Header Ads Widget

Bulan di Belahan Dada Ibu

   
Merayu-rayu pucuk kayu
Cahaya membidik payudara layu
Dirabah-rabah usuk tulang
Sudah hilang dibawah berlari maling

Orang-orang kampung
Menampung cemas
Antara hujan pertama dan tanah
Nyanyian ladang dan kandang babi

Kota telah jadi penjara larah
Kering menerjang lahan gundah
Menjerat jiwa-jiwa hampa
Mengubur dendam di kelopak mata

Mendaki Lelaki

Pijak, pijaklah kuat-kuat
Jangan sampai lembut menjadi licin lumut
Di bahu-bahu kekar itu air mata bertengger
Berkelakar luka di lekuk bibir
Mendesir risau di kelok nadi

Siapakah engaku perempuan?
Yang mebentengi diri dengan sunyi
Melepas kasut dan pembalut
Berteriak dalam riak dengki
Sungguh lelaki ada hati
Dan tak mati 
bila harus menetes pedih 
Di ujung alis

Dusta apa lagi yang memagari ego?
Sebab bohong aku tidak merindukan 
Damai yang disajikan jemarimu
Juga hangat sperma yang dituang dari kepalamu

Dengan kaki yang tegar
Izinkan aku menyusuri pedang pandang sepadan bersanding
Yang ditancap pada lidahmu
Lalu tenggelam dalam kedalaman dadamu.

Sudah waktunya
Membacamu dengan jarak 
Dua bibir yang mematuk.

Belum Padam

Kekasihku, mungkin sudah lelah kita menghitung purnama yang ranum di batas laut. Engkau mendesah bosan, sementara aku bisa apa, selain menyimpan lebam dalam doa malam. Menyeret kaki menuju peristirahan bernama yakin. 

Ada rindu menjelma amarah. Sungguh malang mendapati tubuh tanpa jiwa, hampa disiram peluk yang tak kunjung sampai. 

Sungguh mencintaimu dengan jarak serupa cita-cita bangsa dan realitas, sungguh menyiksa. Bukan hanya perkara anggran tetapi cemburu yang memburu serasa kejam dewan yang memejam mata.

Tetapi belum padam, dan tak padam-padam juga ia berkobar-kobar membakar malam dan pagi. Selamanya tak padam, mekar memancar syair juang, kita adalah sepasang buah dada yang menyelami belahan dada menuju revolusi dan rindu yang masih jadi tabu.

Kupang, 22 November 2020




Posting Komentar

2 Komentar