Header Ads Widget

Panggung Kosong

    foto: dok. IKPESTRA

Aku pelacur panggung
Pantang canggung
Berjalan setengah telanjang
Dalam orasi bugil, dada hampa meraung
Menyisir gelap keputusan yang curang

Sekarat di balik sepotong kutang
Suara gerimis dendam menggenang
Seluruh tubuhku adalah coretan panjang
Skenario omong kosong

Kemarilah dan saksikanlah
Jejak-jejak para bangsat
Yang terkapar 
Dengan desah hasrat kuasa
Yang haus dan kelaparan 
Seusai menggoyang dadu persekongkolan
Selepas bersenggama di ranjang pengusaha

Sekujur tubuh dekil menggigil 
Terlempar ke sudut sunyi
Keringat mengkristal menghujani tanah
Tepuk tangan bergentayang
Arena bisu menjelma panggung komedi
Wajah-wajah penonton munafik menapik pedih

Aku tertawa
Terus tertawa
Mengutuk-ngutuk kelaminku
Sembari membetulkan pembalut
Kucaci maki habis-habisan
Serupa sumpah serapah kepada sampah Senayan
Sial
Aku menstruasi di negeri yang salah

Lidah gemetaran
Menangis mengais kasih
Di sebuah tanah rimbun jeritan
Berlipat penderitaan dalam teduh payudara

Tangan-tangan berlomba
Mencabik-cabik tubuhku
Noda-noda kecup menjalar di setiap lekuk
Setiap malam satu janji merenggut selangkanganku
Ratusan mata  berdarah di depan cermin hukum
Aku gemetaran terbakar birahi
Bagai setumpuk penolakan
Yang menjelmah pemberontakan

Diam-diam!
Ah, bising.

Kau diam sedikit!
Tak bisa anjing?
Jiwa pesakitanku
Sedang melayat keadilan
Meratapi bangkai-bangkai penjilat
Memadahkan kidung kabung
Beristirahatlah dalam damai demokrasi

Lihat ke sini!
Kau yang berpaling 
Ya, kau yang itu
Melirik isi kutangku

Tak lagi ada tepuk tangan
Pasal-pasal menikam selangkang
Aku gemetaran sebelum sandiwara mencapai klimaks

Kupang, 07 Oktober 2020


Doa Sepotong Daging

Tuhan
Berapa puisi mesti mengetuk
Agar segalah kutuk
Berguguran

Tidakkah engkau lihat
Segalah tubuh adalah kuburan
Serta lidah nisan batu
Tajam menancap dada

Kupang, 07 Oktober 2020


Kabar untuk Kekasih

Sayang, malam lebih panjang
Serupa dongeng jalang yang disenandung
Sudah pecah pula tempurung tuak
Sisa rindu yang tak usai mengetuk

Ama, sudah sunyi anak batu dan tungku
Asing dalam genggaman tangan kaku
Bibir hambar kabar noda siri pinang
Bagai menimang jarak dalam pandang

Rinduku tertatih di jendela kamar
Raut bayang berpaut selimut dan kasur
Mencintaimu adalah kebebasan yang hambar
Merontah dalam peradaban yang kabur

Kapan setetes tuak tumpah di bibir?
Kabarkan padaku apa sudah hilang debar
Seumpama asap dari dapur
Sekejam inikah, mencintaimu dengan kemerdekaan yang puber?

Kupang, 07 Oktober 2020




Posting Komentar

0 Komentar