Header Ads Widget

Membaca waktu

Jejak Purba




Aku mencintaimu karena kau berani
Bukan karena merah lipstikmu
Atau air rambutmu
Sebab sudah berpuluh-puluh tahun
Kau dimanupulasi
Dan dieksploitasi
Teruslah bersuara
Dan aku siap membelahmu
Hanya saja jangan berjuang
Untuk menuai pujian
Kemajuan pikiranmu kiranya
Harus sejalan dengan kerendahan hati
Agar kau tak mati, kekasih.

Kalau kau lapar kunya saja aksara, demikianlah cara yang baik dan benar bagi orang miskin yang bahagia dengan kemiskinannya. Menjadi salah satu dari golongan itu aku menulis penggalan kata-kata itu. Mengapa harus perempuan, aku tidak mengerti  mungkin karena seorang dari kaum itu sedang merampok hatiku. Bagaimana jadinya lelaki tanpa perempuan? Atau pertanyaan lain apa jadinya penis tanpa vagina? Aku merenung sendiri, pertanyaan seperti apa ini. mungkin ini pagi dan testosteronku sedang merontah-rontah. Sudahlah aku pikir  yang lebih terkesan terpelajar dan kuat literasi sebaiknya aku berpikir apa jadinya deklarasi kemerdekaan Amerika tahun 1776 yang hanya menyebut nama laki-laki all men are createtd aqual (semua laki-laki diciptakan sama) tidak menuai perlawanan.  Ini kurang menolong juga sebab bau politik seperti ini hanya membawa aku tersesat pada politik penuh siasat sesat di negeri ini.


Mei cukup melelahkan dengan wabah yang tak pernah minggat meski diberi aba-aba. Dan akan datang waktu pada suatu hari berapa tahun kemudians itu ini akan jadi cerita, bagaimana kita pernah melawan corona dengan rebahan.  Kota masih jadi penjara rindu yang entah kapan akan meloloskan salah satu tahanan pada kamar jeruji hijau ini. Hari-hari begini ketika semalam berdiskusi perihal kepedulian aparat daerah dengan para perantauan biasanya aku akan bangun pagi sambil berharap keajaiban bekerja. 
"Ema eee...," masih malas di atas ranjang yang semalam mencatat mimpi basahku aku menarik badan. Ah, bahkan tidur bangun di negeri ini saja rasanya melelahkan.

Selamat pagi Fio

Safio namaku, ibu memanggil putra bungsunya ini dengan nama Fio, entahlah setiap kali disapa dengan nama itu aku selalu merasa penuh cinta dan seorang lelaki kecil yang selalulu dicintai. Dan pesan ini sungguh membuat aku merasa terberkati dengan cinta. Begitulah percaya atau tidak aku jatuh cinta dengan pesan singkat ini setiap pagi. Perempuan, mereka ajaib selalu memberi kejutan-kejutan kecil yang sulit kau tebak. Mereka adalah kamus yang sarat makna dan penuh ambigu. Rahasia keindahan semesta ada pada diri mereka tetapi aku masih cukup heran mengapa aku bahkan sebagian besar adam-adam masih sengaja menjadi belati yang menikam hati mereka. 

Aku menatap dinding kamar yang setia mencatat keluh kesahku selama ini, Mei ke-23 izinkan aku bekisah perihal salah satu dari kamus yang sedang kupelajari itu, sebuah rahasia purba. Di musim-musim begini aku pikir kamu seharusnya tak boleh banyak mengonsumsi berita yang merasuk dari media rakus. Kita butuh cinta dari sekian derita yang ditawarkan dan sepenggal cerita cinta untuk memuaskan dahaga setelah lantang berteriak sepanjang akun media social meski hasilnya selalu nihil.

Baiklah aku memulai dengan puisi sebab puisi adalah permulaan segalahnya, sama seperti kata yang menjelma daging dan tinggal di antara kerinduan ini.Aku menulis ini pada sebuah subuh untuk perempuan-perempuan yang setia berteriak, yang tak gentar mengkritisi, yang tetap rendah hati memantapkan hati dan langkah.

Gadis malam puisiku

Mahar gong yang berdendang keadilan
Yang membongkar rahasia penindasan tubuhnya
Yang merekam jejak juang pelacur kota
Yang setia menakluk gelobang zaman wato woko
Yang membangunkan subuhku
Dengan bertanya
Apa itu merdeka?

Siapakah kau kekasih?
Yang merampok mata penaku
Hingga malam-malam ingin kulukis jejakmu
Pada kanvas hati yang hampir menemui kematian ini

Aku jatuh cinta
Pada setiap gelora hasrat yang dikobarkan puisimu
Perempuan memang harus berani
Melawan segala bentuk tirani
Dan patriarki

Siapapun kau
Kau kekasihku.


Pelan kuteguk kopi pagi dan melepaskan asap rokok hingga beterbangan mencari kenyamanan di zona aman, di segalah sudut kamar lalu lenyap tanpa pamit. Hawa pagi yang mengelus manja memori mengantar aku pulang pada tanah ketuban. Larantuka dan kapela-kapela penuh cerita serta prosesi yang tak sempat dinikmati tahun ini. Bayangan ema merasuk sekujur tubuhku. Perempuan itu selalu cantik di usia yang kian lanjut.  Aroma rumpuh rampeh dan bau jeruk nipis dari dapur membuat rindu kian menggigil, memanggil nama ema dalam kalbu. Perempuan tua itu adalah rumah berpulang paling nyaman.

Semenjak kepergian ayah, aku menemukan rahasia lain dari tubuhnya. Rahasia kesabaran dan ketegaran seorang perempuan yang mandiri.  Aku sendiri  Bagai sebongkah batu apung yang dipermainkan duka. Sekali waktu meratap sendiri memberontak pada maut yang tak adil, pada ayah yang terlalu egois. Pergi terlalu cepat. Sekarang kuberitahu padamu rahasia lain lelaki, bahwa kami pun menangis. Jadi, kawan kau tak perlu merasa begitu cengeng atau manja hanya karena setitik hujan yang jatuh dari matamu. Air mata sesungguhnya milik manusia, bukan hanya perempuan.

Di hari-hari penuh kesepian itu aku menemukan seorang perempuan lain bukan ibuku, saudaraku atau siapa pun itu. Sebab pada dasarnya tiada yang sama. Kami berbicara banyak tentang isu gender aku bilang padanya 
"Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan laki-laki. Salah satu caranya adalah memperoleh hak atau peluang yang sama ataupun membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik."
"Jadi tidak untuk mengungguli atau membalas dendam?"
"Ya,"

Hari-hari selanjutnya tidak kubiarkan kesempatan itu berlalu. Melalui sepotong puisi aku memohon izin untuk menjadikannya kekasih. Tetapi ia memilih menjadi pacar puisi saja. 
"Saya mau jadi pacar ina bukan pacar puisi"
"Saya mau jadi pacar puisi saja
Oh, perempuan ini memang kepala batu dan aku tak mampu memaksa. 

Pada sebuah malam ia mengerim pesan padaku.
"fio"
"Ya"
"Almarhum Ayahmu seorang pengawas dinas pendidikan kecamatan?"
"Kamu tahu?"
"Benar sudah kau Safio yang itu"

Kau percaya kebetulan?
Mari kuceritakan satu dari sekian kebetulan itu, dari pada kau dengar omong kosong pejabatmu.

"Kedang", ketika aku menyebut nama ini mungkin terlalu asing untukmu tapi jangan takut sebab google sahabatmu itu cukup membantu. Ya, sebuah rumpun yang mendiami kaki bukit Uyelewun dengan bahasa yang berbeda dengan masyarakat Lamaholot yang mendiami pulau Lembata.  Aku pernah di sana, hidup sebagai pendatang pada sebuah kampung kecil di kaki bukit Uyelewun yang menyimpan sejarah dan mitos juga kisah kecilku menjadi anak seorang guru yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. 11 tahun waktu yang cukup kabur membaca kenangan kecil. Perempuan itu dengan lugu mengingat namaku.
" Namamu mengganggu benakku, Fio." Ungkapnya
"Kita pernah bertemu. Aku mengenalmu betul. Seora g lelaki gendut yang membaca puisi begitu berani. Yang menolak takluk ketika banyak mata yang menertawakannya. Kau Fio, lelaki di panggung hitam yang membacakan suara peledang lamafa, yang menyeruhkan sajak juang di tanah Lembata. Itu puisi yang kau baca aku yang menulisnya. Bahkan saat duduk di bangku kelas lima SD itu aku jatuh cinta padamu. Ya, waktu masih  kecil-kecil itu. Itu cinta pertama yang diam melekat dalam nama. Fio.

Pengakuan yang menambah debar, oh semesta rahasia apa yang kau sembunyikan dari detak jantung dan waktu ini.  kami pernah bertemu dan berjuang dalam nama puisi. Ayahku pasti sedang tertawa melihat sepasang bocah yang pernah diantarnya kemedan perang kini tengah melawan gelora cinta dan tembakan-tembakan rasa.. kali ini biarlah waktu dan puisi berkisah tentang kita.

Ini kali aku membaca puisinya lagi. Ada senyum simpul yag menyapa meski tanpa tatap. Aku seperti dibuang kembali ke masa purba itu. Gadis kecil di bangku kayu menahan debar puisi, bukan ketakutan akan waktu seperti sekarang terlebih bahwa semesta sedang mencatat irama jantung untuk menarik garis yang berpotong pada sebuah titiik. Lihat puisi telah menyatukan kita kembali. Awas kau hilang lagi, aku mengancamnya dalam bisu.


Aku terjebak rindu purba, bukan hanya itu tetapi pesona puisi yang ia tawarkan. Dengan hati-hati aku mengajaknya menikah lewat  sepenggal puisi. Kau silakan bilang betapagilanya aku.

Maukah Kamu Menikah denganku 


"Ina, puisi telah menjadi kelewang ayahku yang memotong rusukmu
Maka cinta telah menjadi mahar yang ditanam ayahku
Di kaki bukit Uyelewun.
izinkan aku membawahmu ke kapela
kita akan merayakan perjamuan cinta dalam segelas tuak

ia tak membalas puisiku, dibiarkanya begitu yatim. 

"kau pikir pernikahan itu perkara mudah? yang mapan dan mantap saja tak menjamin."
"kau tak memngerti sayang"
"siapa bilang aku tak mengerti kau yang tak mengerti."
"jika besok kematian menjemputku?"
"kau tak boleh mati."
"sudahlah, kau mau tidak menikah denganku?"
“Aku sudah memiliki kekasih”
“Jangan bilang Damian”
“Ya”

Begitu tololnya aku mencintai perempuan yang mencintai lelaki lain. Namun hati kecil tak mampu menolak ingin memilikinya. Sudahlah dia bilang padaku
"Kita masih muda, percayakan saja pada waktu"

Dibatas sadar ini
aku menulis ini untuk kau ketahui
Atas hujan yang kau pahat pada kemarau dadaku
Yang mengantungkan mendung pada mata
Atas embun sejuk menyapa hampa
Yang diculik matahari

Gadis malam puisiku
Yang tertawa di beranda senja kemarin
Bersama harapan yang merona pada langit kepalaku
Mungkin kita hanya terjebak cerita purba
Kau lupa rindu purba yang pernah kita ejah
Kau lupa waktu yang pernah menyatu

Setia yang digoreskan pada puisi hanya omong kosong
Sajak rindu yang dihembuskan subuh saat kita bersetubuh
Hanyalah hasrat penyesat
Kau tak ubah penguasa yang munafik 
Di atas panggung politisi

Dan kini ilusiku dibunuh  puisi, tapi aku tak berhenti membacamu perempuan.


Bersambung...




Posting Komentar

7 Komentar

  1. Balasan
    1. Makasih, jangan lupa ikuti terus kisahnya ya😍

      Hapus
  2. Menarik sekali cerirtanya kak😊

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar yang membakar tinta ini 😍

      Hapus