Kini aku bangun dan melucuti segalah pakaianku. Dengan berdarah-darah aku menulis rasa cintaku. Kelahiran telah menjadi cawan yang menumpahkan anggur dalam perjamuan kecewa.
Diketuk-ketuk segala kutuk di atas helaian rambut, juga buah dada yang belum nampak. Ada pintu di tubuhku, tempat nyawa berpaut juga maut.
Anak Tangga
Dua menara di pahat menuju langit
Di lembah dan ngarai mengalir mata air
Tempat cinta memancar
Satu noda darah di celana
Menumbuhkan satu kepala
Karena itu surga disimpan di telapak kaki
Jendela
Sungguh sangat kejam jika tidak kamu biarkan satu jendela di sini, sangkamu tubuh ini apa?
Di kepala itu angin mencuri jalan pembebasan.
Jangan main-main ia bisa menjadi badai.
Rumah Segala Rumah
Ingin kudirikan sebuah rumah di bola mataku, yang diisi jiwa-jiwa sunyi yang sering kau jadikan canda.
Biarlah mereka memeluk pucuk cempaka di dada telanjangnya dengan senyum.
Di halamannya kutanami lidah api yang membaca rahasia kecantikan juga selangkang.
Ia akan menjadi perteduhan paling damai otot-otot tubuh dan urat nadi yang telah jadi pedang pembunuh ketakutan.
Ingin kudirikan rumah dengan cinta adalah dasarnya dan kemanusiaan adalah tiang-tiangnya.
Ingin kudirikan rumah itu di sini
di dada setiap perempuan.
Penfui, 10 November 2020

0 Komentar