Header Ads Widget

Lelaki yang Belum Mati

Surat-Surat Sekarat


Ia menghilang semalam lalu bertandang dalam sepucuk surat. Angin ramai bekejaran di luar jendela. Matahari masih sama angkuh merengku langkah yang kaku. 
***
Izinkan aku menyapamu meski tanpa tatap dan kepala yang merapat. Meski dalam hampa lagi papa. Meski dalam kedalaman yang tak mampu kau dalami.

Kekasih, sebenarnya aku ingin kita berpelukan. Menyatukan setiap debar kecemasan anak-anak kecil yang berpayung matahari dan bermantel debu. 

Aku menginginkanmu, menginginkan nafsu perlawananmu yang menolak padam. Jalan kian terjal jangan sampai sesal sebelum ajal, sebab tak mampu kita rangkul akal para penyangkal.

Aku mencintai bibirmu, bibir yang menyatu dengan bibirku menolak takluk pada mahluk yang lihai menjatuhkan. Aku mencintai dadamu, dada yang merangkul setiap air mata yang berceceran di tanah berbatu.

Aku tak bisa sendiri, aku lelaki yang punya kaki namun mati jika tak mampu merawat hati. Keberanian ini milik kita. Milik kita yang mau sehati berorasi bagi kaum berdasi yang dicekik polusi ilusi bercinta bersama rupiah di kursi.

Aku tahu, tiada berarti suara ini jika tak mampu menyelipkan revolusi di selangkangmu, jika tak mampu menempatkan demokrasi di antara belahan dadamu. 

Setiap saat di antara gemuruh musim dan hempasan nafas aku ingin kita tertawa, lalu membagikan tawa itu kepada bocah-bocah yang ditawan zaman.  Mereka yang jauh terpencil lagi dikucilkan, yang kecil lagi besar bermimpi, yang berdamai dengan ilalang dan karang, yang setia pada langit dan sakit, yang merindukan purnama menerbitkan namanya dalam sebuah halaman sejarah di atas tanah yang mengubur darah.

Setiap saat dalam hening yang berkunjung, aku ingin mata kita saling mengunci, menatap luka yang subur di pelupuk mata manusia sebuah bangsa yang dipupuk rezim yang menindas dengan surat izin.

Kekasih, aku ingin sekali melihat bagaimana jemari kita megait dalam ikatan perjuangan. Jangan bunuh sebuah harapan atas dasar adam yang telah menumbuh dendam. 
Kalau kamu mau, mari kita bersama menumpas belantara asmara ini dengan kecup-kecup hangat pengetahuan. Sebab perlu kamu ketahui rahasia lain lelaki ialah hati. Tak mudah menyulapnya menjadi sosok daging yang sesuai untuk bersanding, kau perlu bertanding akal dan keliatan agar tak menjadi jinak lalu diinjak.

Kekasih, setiap saat dunia menawarkan ribuan suara atas rahimmu. 
"Kau harus merdeka," teriak mereka.
"Kau harus maju," yang lain menimpali. Demikianlah  kadang suara-suara itu yang menjajahmu. Tetapi kamu, berjalanlah! 

Aku laki-laki. Tidak menonjol karena simbol dan semboyan jiwa laki. Sama sepertimu kita sama-sama tak mati karena hati.

Kamu mungkin lelah dengan semua kata-kata ini, asal jangan lelah mencintaiku.

                         ***

Setelah melumat habis setiap spasi dan baris, aku memutuskan membunuh kepalaku. Hingga mampus menebus sesal. 
Sudah berapa lama waktu yang dibuang?
Sekarang tak ada lagi yang lebih baik untuk dikerjakan, selain membaca, menulis dan mencintai.


Rumah hati, 2020

Posting Komentar

0 Komentar