata


Berlari di pasir-pasir desir kasihmu
Menyelam dalam kelammu
Tetati-tatih di lemba-lemba lebammu
Terantuk-antuk menuju pucuk-pucukmu

Lembata, bentangan sejarah lukisan darah
Lembayung senja mata Ina
Terbata-bata aku memanggilmu
Tanah purba Kwela

Laut-laut berpaut di mata ino
Lentik dan antik teluk memeluk pelupuk
Nuhanera, bahtera yang terdampar 
Di hamparan eucaliptus

Lembata, Lepan Batan 
21 musim menyusui isu
Serupa meneguk tuak yang menetes 
Dari waktu yang tegap batang lontar

Taan tou
One ude laleng ude
Kedang hingga garis Wulandoni 
Mari bergandeng

Luku Atatadei, luka dan duka sudahi
Pasir putih surga Nagawutung
Harusnya tanah kita negeri keberuntungan
Sejuk di bawah teduh payudara Ema

21 musim ikrar merdeka 
Semestinya tak lagi sumpa atas serakah kuasa
Di lingkaran kwatek dan nowing 
Dalam gemohing dan mohing

Lembata
Pesona tak terbantah
Tak perlu kita membantai dalam kata-kata
Lembata, lembar baru puisiku merindu 

Kupang, 12 Oktober 2020


Lembata

Ema, itukah kau mata antik yang berdarah dirampok oligarki
Maafkan aku dan puisi
Yang sial ini

Dirgahayu Lembata, seluruh kata tertumpah atasmu. Subur dan luhur dalam tutur pantang luntur.



Posting Komentar

0 Komentar