Begitulah akhirnya kita memutuskan untuk memberi jarak pada mata kita. Matahari yang bergelayut di punggungmu pelan-pelan menjadi samar. Tetapi kita selalu merasakah panas dan gairah yang membakar, menghanguskan ingatan. Bibirmu gemetar tanpa kata. Sesungguhnya aku mengerti luka yang membisu di sana. Ingin kutarik tubuhmu, membenamkan kepalaku di sana, dan mematikan detak jam tanganmu.
Begitulah akhirnya tanganmu yang tenggelam di rambutku meninggalkan bekas cakar di dadaku. Engkau masih seperti biasa dengan sedikit canggung menyentuh helaian rambutku dan aku tahu setiap pisau menjalar di sana. Jari-jarimu selalu mengingatkan cengkraman yang mematahkan. Kita pernah di sana menulis dengan dua tangan menyatuh.
Selalu ada yang pergi. Dan setiap kali kita bertemu, selalu ada yang hilang. Aku belajar memafkan rasa sakit, engkau belajar mengakrabi kecerobohanmu. Tetapi kita tidak benar musnah. Setiap kali bibirmu bergetar, kita terbangun. Semuanya mungkin harus dibayar seumur hidup. Engkau percaya pada takdir atau pada sesuatu yang engkau rancang sendiri?
selalu ada yang lepas. Aku mungkin memutuskan beberapa tempat yang tidak akan aku kunjungi lagi dalam hidupku. Aku mungkin akan mencari beberapa keindahan di sudut bumi untuk memastikan bahwa tidak ada yang terjadi padaku. Aku mungkin akan membayar beberapa perjalan dengan harga yang mahal untuk membeli kembali kesehatan jiwaku. Untuk waktu yang lama tidak mudah mencintai cara baru mencintaimu.
***
Setiap memori adalah puisi
kita menjelajahi setiap fase sebagai diksi
meski selalu gagal mengusir sepi
dalam riuh kenangan yang reuni
wajah-wajah lain menempati hati
tidak peduli
bagaimana ingatan orang lain menelantarkan kita
Potongan-potongan gambar berselancar
tahun-tahun yang diisi musim hujan dan rindu yang samar
binatang-binatang dari dongeng masa kecil melebur membaur
kapur tulis dan sebila bambu di tangan guru sekolah dasar
Lain hari ketika kita duduk di dekat jendela
dan menonton matahari yang senja
semuanya hidup kembali,
jiwa muda yang erupsi tak terkendali.
menyadari, bahwa tubuh kita pun berpaling dan pergi
setiap kecantikan hidup dalam kerut kulit dan nadi
sebagai keindahan yang abadi
bahkan kita tidak sempat mengucapkan selamat tinggal
pada sehelai rambut yang memutih esok pagi
dan ketika engkau melihat tubuhmu dicermin
semuanya tampak mengagumkan
kita adalah kalkulasi dari keputusan-keputusan
Penfui, Mei 2023
Ati D., Perempuan yang mencintaimu dalam puisi paling sakit sekalipun.

0 Komentar